CATATAN Piala Dunia 2014: Menyingkap Kisruh Finansial Tim-Tim Afrika

Para pemain Afrika dijadikan sebagai kambing hitam atas kisruh finansial tim di Brasil 2014. Apakah mereka sepenuhnya bersalah atas kondisi ini?

OLEH PETER STAUNTON PENYUSUN SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
Menjadi sebuah keistimewaan tersendiri bagi setiap pemain untuk mewakili negara mereka di Piala Dunia. Namun, menjadi kewajiban pula bagi federasi sepakbola negara tersebut untuk memastikan semua pemain mereka merasa dihargai. Tiga tim asal benua Afrika, terutama para pemain mereka, mendapat citra yang buruk di Piala Dunia 2014 akibat isu bonus penampilan. Sangat buruk bahkan.
Ghana mengancam untuk mogok main di laga terakhir fase grup melawan Portugal, namun pada akhirnya batal setelah uang sebesar $3 juta diterbangkan langsung ke Brasil dan dibayarkan secara tunai kepada para pemain. Kamerun dilaporkan sempat menolak berangkat ke Brasil sampai jumlah uang bonus mereka dinaikkan. Sementara Nigeria menolak untuk berlatih sampai bonus kelolosan mereka ke babak 16 besar terbayar lunas.
“Uang, uang, dan uang. Uang sudah menjadi sebuah refrain bagi para pemain. Sungguh memalukan, mereka berupaya untuk merusak partispasi mereka sendiri di Piala Dunia,” tutur presiden federasi sepakbola Ghana Kwesi Nyantakyi kepada Daily Graphic pekan lalu.
Kondisi di atas memberikan potret bahwa para pesepakbola Afrika ini adalah jenis orang yang tamak. Sangat mudah untuk menyalahkan para pemain. Terlebih, beberapa pemain mereka melakukan aksi kurang terpuji seperti yang dilakukan Kevin-Prince Boateng dan Sulley Muntari sehingga keduanya diusir dari skuat Ghana menjelang laga terakhir grup. Namun, dalam wawancaranya dengan Bild, Boateng menumpahkan segala unek-uneknya terkait kisruh finansial di Piala Dunia ini.
Pahit | Kevin-Prince Boateng merasa sangat dikecewakan oleh federasi sepakbola Ghana.
“Benar-benar mimpi buruk dari hari pertama hingga hari terakhir. Saya tidak pernah berpikir mereka [federasi sepakbola Ghana] melakukan persiapan Piala Dunia ini dengan sangat buruk: hotel, penerbangan, semuanya dilakukan dengan cara amatiran. Penerbangan kami dari Miami ke Brasil membutuhkan 12 jam. Kami duduk di kelas ekonomi. Kaki kami sakit. Bagi seorang profesional, itu adalah sebuah penghinaan. Sementara, presiden kami duduk di kelas bisnis dengan istri dan kedua anaknya,” bebernya.
Bonus penampilan ini bukan hanya milik tim-tim Afrika ini saja. Semua tim yang berpartisipasi di Piala Dunia dijanjikan bonus oleh negaranya. Jerman mendapat €50 ribu per pemain usai menyingkirkan Aljazair pada Senin (30/6) lalu. Jika Di Mannschaft mampu menjadi juara, masing-masing dari mereka akan mendapatkan €300 ribu. Sementara Spanyol, yang tersingkir di fase grup, sempat dijanjikan akan diberi €720 ribu per kepala jika mampu mempertahankan trofi Piala Dunia.
FIFA sendiri menjamin akan memberi hadiah uang sebesar €25,5 juta bagi tim yang mampu menjuarai turnamen ini. Sementara bagi yang tersingkir dari fase grup tetap akan mendapatkan €5,8 juta plus tambahan uang partisipasi sebesar €1 juta. Akan tetapi, masalah datang bagi tim-tim Afrika ini ketika federasi sepakbola mereka tidak mengirimkan uang.
“Hal-hal semacam ini normalnya tuntas sebelum kompetisi dimulai. Saya tak bisa terus-terusan mengatakan kepada pemain bahwa uang akan segera datang,” ujar pelatih Ghana Kwesi Appiah. Pada akhirnya, presiden Ghana John Drahami Mahama, terpaksa turun tangan untuk mengatasi hal ini.
“Apa yang harus dilakukan di Piala Dunia mendatang adalah memastikan bahwa sudah ada kesepakatan antara pemain dan federasi sepakbola mereka seputar pembayaran bonus,” demikian yang dituturkan sekjen FIFA Jerome Valcke pekan lalu.
Pemain jadi kambing hitam? | Federasi sepakbola negara harusnya menjamin hak-hak pemain, termasuk bonus, sebelum turnamen dimulai.
Ini bukan pertama kali tim-tim Afrika bermasalah soal bonus. Nigeria pada 1998 dan Togo pada 2006 pernah mengalami hal serupa. “Di dalam tubuh federasi sepakbola kami, semua orang di sana hanya memikirkan kantong mereka sendiri,” tutur Emmanuel Adebayor pada 2012 silam.
Pemain Kamerun pernah mogok main di laga persahabatan melawan Aljazair pada 2011 karena tidak diberikannya bonus setelah mereka menjuarai LG Cup 2011. “Apakah uang yang telah diperjuangkan para pemain selama ini masuk ke dalam pundi-pundi uang federasi sepakbola Kamerun? Inilah yang kami pertanyakan,” ujar Samuel Eto’o pada Mei lalu.
Apa sebenarnya yang diperjuangkan Adebayor dan Eto’o untuk mendapatkan uang sebesar $10 ribu ini? Jumlah tersebut tentu sangat kecil bagi kedua pemain ini yang sudah kaya raya. Sayangnya, tidak semua pemain internasional di negara-negara Afrika itu bernasib seperti mereka berdua. Bagi para pemain yang bermain di liga Togo atau liga Kamerun, bonus penampilan di Piala Dunia bisa menjadi kesempatan terbaik mereka untuk mendapatkan uang. Dan memang seharusnya mereka diperlakukan dengan semestinya.
Federasi sepakbola di negara-negara Afrika ini pastinya memiliki uang. Salah seorang teman pernah bercerita, ketika dia berkunjung ke kantor salah satu federasi negara tersebut, dia menemukan ada setumpuk amplop berdebu berisikan uang yang belum dibayar kepada pemain.
Dalam beberapa tahun terakhir, Ghana dan Nigeria sempat kesulitan mendapat sponsor untuk meningkatkan kemampuan finansial mereka. Namun itu bukan alasan, karena FIFA sudah menjamin dibayarkannya uang terhadap setiap negara yang berpartisipasi di Piala Dunia.
Lupakan 2014 | Setelah kisruh bonus uang mencoreng partisipasi tim-tim Afrika di Brasil, kini mereka harus segera berbenah.
“FIFA tidak membayarkan uang itu sebelum kompetisi dimulai, melainkan setelah kompetisi selesai. Pemerintah atau pihak federasi sepakbola harus mencari uang untuk dibayarkan kepada pemain. Barulah setelah itu mereka mendapatkan ganti dari FIFA. Ketika ada penundaan pembayaran itulah muncul masalah ini,” jelas Kwesi Appiah.
Sebelumnya seusai Piala Dunia 2010, sempat terjadi kasus korupsi yang melibatkan empat pegawai negeri Nigeria, termasuk presiden federasi sepakbola mereka Sani Lulu Abdullahi. Mereka ditangkap karena dituduh bersalah dalam penghilangan uang sebesar €5,8 juta. Abdullahi sendiri akhirnya diputus bebas sebelum meminta presiden Goodluck Jonathan untuk membentuk tim yang menginvestigasi kasus ini.
"Adalah hak bagi setiap pemain untuk mendapat upah penampilan. Saya rasa semua negara membayar pemainnya, tak hanya Ghana saja,” tambah Appiah.
Para pemain ini merepresentasikan negara mereka dan rakyat mereka. Setidaknya, federasi sepakbola mereka memperhatikan mereka. Selalu ada dua sisi dalam setiap cerita. “Mengapa federasi kami tidak menginvestasikan uang yang mereka dapatkan dari FIFA untuk membuat kami merasakan pengalaman yang lebih baik?” tanya Boateng. Ini adalah pertanyaan yang layak mendapat jawaban secara jelas.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics