CATATAN Piala Dunia 2014: Naga Balkan Siap Beri Kejutan

Bosnia dan Herzegovina bisa jadi menjadi tim yang paling gembira setelah lolos ke Piala Dunia untuk kali pertama, namun mereka jelas bukan tim penggembira di Brasil.

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti @fasandym di twitter

Hampir dua dekade berlalu ketika Bosnia dan Herzegovina melakoni debut sepakbola mereka dalam kualifikasi Piala Dunia 1998. Setelah tragedi perang melanda menyusul kemerdekaan dari Yugoslavia pada 1992, negeri kecil di semenanjung Balkan itu terus bermimpi dan berjuang lewat sepakbola untuk bisa tampil di pentas terakbar tersebut.

Bosnia memang urung tampil di Piala Dunia 1998 dan mengalami hasil serupa di tiga edisi berikutnya. Di Piala Eropa, hasilnya setali tiga uang. Mereka berulang kali nyaris menembus turnamen utama tersebut dan paling bagus mentok di babak play-off. Barulah tahun 2014 ini penantian mereka terbayar lunas: Zmajevi, julukan Bosnia (diterjemahkan bebas sebagai Sang Naga), bakal melakoni debut di Piala Dunia!

“Kami pasti ingin membuktikan kepada dunia bahwa kami berada di Brasil bukan karena faktor kebetulan,” tutur Safet Susic, sang pelatih Bosnia. "Tim ini memiliki materi pemain yang baik dengan pengalaman yang setara seperti kontestan lainnya, kami memiliki ambisi untuk melangkah lebih jauh dengan lolos dari fase grup."

Pernyataan Susic itu jelas bukan tanpa dasar. Dua laga terakhir melawan Meksiko dan Pantai Gading menjadi buktinya. Dua tim yang sarat pengalaman di Piala Dunia tersebut dibuat tak berdaya oleh armada Susic, berturut-turut dengan skor 1-0 dan 2-1. "Untungnya ini bukan Piala Dunia," ujar penyerang Meksiko Javier Hernandez selepas laga, mengakui keunggulan Bosnia. Ya, Sang Naga tampak siap menantang Argentina, Iran, dan Nigeria di Grup F.

Rekor impresif mereka di babak kualifikasi zona Eropa juga berbicara hal yang sama. Tim-tim seperti Yunani dan Slowakia dibuat kalah bersaing. Permainan menyerang yang mereka usung tampak efektif. Total 30 gol berhasil mereka lesakkan dari sepuluh laga, jumlah gol yang hanya kalah dari Jerman, Belanda, dan Inggris di Eropa.

Laga kontra Lithuania pada Oktober lalu menjadi momen penentu. Sepakan jarak dekat Vedad Ibisevic sukses menyegel kemenangan 1-0 atas tuan rumah Lithuania sekaligus mengangkangi Yunani sebagai pemuncak Grup G kualifikasi zona Eropa dengan unggul selisih gol. Bosnia ke Brasil! Sarajevo, ibu kota negara itu, bersorak kegirangan dan terus merayakannya hingga kepulangan timnas pada pukul tiga pagi. Kesuksesan Bosnia mengamankan delapan kemenangan dari sepuluh partai di babak kualifikasi ini tak bisa dilepaskan dari kombinasi lini depan yang buas dan kreatifnya lini tengah mereka.

Diamond | Produktivitas gol Bosnia tak bisa dilepaskan dari skema pakem 4-1-2-1-2 atau 4-4-2 berlian.

Edin Dzeko tampil sebagai bintang utama Bosnia dan penerjemah ulung taktik menyerang Susic. Total, penyerang Manchester City ini mencetak sepuluh gol alias sepertiga gol Bosnia di babak kualifikasi zona Eropa, hanya satu gol lebih sedikit dari topskor Robin van Persie. Bersama Ibisevic, yang mencetak delapan gol, mereka menciptakan duet maut terbaik di Eropa dalam formasi paten 4-4-2 berlian kreasi Susic.

Gelandang serang veteran dengan caps terbanyak, Zvjezdan Misimovic, juga tampil brilian di belakang duet striker itu dengan mencetak lima gol tambahan. Menjadikan tiga per empat gol Bosnia di babak kualifikasi tercipta melalui Dzeko-Ibisevic-Misimovic. Belum lagi ada duo Roma, Miralem Pjanic (AS Roma) dan Senad Lulic (Lazio) yang kian menambah daya dobrak dari lini kedua. Praktis, satu-satunya pertanyaan adalah bagaimana kondisi pertahanan mereka.

Pensiunnya gelandang bertahan Elvir Rahimic semakin menambah problem soal taktik bertahan Bosnia. Meski hanya kebobolan enam gol di babak kualifikasi, duet jantung pertahanan mereka yang digalang duo pemain mapan Bundesliga Jerman, yakni kapten Emir Spahic (Bayer Leverkusen) dan Ermin Bicakcic (Eintracht Braunschweig) tetap menyisakan lubang di belakang. Lemahnya back-four ini terekspos ketika melawan tim-tim yang tampil dengan disiplin organisasi tinggi, seperti saat kalah dari Amerika Serikat (4-3), Argentina (2-0), dan Mesir (2-0) di laga uji coba.

Nekat tetap mengandalkan 4-4-2 kontra tim seperti Argentina dan Nigeria di dua partai pembuka Grup F tentu akan menjadi taktik bunuh diri. Susic, yang sudah lima tahun melatih Bosnia, beberapa kali mengandalkan formasi 4-2-3-1 yang dirasa akan menjadi taktik tepat untuk mengamankan pertahanan Bosnia yang menjadi titik terlemahnya. Dengan Pjanic digeser lebih ke belakang, tugas Haris Medunjanin sebagai gelandang penyangga akan sangat terbantu.

Lebih aman | Lebih pragmatis dengan 4-2-3-1 membuat lini belakang mereka aman.

Gelandang Hoffenheim Sejad Salihovic juga bisa digeser ke peran yang lebih sentral. Bek muda Ferencvaros Muhamed Besic juga dapat diandalkan di posisi gelandang bertahan. Alternatif lainnya adalah menempatkan bek kiri yang tengah naik daun Sead Kolasinac sebagai gelandang perusak. Kolasinac, 20 tahun, menjadi pemain Bosnia dengan prospek paling cerah. Performa impresifnya bersama Schalke memberi isyarat jika lini belakang Bosnia akan terjamin selama sepuluh tahun ke depan.

Di pos penjaga gawang, tak ada yang meragukan kapasitas Asmir Begovic yang tampil menjadi salah satu kiper terbaik di Liga Primer Inggris bersama Stoke City. Sekilas, materi pemain Bosnia tampak menjanjikan sebagai tim yang bakal menjadi kuda hitam bersama Belgia atau negara-negara Amerika Latin seperti Uruguay, Kolombia, hingga Cili.

“Kami akan menjadi negara terkecil di sana. Kami akan menikmati pengalaman ini dan berambisi mengecewakan lawan-lawan. Kami ingin berkompetisi dan berharap bisa mencapai sesuatu demi membahagiakan masyarakat dan negara kami. Kami memikul tanggung jawab yang besar. Namun kami menyukainya,” ujar Begovic optimistis.

Bukan hanya Dzeko | Dari kiper hingga penyerang, Bosnia bermaterikan pemain yang menjadi andalan di klub-klub top Eropa.

Naik daunnya Sang Naga langsung berdampak pada kesepakatan sponsor. Adidas langsung datang dan menyepakati kontrak sebagai apparel Bosnia pada bulan lalu dan berpisah dengan Legea. Produsen asal Jerman itu sadar jika Bosnia punya prospek bagus di masa depan seperti Belgia yang dilaporkan juga akan beralih ke Adidas usai Piala Dunia.

Pihak federasi sepakbola Bosnia pun sudah menargetkan Dzeko dkk. lolos dari fase grup. Langkah pertama, tentu berupaya sekuat tenaga agar tidak kalah di partai perdana melawan Argentina yang jelas akan sangat sulit. Kalaupun gagal, partai berikut kontra Nigeria dan Iran harusnya bisa dijadikan kesempatan emas untuk membuktikan diri bahwa mereka bukanlah tim kejutan dari Benua Biru, melainkan sebagai kekuatan baru Eropa.

Meski ini Piala Dunia pertama mereka, rakyat Bosnia tentu tak ingin tim kesayangannya yang tengah melonjak ini sekedar menjadi penggembira saja. Dari peringkat FIFA ke-173 pada 18 tahun lalu dan terus melonjak ke posisi 21 saat ini, rasa-rasanya tak ada yang meragukan potensi kejut Sang Naga di Brasil nanti.

Maut | Edin Dzeko & Vedad Ibisevic, jadi andalan Bosnia di Brasil.

Skuat Piala Dunia Bosnia dan Herzegovina:

Kiper: Asmir Avdukic (Borac Banja Luka), Asmir Begovic (Stoke City), Jasmin Fezjic (Aalen).

Bek: Muhamed Besic (Ferencvaros), Ermin Bicakcic (Eintracht Braunschweig), Sead Kolasinac (Schalke), Emir Spahic (Bayer Leverkusen), Toni Sunjic (Zorya), Ognjen Vranjes (Elazigspor).

Gelandang: Anel Hadzic (Sturm Graz), Izet Hajrovic (Galatasaray), Senijad Ibricic (Erciyespor), Senad Lulic (Lazio), Haris Medunjanin (Gaziantepspor), Zvjezdan Misimovic (Guizhou Renhe), Mensur Mujdza (Freiburg), Miralem Pjanic (Roma), Sejad Salihovic (Hoffenheim), Tino Susic (Hajduk Split), Edin Visca (Istanbul BB), Avdija Vrsajevic (Hajduk Split).

Penyerang: Edin Dzeko (Manchester City), Vedad Ibisevic (Stuttgart).

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics