CATATAN Piala Dunia 2014: Pengaruh Cuaca Panas Terhadap Performa Pemain Di Tiap Kota

Manaus menjadi masyhur karena yang cuaca super-panas yang sering dibahas. Apakah memang benar demikian? Bagaimana dengan kondisi kota-kota penyelenggara Piala Dunia lain?

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
12 kota penyelenggara Piala Dunia 2014 yang tersebar di seluruh penjuru Brasil telah resmi merampungkan dua partai fase grup pada akhir pekan lalu. Berhubung Brasil merupakan daerah yang dilintasi garis khatulistiwa dan beriklim tropis, maka tak sedikit dari pelatih, pemain, hingga suporter mengeluhkan cuaca panas dan kelembaban tinggi di negeri Samba.

Ada keluhan 'halusinasi' hingga 'kesulitan bernapas' yang sudah dikemukakan beberapa pemain terkait kondisi ekstrem yang jarang mereka rasakan di negara asalnya. Atas dasar itu, jurnalis Goal yang tersebar di seluruh kota penyelenggara Piala Dunia di Brasil mencoba menganalisis apakah kondisi panas ini berpengaruh terhadap performa 32 tim yang berlaga. Berikut selengkapnya.

MARK DOYLE, SALVADOR:

Di Salvador, cuaca tidak menjadi masalah. Temperatur memang bisa mencapai 30 derajat Celcius ketika siang hari dan tidak pernah berada di bawah 20 derajat saat malam hari. Salvador adalah kota pesisir, maka banyak angin sepoi-sepoi yang cukup kuat. Iklim tropis juga membuat kota ini sering diguyur hujan. Namun, kami terkejut ketika tiadanya jeda untuk minum dalam laga Jerman-Portugal yang dimulai pukul 13:00. Meski demikian, keadaan paling panas di laga tersebut terjadi ketika Pepe diusir wasit, bukan karena cuaca.

LUIS HERRERA, NATAL:

Natal bisa sangat panas saat siang hari, namun sejauh ini hal tersebut bukan suatu masalah ketika laga dimainkan di Arena das Dunas. Pekan lalu, total terjadi periode hujan selama 50 jam yang tampak ketika laga Meksiko dan Kamerun. Sementara laga Ghana-Amerika Serikat dan Jepang-Yunani juga tidak masalah karena dimulai pukul 19:00. Namun, partai Italia-Uruguay mendatang yang akan dimulai pukul 13:00 bisa menjadi cerita yang berbeda.

ROBIN BAIRNER, FORTALEZA:

Cuaca di Fortaleza selalu lembab dan panas, tak pernah di bawah 25 derajat sejak saya datang. Suhu resmi saat kick-off adalah 29 derajat dengan tingkat kelembaban 70 persen yang masih bisa ditoleransi. Ketika saya naik taksi pada Kamis (19/6) lalu, suhu udara di bawah matahari menembus angka 41 derajat. Untungnya, laga-laga di sini dilangsungkan pada malam hari. Jerman sempat mengeluhkan kelelahan setelah laga melawan Ghana. Laga perempat-final yang akan dilangsungkan pukul 13:00 bisa berpotensi membahayakan kondisi pemain.

BEN HAYWARD, BELO HORIZONTE:

Belo Horizonte panas di siang hari, tapi lumayan dingin saat malam. Temperatur berkisar 24-27 derajat, sementara kelembaban 63-68 persen. Semua laga yang dilangsungkan di sini dimulai pukul 13:00, begitu juga dengan laga-laga selanjutnya. Itu adalah waktu terpanas dan beberapa pemain kelelahan dan lapangan juga terlihat kering. FIFA sempat meminta Argentina dan Iran berlatih di tempat lain sebelum bertanding. "Lapangan kering dan sangat keras. Udara di sini juga panas," ujar Fernando Gago selepas laga.

STEFAN COERTS, BRASILIA:

Cuaca tidak menjadi masalah di Brasilia dalam dua partai yang dimainkan di sini. Cuaca di sini hangat dengan temperatur berkisar 25-30 derajat, dan kelembaban juga tidak menjadi masalah. Sungguh nyaman bermain dalam suhu 25 derajat saat laga Ekuador-Swiss dan saya tak mendengar komplain pemain. Suhu laga Kolombia-Pantai Gading sedikit lebih hangat, namun kedua tim tampaknya sudah terbiasa dengan temperatur tinggi.

PETER STAUNTON, CUAIBA:

Secara umum, kondisi di Cuiaba panas dan lembab. Sejauh ini, seluruh laga di sini dimulai pada malam hari, namun udara tetap terasa gerah dengan temperatur tinggi, yakni mencapai 33 derajat. Hal buruk terjadi saat laga Rusia-Korea Selatan ketika pemain tampak mencuri-curi waktu untuk minum sementara pemain lain mengalami cedera. Namun secara keseluruhan, cuaca panas ini tidak terlalu mempengaruhi jalannya laga.

LIAM TWOMEY, RIO DE JANEIRO:

Temperatur di Rio tak pernah di bawah 20 derajat, bahkan saat malam hari. Saat cerah atau berawan, udara tetap terasa panas, sementara kelembaban bukan menjadi faktor utama. Dalam laga pertama di Maracana yang dimulai pukul 19:00, Argentina tampak melempem melawan Bosnia, tapi itu karena masalah taktik bukan kondisi fisik pemain. Laga berikutnya, pada pukul 16:00, Cili mampu menampilkan salah satu performa paling dinamis di turnamen ketika menghajar Spanyol.

KRIS VOAKES, SAO PAULO:

Sejauh ini, temperatur di Sao Paulo sedang. Iklim di sini juga sudah menyerupai benua Eropa sebagaimana Brasil selatan jauh deng garis ekuator. Bahkan dalam minggu kedua turnamen, suhu udaranya cukup dingin. Saat laga pembuka Brasil-Kroasia, terdapat sinar matahari yang diikuti udara yang menyejukkan. Namun seminggu berselang, ketika laga Inggris-Uruguay, suhu udara merosot tajam. Suhu hangat kemungkinan akan kembali lagi beberapa waktu ke depan. Kondisi gerah seperti di bagian utara hampir tidak pernah dikeluhkan di kota terbesar di Brasil ini

PILAR SUAREZ, CURITIBA:

Suhu di Curitiba sangat tidak stabil. Flu yang saya alami membuktikan hal itu! Ketika saya datang pertama kali di kota ini, suhunya panas (25 derajat), namun hari berikutnya kota tertutupi kabut dan sangat lembab. Hari-hari tertentu suhunya bersahabat (18 derajat) namun di hari berikutnya bisa turun menjadi 10 derajat. Secara keseluruhan, cuaca di sini tak berdampak pada performa tim yang bermain. Saya ingat Jordi Alba dalam jumpa pers mengatakan bahwa Spanyol, yang memiliki markas di sini, merasa nyaman dengan cuaca dingin ini.

MATHEUS HARB, PORTO ALEGRE:

Setelah mengalami temperatur sedang, musim dingin akhirnya tiba di Porto Alegre. Suhu udara hampir tak pernah melebihi 18 derajat dan di malam hari berkisar 10 derajat. Kabut tebal hampir selalu hadir saat pagi hari namun akan menghilang pada tengah hari. Saat pembukaan, Porto Alegre dilanda hujan deras, namun sudah reda ketika laga debut di Beira-Rio yang mempertemukan Prancis-Honduras. Jika kondisi tetap kering seperti ini, maka turis dan tim yang berada di sini bisa dibilang beruntung mengingat hujan bisa bertahan selama seminggu.

SAM LEE, MANAUS:

Saya tak mengerti mengapa banyak orang yang melebih-lebih cuaca panas di Manaus. Mungkin saya sendiri sudah terbiasa di sini, tapi orang-orang sudah mengidentikkan Manaus dengan suhu panas yang gila. Paulo Bento menjelaskan kondisi ini, "Sulit untuk tidak mengabaikan kondisi di sini karena banyak orang membicarakannya! Bahkan ketika udara tidak terlalu lembab, kami akan tetap merasa sangat lembab."

Ketika saya berbicara dengan Ivan Rakitic setelah laga, dia mengatakan bahwa dirinya sulit bernapas dan menjelaskan sulitnya bermain di sini. Tapi saat itulah saya merasakan malam terdingin di sini. Cesare Prandelli dan Giorgio Chiellini juga mengatakan mereka butuh waktu selingan untuk minum saat berlaga. Itulah konsep dasar sains olahraga: ketika pemain berkeringat banyak, mereka harus tetap menjaga kadar air di tubuhnya dengan minum. Dari sudut pandang tersebut, kondisi panas memang mempengaruhi pemain, tapi tidak terlalu mempengaruhi kualitas bermain mereka.

Saya telah berbicara dengan banyak orang tentang kondisi panas di sini, beberapa di antara mereka menyebut bahwa isu ini dipicu oleh perkataan Roy Hodgson pada Desember lalu. Semua orang lalu melebih-lebihkannya bahwa bermain di Manaus seperti bermain di tengah hutan. Salah satu petugas FIFA di sini menyatakan Italia butuh empat atau lima hari untuk melakukan aklimatisasi. Ketika Italia takluk dari Kosta Rika, sebenarnya mereka takut dengan dahsyatnya panas.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics