CATATAN: Real Madrid Juara, Pamor Liga Champions Turun

Pantaskah Madrid dianggap sebagai jawara Eropa jika kompetisi di negaranya sendiri tak mampu mereka taklukkan?

CATATAN TONY MAHONEY PENYUSUN DEWI AGRENIAWATI
Tak bisa dimungkiri, Liga Champions merupakan salah satu kompetisi sepakbola paling prestisius di planet bumi. Liga Champions ini adalah besutan Uefa yang mulai digelar pada 1992, menggantikan format sebelumnya yang disebut European Cup.

Mulanya, European Cup ini adalah turnamen gugur yang hanya melibatkan para klub juara di negara masing-masing. Tapi, pihak Uefa mengubah format tersebut dengan memainkan babak penyisihan hingga akhirnya menembus putaran final dan berisi lebih banyak tim.

Liga nasional terkuat, yang dilihat dengan koefisien Uefa, berhak mengirim empat wakil ke Liga Champions, bahkan angka ini akan bertambah menjadi lima mulai musim 2015/16.

Tapi, sudah sejak jauh hari format baru ini mendapat kritik dari sejumlah kalangan.

Jika berlabel Liga Champions atau liga para juara, lalu mengapa kompetisi ini harus diikutsertakan oleh tim yang tidak memenangkan titel domestik?

Bagaimana bisa juara Eropa justru tak mampu menaklukkan teritorial mereka? Kondisi ini malah mempermalukan integritas kompetisi itu sendiri, begitu kata para pengkritik.

Masalahnya tak sedikit tim yang keluar sebagai juara Liga Champions justru bukan kampiun di negeri sendiri, baik saat lolos ke kompetisi maupun saat merebut gelar.

Sukses mengawinkan gelar liga dan Liga Champions di kampanye yang sama jelas merupakan sebuah prestasi luar biasa di sepakbola dan sembilan tim yang menyabet prestasi ini sejak 1997/98 pantas disebut sebagai juara Liga Champions terbaik sepanjang sejarah.

Menjadi pemenang di partai puncak Liga Champions setelah lolos sebagai juara domestik di tahun sebelumnya juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena seperti format terdahulu, cuma tim juara domestik yang berhak manggung di turnamen antarklub paling elite di Eropa, jadi wajar jika mereka juga mendapat label ‘Juara Eropa’.

Bagaimana jika yang terjadi sebaliknya? Jika sang juara Liga Champions ini bukan tim yang mendominasi liga domestik baik di musim yang sama maupun sebelumnya?

Bagaimana Eropa bisa menganggap Liverpool sebagai raja Benua Biru setelah mereka juara 2005 padahal mereka cuma finis peringkat empat di Liga Primer untuk lolos ke putaran final dan kelima di tahun mereka juara?

Mereka ini tidak lebih dari sampah juara, sama seperti yang terjadi pada Real Madrid (2000), AC Milan (2003, 2007) dan Chelsea (2012). Para pelatih mengorbankan kampanye domestik untuk lebih fokus ke fase gugur Liga Champions.

Ini memang prestasi bagus buat klub yang memenangkannya, tapi tidak bagus buat reputasi kompetisi itu sendiri. Apalagi, Chelsea juga dianggap tim paling beruntung ketika berhasil membungkam Bayern Munich di laga final setelah Roberto Di Matteo baru dipekerjakan enam bulan sebelum jadi juara.

Kondisi inilah yang kemungkinan besar akan terjadi sekarang, yang mengancam integritas kompetisi.

Meski menghamburkan uang lebih besar dari klub mana pun - termasuk memecahkan rekor termahal dunia untuk merekrut Gareth Bale - Real Madrid cuma tim terbaik ketiga di Spanyol. Tahun lalu, mereka gigit jari setelah finis di posisi runner-up. Ironisnya, mereka malah jadi favorit jelang laga akhir pekan ini melawan tim terbaik Spanyol.

Pelatih Carlo Ancelotti bermain aman dengan mengambil keputusan mengistirahatkan beberapa pemain kunci jelang akhir kompetisi, sementara Atletico habis-habisan hingga laga penutup Sabtu lalu melawan Barcelona untuk mengukuhkan status juara. Konsekuensinya, Diego Costa yang belum benar-benar fit harus keluar lapangan lebih dulu akibat cedera, lalu disusul sang gelandang Arda Turan.

Deretan bintang sepakbola memang ada di tim Ancelotti, tapi jika Los Blancos akhirnya sukses menyabet La Decima yang mereka idam-idamkan selama satu dekade lebih, masih pantaskah mendapat label jawara Eropa?

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics