CATATAN - Real Madrid: Pertahanan Terbaik Adalah Menyerang

Semakin jelas istruksi Zidane untuk El Real; menggempur total seperti tim nasional Brasil di masa jayanya memanjakan pemuja sepakbola seantero dunia.

Oleh: Gunawan Widyantara
 
Empat pertandingan bersama Zinedine Zidane, Real Madrid mencatat 17 gol dan hanya kebobolan dua gol. Sepuluh poin diraih dari kemungkinan 12 dan ini bukan torehan buruk.
 
Tidak beruntung saat ditahan imbang Real Betis pekan kemarin, Los Blancos bangkit di Santiago Bernabeu dengan melumat Espanyol enam gol tanpa balas. Pada pertandingan ini Cristiano Ronaldo kembali jadi bahan perbincangan berkat hat-trick yang diciptakannya. Tiga gol lain disumbang Karim Benzema, James Rodriguez dan gol bunuh diri Oscar Duarte.
 
Sudah lama Espanyol dikenal sebagai target empuk Los Merengues. Tim Catalan ini sering dinilai selalu bermain habis-habisan saat bertemu Barcelona namun melempem ketika menghadapi raksasa ibu kota. Pada pertemuan pertama musim ini mereka dipermak dengan skor serupa 6-0; ketika itu Cristiano lima kali mencatatkan nama di papan skor yang ditambah satu dari Karim Benzema.

Lawan Espanyol jadi ajang pembuktian superstar Portugal karena musim ini sering dinilai performanya menurun tetapi lagi dan lagi  Cristiano membungkam peragu dengan hat-tricknya.
 
Menyerang total adalah frasa yang utarakan Zidane saat menggantikan Rafael Benitez, dia ingin mengubah citra sepakbola bertahan, membosankan dan mengandalkan serangan balik untuk menjebol gawang. Tanggung jawab untuk mengubah citra ini cukup berat dan harus dilakukan dalam waktu singkat tetapi untungnya stok pemain El Real mendukung ambisi.
 
Pekan demi pekan berlalu, semakin jelas istruksi Zidane pada pemainnya; menggempur total seperti layaknya tim nasional Brasil di masa jayanya memanjakan pemuja sepakbola seantero dunia.
 
Dua bek sayap diberi keleluasaan untuk maju ke depan membantu serangan. Marcelo dan Dani Carvajal seolah-olah menjadi mesin tambahan El Real untuk meruntuhkan benteng pertahanan lawan.

Tak hanya berperan sebagai pendukung lini serang, bek sayap El Real yang maju ke depan sekarang punya tanggung jawab ekstra sebagai pengatur serangan dengan satu keuntungan tambahan; ketika El Real kehilangan bola mereka punya potensi untuk merebutnya kembali.
 
Pergerakan dinamis dua bek sayap ini mau tidak mau merenggangkan benteng lawan dan ini menyuguhkan keuntungan bagi tiga penyerang di depan. Selain ruang yang makin terbuka, fokus penjagaan terhadap mereka tereduksi. Tugas berat predator seperti Karim Benzema dan tentu saja Cristiano menjadi berkurang, sekarang fokus mereka tinggal menuntaskan peluang yang tersaji.
 
Ketika potensi anyar EL Real dari sektor sayap bisa digali apik oleh Zidane, trio gelandang El Real terus memperlihatkan kinerja positif. Isco, Toni Kroos dan Luca Modric sukses menjalin kerjasama solid dan tak henti memberikan kontribusi besar memuluskan aliran bola ke depan. El Real menyerang frontal dari segala lini.
 
Bukan tanpa risiko, strategi yang diusung Zidane praktis membuat El Real hanya menyisakan dua pemain di sektor pertahanan. Maka tidak heran ketika Madrid menang besar lawan Espanyol, tim Catalan bisa mencatat 15 tembakan, lima di antaranya memaksa Keylor Navas bergerak untuk memastikan gawang El Real tetap perawan hingga akhir pertandingan.
 
Fakta di atas bisa membawa kekhawatiran saat El Real harus berhadapan dengan tim sebesar Barcelona yang punya daya gedor kelas dunia namun Zidane tampaknya tidak atau mungkin belum mempedulikan hal ini; pekerjaan rumah harus dituntaskan satu per satu, tidak bisa sekaligus.

Satu bukti, ketika Madrid dalam posisi unggul 5-0, Modric ditarik keluar untuk memberi ruang pada Jese. Pada posisi ini El Real belum mau mengendurkan serangan meski tidak lama kemudian Casemiro dan Lucas Vazquez masuk menggantikan Kroos dan Benzema.
 
Strategi menyerang brutal ala Real Madrid rasanya belum akan berhenti dalam waktu dekat dan terkait potensi masalah di lini pertahanan, Zidane masih punya banyak waktu untuk meleburkan ide sepakbola yang dimilikinya kepada para pemain. Sedikit sentuhan perubahan yang bisa menghadirkan keseimbangan pada tim saat menyerang dan bertahan tentunya bukan barang haram bagi Madridista.
 
El Clasico jilid kedua musim ini baru akan terjadi awal April mendatang, sebelumnya AS Roma di Liga Champions plus Atletico Madrid bakal menjadi ujian berat paling dekat. Mampukah sepakbola menyerang total ala Zidane meyakinkan publik Santiago Bernabeu yang terkenal kejam?
 
Sambil kita menanti waktu yang bakal menjawab segala pertanyaan, mari kita nikmati pertahanan ala Real Madrid; menyerang total!