CATATAN Serie A Italia: Target Milan Harusnya Konsistensi

Tak usah memasang target terlalu muluk Milan. Jika sudah bisa konsisten dalam bermain, barulah boleh berharap bisa mewujudkan mimpi.

CATATAN MOHAMMAD YANUAR Ikuti di twitter
Jangan tanyakan apa harapan Milanisti pada tim kesayangan mereka di musim ini. Mungkin serempak akan berharap Milan bisa kembali scudetto, mengakhiri dominasi Juventus, atau sekadar tampil di Liga Champions.

Tapi melihat performa Milan sejauh ini, seperti sulit bagi skuat asuhan allenatore Filippo 'Pippo' Inzaghi mewujudkan ekspektasi itu. Soalnya masalah utama Milan saat ini, inkonsistensi, tak bisa juga dicari solusinya.

Sejatinya sebelum jeda musim dingin, Rossoneri menunjukkan tren performa positif. Posisi tiga besar di klasemen Serie A Italia pun berada dalam jangkauan, yang membuat banyak orang mulai optimistis Nigel de Jong dkk bisa mewujudkan ekspektasi banyak pihak.

Di bursa transfer, bergabungnya Alessio Cerci dari Atletico Madrid dan kemudian Suso dari Liverpool bisa jadi menambah keyakinan fans akan gelagat positif Milan.

Tapi faktanya, Milan tak cukup baik untuk bisa bersaing di papan atas. Bahkan saat menghadapi tim semenjana seperti Sassuolo dan Atalanta, Milan harus tumbang, termasuk saat bertanding di kandang sendiri.

Lihat saja performa Milan sepanjang 2015. Dibuka dengan laga melawan Sassuolo di kandang sendiri, Milan tumbang dengan skor 2-1. Bermain di Turin, Milan juga hanya mampu meraih hasil imbang 1-1 melawan Torino.

Kemenangan 2-1 melawan Sassuolo di ajang Coppa Italia membuat optimisme Milan kembali membuncah, sebelum kemudian dikembalikan ke tanah oleh Atalanta semalam dengan skor 1-0 di San Siro.

Well, dari situ saja sudah jelas bahwa masalahnya ada pada konsistensi. Inzaghi juga menyadari ada yang hilang dari timnya di tahun 2015.

"Gaya sepakbola kami seperti di awal musim sama sekali tidak keluar dan tim ini merasakan adanya ketegangan," kata Inzaghi, Senin (19/1).

Solusinya?

"Kami hanya harus menggulung lengan baju kami dan mulai bekerja. Tak ada lagi yang bisa kami lakukan saat ini. Kami memiliki determinasi, tapi itu saja tak cukup dan kami harus bangkit."

"Kami harus kembali seperti yang kami lakukan sebelum jeda Natal. Mungkin kekalahan dari Sassuolo di awal 2015 merusak kepercayaan diri kami. Kami tak boleh lagi bermain sepakbola di situasi seperti ini, tapi kami harus bermain lebih baik lagi dari yang ini."

Tekad untuk menemukan solusi terbukti sudah ada, kini tinggal bagaimana eksekusinya di lapangan. Tapi bila melihat komposisi tim dan skuat yang ada sekarang ini, Milan sepertinya masih harus menjalani bulan ini dengan hasil yang kurang meyakinkan.

Bila melihat cara bermain Milan dalam empat laga terakhir, kreativitas pemain menjadi hal dibutuhkan saat ini. Masuknya Cerci, mengisi pos yang ditinggalkan Keisuke Honda, yang bermain untuk Jepang di Piala Asia 2015 di Australia, terbukti tak cukup kontributif. Cerci mungkin masih membutuhkan waktu lebih untuk beradaptasi dengan tim, baik situasi, atmosfer dan cara bermainnya. Dia juga masih terlihat keteteran bermain bersama Bonaventura dan Stephan El Shaarawy untuk membantu lini depan yang diisi Jeremy Menez.

Selain itu, absennya Mattia De Sciglio dan Cristian Zapata di beberapa laga terakhir ikut memperburuk kondisi lini belakang Milan. Keduanya termasuk pilar penting lini pertahanan skuat besutan Inzaghi di musim ini. Apalagi dengan keberadaan Daniele Bonera yang jarang sekali memberikan kontribusi krusial pada timnya saat bertahan.

Inzaghi mungkin masih bisa senang dengan kualitas lini tengah, yang diisi oleh Riccardo Montolivo dan Nigel De Jong sebagai jembatan antara lini belakang dan depan. Tapi bila dianalisis secara kritis, peran keduanya juga tetap harus dipertanyakan karena transformasi dalam bertahan ke menyerang atau sebaliknya tergantung pada efektivitas bermain mereka. Jika tim bermain buruk, Montolivo dan De Jong juga harus menanggung tanggung jawab yang sama seperti pemain lain.

"Kami berbagi tanggung jawab, tapi satu-satunya obat untuk masalah ini adalah kerja keras," ungkap Inzaghi lagi.

Sejatinya masalah yang dialami Milan sudah teridentifikasi. Montolivo juga menambahkan bahwa masalah mental bermain pun harus dibenahi.

Jadi, sekarang tinggal bagaimana Milan mengambil langkah efektif untuk mengatasi masalah mereka, yaitu inkonsistensi. Jika sudah ada solusi dan semua berjalan sesuai rencana, Milan mungkin boleh memasang target yang lebih tinggi ketimbang sekadar 'mencari konsistensi'.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics