CATATAN: Steven Gerrard & Iker Casillas, Duo Jenderal Pesakitan

Steven Gerrard dan Iker Casillas merupakan kapten sekaligus legenda Liverpool dan Real Madrid. Situasi pelik mewarnai keduanya jelang bentrok mereka di Liga Champions.

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitter

Big Match Liga Champions segera tersaji di matchday 3 Grup B, manakala Liverpool akan menghadapi salah satu musuh bebuyutannya, Real Madrid, Kamis (23/10) dini hari WIB. Stadion legendaris, Anfield, didapuk jadi tempat digelarnya leg pertama.

Beragam kisah menarik jelang dilangsungkannya duel klasik tersebut terselip mengiringinya. Mulai dari rekor pertemuan, cerita akan penggawa yang pernah membela kedua klub hingga analisis terhadap gaya permainan agresif kedua tim. Kini muncul lagi satu cerita yang dimiliki Liverpool dan Madrid, terkait situasi pelik yang sedang dialami kapten mereka, yakni Steven Gerrard dan Iker Casillas.

Tak diragukan lagi, Gerrard dan Casillas merupakan kapten, legenda, sekaligus simbol klub dalam satu dasawarsa terakhir. Totalitas, loyalitas, dan keteguhan hati mereka yang disertai skill tinggi telah sukses menghadirkan banyak gelar sekaligus senyum bagi para Kopites dan Madridista.

Namun kini, seiring menuanya usia Gerrard dan Casillas sebagai pesepakbola, kritik menyoal performa yang mulai terkikis jadi sorotan. Publik yang dahulu begitu mencintai mereka sekarang berubah halauan dengan mengecam keduanya.

Deretan poster di dinding mulai disobek, spanduk yang membentang megah dengan wajah mereka kini jarang terlihat, dan sorakan dukungan setiap kali Gerrard atau Casillas menyentuh bola sudah berubah jadi siulan. Jenderal yang dahulu begitu disegani karena kebesarannya, kini sudah jadi pesakitan. Ada apa dengan Gerrard dan Casillas? Pantaskah keduanya diperlakukan seperti itu?

Julukan 'Slipped Gerrard' kini lebih nyaring terdengar

Di antara sederet legenda Liverpool, Steven George Gerrard bisa disebut sebagai kebanggan terbesar para Liverpudlian. Bagaimana tidak, gelandang kelaihiran Merseyside, 30 Mei 1980 itu, merupakan produk asli akademi The Reds. Bergabung di tim junior sejak 1989, si kecil Gerrard lantas mencuat hingga akhirnya menandatangani kontrak profesional pada 5 November 1997, di usia 17 tahun!

Musim demi musim dilaluinya dengan performa yang terus meningkat. Perannya sebagai gelandang tengah kemudian makin fleksibel dengan fasih menempati setiap pos di lini tengah. Memasuki era millenium, Gerrard sudah tak tertahankan jadi salah satu pilar vital Liverpool.

Kepergian Michael Owen pada 2004 kemudian mempromosikannya sebagai kapten hingga kini. Berbagai gelar Gerrard persembahkan mulai dari Piala Liga Inggris, Community Shield, Piala FA, Piala UEFA, hingga Piala Super Eropa. Ia juga jadi sosok paling dikenang pada kejayaan Liverpool di Liga Champions, dalam tragedi Istanbul 2005.

Namun memasuki usia kepala tiga, performa dan kualitas brilian Gerrard sedikit demi sedikit terkikis. Secara kejam, media mulai mencemooh. Dan semua makin menjadi di musim lalu, yang sejatinya jadi salah satu momen terbaik dalam karier suami dari Alex Curran tersebut.

Torehan 14 gol plus 16 assist sepanjang musim seakan terhapus karena blunder Gerrard dalam duel krusial kontra Chelsea. Ia dicap sebagai biang kegagalan Liverpool dalam kesempatan terbaik mereka merengkuh gelar Liga Primer Inggris. Dalam partai tersebut Si Merah kalah 2-0, dengan Gerrard melakukan kebiasaannya terpeleset saat menguasai bola, untuk gol pertama Si Biru yang dicetak oleh Demba Ba.

Ironis, tim asuhan Brendan Rodger tak mampu lagi bangkit dan akhirnya menemapti pos runner-up di akhir musim. Setelahnya, julukan Captain Fantastic yang dimiliki Gerrard mulai berubah menjadi Slipped Gerrard. Publik seakan lupa rekor 682 penampilan dengan 76 gol yang ia persembahkan bagi Liverpool.

Performanya yang terus menurun berlanjut di musim ini. Berganti peran dari gelandang bertahan hingga serang, Gerrard masih belum menemukan sentuhannya. Hollywood pass yang jadi ciri khasnya belum nampak, hal itu terpapar jelas dari statistiknya dalam membaca alur permainan. Rerata 0,57 di setiap laga musim ini, terlampau sedikit bagi seorang gelandang. Penampilan yang seakan jadi penegasan jika dirinya bukanlah kunci saat hadapi Madrid esok.

Casillas tak lagi mampu tampilkan performa heroik

Cerita lebih buruk mungkin dialami oleh kapten yang secara otomatis bakal jadi legenda Real Madrid, Iker Casillas. Sosok ikon penjaga gawang sepakbola dunia di era millenium ini memulai kariernya di akademi Madrid, pada musim 1990/91 kala dirinya masih berusia sembilan tahun.

Dikontrak secara profesional saat memasuki usia 16 tahun, Casillas secara fenomenal meraih posisi kiper utama Los Blancos setahun berselang, menyingkirkan kiper legendaris Jerman, Bodo Illgner. Kecerdasannya dalam membaca serangan lawan, keberaniannya dalam mengomando lini belakang, dan responnya yang sungguh memesona adalah kelebihan kiper yang kemudian dijuluki San Iker tersebut.

Bersamanya di bawah mistar, Madrid merengkuh berbagai gelar bergengsi. Mulai dari dua Copa del Rey, tiga Piala Super Spanyol, lima gelar La Liga Spanyol, sepasang Piala Super Eropa, sebiji Piala Interkontinental, hingga berujung pada rengkuhan tiga trofi Liga Champions. Kebesarannya di klub dengan jadi jenderal selepas era Raul Gozales, tertular ke level tim nasional. Bersama timnas Spanyol, Casillas jadi kapten tim terbaik sepanjang masa yang meraih dua gelar Piala Eropa dan satu Piala Dunia.

Namun segala cerita indah yang terpapar di atas pada akhirnya harus berakhir juga. Ya, kini kiper yang pernah sekali meraih gelar El Zamora itu tengah memasuki masa terkelam dalam kariernya, sekalipun Madrid baru saja merengkuh gelar La Decima.

Semua bermula ketika Los Merengues berada dalam situasi pelik di akhir era kepemimpinan Jose Mourinho. Casillas yang mendapati cedera pasca duel kontra Valencia di jornada 20 La Liga Spanyol 2012/13, tak pernah lagi mendapat kepercayaan dari The Happy One untuk turun merumput hingga akhir musim! Mou beralasan jika performa pelapisnya saat itu, Diego Lopez, jauh lebih baik dari pemilik rekor 695 caps untuk Los Merengues tersebut.

Fakta itu secara mengejutkan disetujui oleh suksesornya, Carlo Ancelotti, pada musim berikutnya. Casillas hanya diberi kesempatan bermain di ajang turnamen, sementara Diego Lopez mendapat kepercayaan penuh untuk bermain di La Liga. Kebenaran akan menurunnya kualitas kiper berusia 33 tahun itu, lantas terpapar jelas dengan seringnya ia melakukan blunder. Anda tentu masih ingat bagaimana proses gol Atletico Madrid di final Liga Champions,yang nyaris membuyarkan La Decima bukan?

Segalanya makin buruk saat Casillas jadi biang keladi kegagalan total La Furia Roja di ajang Piala Dunia 2014. Kritik terhadap dirinya mengalir deras saat tampil konyol dalam kekalahan 5-1 di partai perdana kontra Belanda.

Memasuki musim 2014/15, Diego Lopez kemudian memilih pergi dan posisi kiper utama secara otomatis kembali pada Casillas. Namun performa buruk yang terus diperlihatkannya tak kunjung membaik. Rasio gol yang bersarang ke gawangnya jadi paparan, dengan kebobolan satu gol di setiap partai.

Memang, tak adil rasanya ketika kita melihat sang legenda sekaligus kapten layaknya Gerrard dan Casillas mendapat cibiran di masa penghujung karier. Kualitas mereka memang sudah menurun jika dibandingkan kejayaan di masa lalu, tapi toh keduanya masih layak bermain dalam sepakbola level tertinggi.

Satu yang hal yang paling penting adalah bagaimana Liverpool dan Madrid masih belum bisa menemukan sosok penggantinya. Kepercayaan penuh dan dukungan layak terus Gerrard dan Casillas dapatkan, untuk bisa mengembalikan level kepercayaan diri dan memimpin tim kembali ke jalur kejayaan.

Dan ketika situasi pelik ini bisa berbalik, percayalah kita akan dibuat tersenyum dan kagum kembali saat melihat tendangan geledek Steven Gerrard yang disertai halauan magis ala Iker Casillas!

addCustomPlayer('8zsoo3iz1ey11dxuuxg1dkcox', '', '', 620, 540, 'perf8zsoo3iz1ey11dxuuxg1dkcox', 'eplayer4', {age:1407083239229});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics