CATATAN: Tim 'Kuda Hitam' Yang Melempem di Babak Delapan Besar

Persela dan PBR masih belum menjadi tim 'kuda hitam' yang menakutkan di babak delapan besar ISL.

OLEH HAMZAH ARFAH & RIZKAART CENDRADIPUTRA

Babak delapan besar Indonesia Super League (ISL) 2014 sudah memasuki masa rehat sejenak. Laga di fase ini akan semakin sengit saat tiga laga sisa kembali dimulai pada 21 Oktober nanti. Berdasarkan hasil tiga laga awal, masih belum terlihat dua tim yang disebut-sebut sebagai 'kuda hitam' berbicara banyak di babak ini.

Mereka adalah Persela Lamongan dan Pelita Bandung Raya. Bahkan, jumlah raihan poin kedua tim sama yaitu satu poin. Performa ini tentu saja berbeda ketika mereka bermain di fase penyisihan grup awal.

Lantas, apa yang membuat keduat tim itu bisa melempem di tiga laga awal babak delapan besar? Goal Indonesia mencoba mengulas apa saja yang menyebabkan kedua tim tersebut menurun performanya. Selamat menyimak!

Banyak pihak kaget, begitu Persela Lamongan memastikan diri lolos ke babak delapan besar Indonesia Super League (ISL) 2014. Dengan materi yang bisa dibilang pas-pasan, Laskar Joko Tingkir ternyata mampu membuktikan diri sebagai salah satu tim kuat.

Namun begitu berlaga di fase tersebut, kapasitas sebagai tim 'kuda hitam' belum terlihat jelas. Setidaknya, gambaran itu bisa didapatkan dari tiga pertandingan di putaran pertama babak delapan besar. Di mana Choirul Huda dan kawan-kawan, baru mampu mendulang satu poin.

Tergabung bersama Arema Cronus, Persipura Jayapura, dan Semen Padang, Persela terlihat seperti tak berdaya. Dalam fase ini, materi pemain terlihat jelas sebagai faktor pembeda, meski mental bermain juga berpengaruh.

Dengan catatan itu, membuat Persela kalah 2-0 di laga perdana saat tandang ke Papua, hanya seri 2-2 lawan Arema di kandang sendiri, dan terakhir dibekap Kabau Sirah 4-2 di Stadion H Agus Salim, Padang.

"Sama seperti di babak penyisihan, problem di sektor pertahanan sepertinya belum kunjung membaik. Meski sudah kami evaluasi dan proses ke arah sana sudah ada (peningkatan)," tutur Eduard Tjong, pelatih Persela kepada Goal Indonesia.

Berstatus menjadi satu-satunya tim yang lolos dengan catatan gol minus, Persela rupanya menjadi bulan-bulanan para pesaingnya di babak delapan besar. Tercatat, sudah delapan gol yang bersarang ke gawang Huda, dengan hanya dua gol yang mampu dilesakkan barisan penyerangnya.

Sementara di babak penyisihan ISL 2014 wilayah timur, jumlah kebobolan Persela mencapai 33 gol, termasuk yang terbanyak di antara kontestan lain di wilayah tersebut. Karena hanya lebih baik dari Persepam Madura United (kebobolan 35 gol) dan Persiba Bantul (53 gol), dua tim yang menempati dua posisi terbawah di wilayah timur.

Duet stopper di jantung pertahanan, juga terlihat kurang kokoh dalam mengamankan areanya. Terlebih, Roman Golian dan Suroso yang banyak dipercaya menghuni posisi tersebut di tiga laga babak delapan besar, juga kerap terpancing emosinya. Sehingga, dengan mudah para penyerang lawan mampu mengeksploitasi kelemahan itu, untuk selanjutnya dijadikan momentum menjebol gawang Laskar Joko Tingkir.

"Kami banyak kebobolan dari bola-bola mati, para pemain bertahan sepertinya mudah terpancing untuk melakukan pelanggaran yang seharusnya tak perlu. Sebenarnya itu sudah kami evaluasi dalam persiapan jelang babak delapan besar, tapi nyatanya masih belum bisa dipraktekkan dengan baik oleh para pemain," terangnya.

Harusnya, Edu, sapaan akrab Eduard Tjong, dan jajaran pelatih Persela lebih berani melakukan eksperimen, terkait pasangan Roman di jantung pertahanan. Melihat performa Suroso yang sedikit labil di babak delapan besar, ada harapan dari LA Mania agar Laskar Joko Tingkir memainkan Eky Taufiq sebagai duet Roman.

Pemain yang pernah dipanggil Timnas Indonesia U-23 tersebut, memang layak diberikan kesempatan. Terlebih, di babak penyisihan ISL 2014 wilayah timur, ia sempat beberapa kali masuk dalam daftar starting line up dan hasilnya juga tidak terlalu mengecewakan.

Terlepas dari persoalan rapuhnya dinding pertahanan, bisa jadi skuat Persela sudah merasa puas karena sudah mampu membuktikan lolos ke babak delapan besar. Manajemen Laskar Joko Tingkir di musim ini, memang hanya mematok target bisa tembus babak delapan besar kepada skuat, dan itu sudah mampu mereka buktikan.

"Target kami bisa menempati delapan besar di keseluruhan kompetisi. Artinya, di wilayah timur kami harus lolos empat besar, karena wilayah dibagi dua, timur dan barat," tegas Bupati Lamongan, Fadeli.

Itu diucapkan pria yang juga menjabat sebagai penasehat Persela tersebut, ketika menghadiri acara launching skuat Persela, sebelum kompetisi musim ini dimulai. Dan bisa jadi, ini yang membuat motivasi bertanding para penggawa Laskar Joko Tingkir kendur melakoni babak delapan besar, karena menganggap target sudah tercapai.

Meski itu mendapat bantahan dari manajer Persela, Yunan Achmadi. Karena sebagai salah satu kontestan babak delapan besar, pihaknya juga berkeinginan bisa lolos dan berlaga di semifinal. Terlebih, mereka juga bercita-cita merasakan rumput dan atmosfer berlaga di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta, yang digadang menjadi venue babak semifinal.

“Karena sudah mampu lolos ke babak delapan besar, jadi target kami naikkan. Untuk tahap awal, kami ingin memastikan lolos semifinal dulu. Setelah itu kembali tercapai, baru kami akan menatap babak final. Saya kira, peluang kami belum tertutup. Yang penting bisa memaksimalkan laga berikutnya, kami yakin Persela mampu lolos," urai Yunan.

Apakah Persela akan tetap mempertahankan statusnya sebagai tim yang benar-benar kuda hitam, atau hanya sekedar pelengkap penderita di fase delapan besar musim ini? Menarik untuk dinantikan, lantaran masih ada tiga laga sisa di putaran kedua babak delapan besar.

Pelita Bandung Raya tampil menggebrak dengan menduduki peringkat empat babak penyisihan wilayah barat ISL. Hal yang tak mampu diprediksi banyak pihak. Maklum, dengan berbekal skuat usia muda dengan perpaduan pemain senior, PBR tampil sebagai kuda hitam mampu menyingkirkan tim yang lebih mapan dan punya nama besar semisal Persija Jakarta dan Sriwijaya FC.

Laju kencang PBR tak tertahan dimulai saat ditahan imbang 1-1 oleh Persija Jakarta (14/8) di Gelora Bung Karno. Setelah itu, Bambang Pamungkas dan kolega menyapu bersih empat laga berikutnya. Mereka bahkan tampil produktif dengan mencetak 13 gol dalam enam partai pamungkas.

Namun, kini daya magis Dejan Antonic dalam meramu tim seolah lenyap. PBR harus puas menjadi juru kunci grup L dengan raihan satu poin dalam tiga laga. Apa yang membuat permainan PBR tiba-tiba menurun? Dari segi semangat juang di lapangan, permainan Kim Kurniawan tak banyak berubah. Bahkan mereka tampil lebih trengginas dengan tempo tinggi. Hal yang terlihat saat melakoni Derby Bandung kontra Persib Bandung.

Ya, disinilah kelemahan PBR terlihat. Praktis PBR tak bisa melakukan variasi dari segi taktik. Berbekal skuat yang ‘itu-itu saja', Dejan pun tak leluasa memadupadankan beberapa pemain dan mencari alternatif strategi lain. Persib yang dalam dua laga di penyisihan wilayah barat tak pernah menang, akhirnya mereka mampu mengalahkan PBR.

Artinya, gaya permainan PBR sudah bisa di baca lawan. Modul 4-2-3-1 yang diusung Dejan tak banyak melakukan perubahan pada setiap pertandingan. Rasanya, taktik itu sudah usang. Lihat saja starting XI PBR dalam tiga laga di Grup L. Kuartet lini belakang selalu diisi Wildansyah, Hermawan, Boban Nickolic, Dias Angga, dan diselingi oleh Nova Arianto.

Di lini tengah, Kim Kurniawan nyaris tak terganti sebagai motor serangan yang diimbangi oleh Rizky Pellu dan Iman Pathurohman sebagai gelandang pengangkut air. Praktis, hanya Agus Indra yang sesekali dipakai untuk kombinasi. Sementara posisi sayap, David Laly dan Musafri pasti dan selalu menjadi andalan Dejan. Sepeninggal Gaston Castano, pos tunggal striker diemban Bepe yang kondisinya terus di forsir karena tak memiliki pengganti sepadan.

Dengan demikian, tak mudah rasanya mengulik kekuatan PBR yang selalu membangun serangan dari Kim kemudian mengalirkan bola ke sayap, dan mengirim bola ke jantung pertahanan lawan. Hal tersebut sudah sering terlihat dan lawan yang mereka hadapi pun punya cara jitu mematikan serangan tersebut. Tengok saja hasilnya, di Grup L, The Boys Are Back tak mampu mencetak satu gol pun!

Nama Bepe lenyap seketika dari papan skor. Mungkinkah Bepe kelelahan karena terlalu sering dimainakan? Dejan harus berpikir keras mencari solusi dekadensi performa yang dialami anak asuhnya. Selain faktor di lapangan, aspek psikologis pemain juga berpengaruh.

Lolosnya PBR ke delapan besar disambut suka cita. Para pemain terlelap dalam euforia. Dejan pernah berujar rasanya seperti juara ISL saat tim dipastikan lolos delapan besar. Manajemen pun mengganjarnya dengan bonus. Padahal pada awal musim mereka hanya ditargetkan mengisi pos papan tengah.

Kini, pencapaian mereka sudah melebihi target. Mungkinkah para pemain sudah puas dengan tampil di delapan besar? Mungkin saja, namun Dejan sendiri mengutarakan ketidakyakinan dirinya dengan peluang lolos yang dimiliki PBR

“Saya sendiri tidak terlalu yakin kami akan ke semi-final. Saya cuma mau bilang kami semua tetap kerja keras sampai game terakhir melawan Persib. Kalau ada satu persen kesempatan ke semi-final, kenapa tidak? Kalau tidak, ya tidak masalah. Kita pulang istirahat di rumah, dan kita bikin baterai baru untuk tahun depan,” tutur Dejan.

Selain faktor takti dan psikologis, faktor lawan yang dihadapi pun sedikit banyak dapat memengaruhi pola permainan tim dan hasil akhir pertandingan. Kini para pemain PBR akan lebih sering menemui pemain yang lebih berpengalaman. Persib, Persebaya, dan Mitra Kukar bukanlah tim sembarang.

Mereka dihuni pemain langganan timnas, baik timnas senior maupun U-23 yang tentu sudah mengantongi jam terbang lebih tinggi. Ada sedikit jarak yang dialami pemain PBR ketika bertemu para pemain berlabel bintang. Hal itu diakui oleh Dejan sendiri, tepat setelah ditahan imbang Persebaya.

“Mungkin para pemain kami terlalu respek terhadap lawan. Namun penting buat kita bermain menghadapi tim besar, karena para pemain nantinya akan lebih berpengalaman,” jelas pelatih asal Serbia itu.

Kini, menyongsong putaran kedua delapan besar grup L, PBR mesti berbenah. Banyak pekerjaan rumah menanti Dejan dan staff pelatih guna mengembalikan performa tim seperti semula. Sebagai tim muda, keberhasilan PBR melaju di delapan besar tentu menjadi sebuah kejutan tersendiri. Namun, akankah kejutan PBR akan terus berlanjut? Mungkin butuh kebaikan hati Sang Dewi Fortuna
untuk mewujudkannya. (gk-43)(gk-61)

//

>

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.