Chan Vathanaka, Permata Kamboja Dengan Kaki Kiri Mematikan

Vathanaka merupakan idola terbesar publik Kamboja saat ini, sebagaimana seperti Argentina dan Brasil mengidolakan Messi serta Neymar.

"Cepat, lincah, cerdik dan penuh teknik," itulah beberapa kata yang kerap muncul dari masyarakat sepakbola Kamboja dalam menggambarkan kualitas permainan salah satu pujaan mereka saat ini, Chan Vathanaka.

Tak dimungkiri, Vathanaka saat ini menjadi harapan terbesar sepakbola Kamboja yang memang tengah mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir dan terbukti menjadi pemain yang paling bersinar di awal gelaran AFF Suzuki Cup 2016.

Dengan kecepatannya, winger yang memiliki kaki kiri mematikan itu menunjukkan kualitasnya kala membuat pertahanan Malaysia kocar-kacir, Minggu (20/11) kemarin. Meski kalah 3-2, Vathanaka memborong seluruh gol Kamboja yang salah satunya dicetak ala Arjen Robben, yakni dengan tusukan dari sisi kanan dan eksekusi akhir kaki kiri yang brilian.

Catatan tersebut membuat pemain berusia 22 tahun tersebut menjadi pemain kesepuluh Kamboja yang mampu mengemas gol di putaran final AFF Suzuki Cup. Selain itu, Vathanaka juga memiliki peluang besar untuk menyamai atau bahkan melampaui rekor enam gol Hok Sochetra sebagai pencetak gol terbanyak Kamboja.

Bagi mayoritas pemerhati sepakbola Asia Tenggara, nama Vathanaka mungkin masih terdengar asing jika dibandingkan dengan bintang-bintang lainnya seperti Teerasil Dangda, Boaz Solossa maupun Le Cong Vinh. Namun di mata publik Kamboja, Vathanaka sudah menjadi idola, sama seperti bagaimana masyarakat Argentina mengidolakan Lionel Messi atau Brasil dengan puja-puji mereka untuk Neymar.

Lahir di kota kecil bernama Kampot di selatan Kamboja, merupakan wilayah yang awalnya hanya terkenal sebagai penghasil garam terbesar sebelum kehadiran Vathanaka mengubah reputasi wilayah tersebut menjadi buah perbincangan di dunia sepakbola.

Vathanaka memulai karier profesionalnya di sepakbola setelah menempuh pendidikan sekolah menengah atas (SMA) pada 2011 lalu. Preah Khan Reach menjadi klub pertama yang dibelanya selama satu tahun sebelum dipinang raksasa Kamboja, Boeung Ket Angkor.

Bersama Boeung Ket Angkor, bakat besar pemain yang memiliki tinggi 173cm itu kian terasah. Sederet pencapaian individu sukses dibukukannya, di antaranya dinobatkan sebagai pemain muda terbaik Liga Kamboja pada 2012 lalu, yang berlanjut di tahun-tahun berikutnya dengan menjadi top skor Hun Sen Cup (2013) dan MVP liga (2014).

Meski berposisi asli sebagai winger, Vathanaka piawai ditempatkan di berbagai posisi di lini depan. Ketika dimainkan sebagai penyerang lubang maupun gelandang serang, Vathanaka tetap mampu memberikan kontrbusi maksimalnya. Kombinasi kecepatan, kelincahan, ketajaman serta olah bola dengan kaki kiri yang mematikan menjadikannya sulit untuk dikawal pemain belakang lawan.

Itu terbukti tahun kemarin, kala pemain yang identik dengan nomor punggung 11 tersebut secara impresif mencetak 35 gol di Liga Kamboja atau secara total, yang menakjubkan, 60 gol di semua kompetisi termasuk dalam penampilannya di pentas internasional.

Dengan talenta besar serta rekan jejak yang mengagumkan, bukan tak mungkin Vathanaka akan menjadi rebutan klub-klub Asia khususnya Asia Tenggara di masa mendatang, sebagaimana pemain yang mengantarkan Boeung Ket Angkor menjadi kampiun Liga Kamboja musim ini sudah mendapat kesempatan untuk melakoni trial di Jepang bersama Fujieda MYFC.

"Vathanaka telah berkembang sangat pesat dan menjadi terkenal baik di dalam maupun mancanegara. Pencapaian fantastisnya tak lepas dari kerja keras dan usaha maksimal akan membawanya terus berkembang menjadi lebih besar baik bersama klub maupun tim nasional," tutur Be Makara selaku manajer Boeung Ket Angkor.