Chelsea Juara Dengan Mudah, Tapi Tantangan Berat Menanti

Chelsea meraih gelar liga kedua dalam tiga tahun terakhir, tetapi tantangan yang sesungguhnya terhampar di musim depan.

Selamat kepada Chelsea atas gelar juara Liga Primer Inggris yang baru saja mereka rengkuh. Selamat kepada Antonio Conte karena meraih titel di musim perdananya di Inggris. Ini memang bukan pencapaian unik, namun Conte dan pasukannya telah menuntaskannya secara efisien. Mampu memimpin liga sejak matchday 12 hingga 38 adalah sebuah pencapaian luar biasa.

Carlo Ancelotti juga pernah menjadi kampiun di musim perdananya di Liga Primer, namun ia harus kehilangan pekerjaannya semusim berselang karena gagal memenuhi ekspektasi di Liga Champions. Claudio Ranieri bahkan harus dipecat setelah mengukir dongeng di Leicester City. Inilah yang harus diwaspadai Conte agar tidak mengikuti jejak kedua kompatriotnya itu.

Ditilik dua musim terakhir, dua tim juara bertahan (Chelsea 2014/15 dan Leicester 2015/16) sama-sama tertatih-tatih di musim berikutnya dan bahkan sempat berkubang di zona degradasi. Chelsea 2016/17 mungkin tidak akan bernasib sama, namun Conte harus menyadari bahwa titel di musim ini diraih dengan catatan: tim-tim rival bermain di kompetisi Eropa, sementara mereka tidak. Kinerja Conte tidak bisa dinilai dari satu musim saja. Tantangan lebih berat menanti di musim depan.

Di musim ini, Conte dan para pemainnya telah menciptakan standar permainan yang sulit disamai para rivalnya. Rentetan 13 kemenangan beruntun terbukti menghadirkan akselerasi bagi Chelsea menuju tangga juara. Dalam 13 laga berikutnya Chelsea memang menjatuhkan sepuluh poin, namun mereka tetap tak terkejar.

Tim terbaik akhirnya keluar sebagai pemenang. Chelsea pantas mendapatkan status itu dan mereka juga layak dipuji karena berhasil bangkit dari keterpurukan di musim lalu, musim yang mengakhiri era Jose Mourinho jilid dua. Pemain yang musim lalu tampil payah seperti Eden Hazard, Pedro Rodriguez, dan Diego Costa kini mampu bersinar di bawah arahan Conte.

Conte menemukan sebuah sistem yang disukai para pemainnya. Tiga bek di lini belakang memberikan keseimbangan dan skema serangan balik mereka sangat mematikan. Perubahan taktik ini bermula dari kekalahan beruntun kontra Liverpool (2-1) dan Arsenal (3-0) pada akhir September lalu yang membuat Chelsea sempat terbenam di peringkat enam. Dan sejak saat itu, Chelsea tak terbendung.

Chelsea sendiri sangat diuntungkan dengan jadwal yang lebih lengang ketimbang rival-rivalnya di papan atas. Dengan hanya bermain sekali dalam sepekan, Conte punya banyak waktu untuk bekerja secara lebih mendetail. Keistimewaan semacam ini tidak dimiliki oleh tim-tim top lain, yang harus bermain tiga atau empat hari sekali.

Conte mampu menyiapkan sebuah partai liga dengan ideal. Ia punya cukup waktu untuk mengistirahatkan para pemainnya di awal pekan. Ia juga memiliki banyak waktu untuk membangun chemistry dengan anak buahnya di lapangan latihan. Inilah faktor krusial yang dimiliki The Blues. Para pemain Chelsea selalu terlihat fit dan siap tempur di setiap pekan.

Kemenangan susah payah 1-0 atas West Bromwich Albion, Jumat (12/5), pada akhirnya menyegel titel liga di saat musim tinggal menyisakan dua partai. Faktanya, laga di The Hawthorns tersebut hanyalah laga ke-45 yang mereka jalani di musim ini.

Chelsea diuntungkan jadwal yang tidak sepadat tim-tim rival.

Bandingkan dengan Tottenham Hotspur, yang telah memainkan 50 laga di musim ini, dengan delapan di antaranya merupakan laga di kompetisi Eropa. Manchester City bermain 54 laga, yang sudah dimulai sejak Juli lalu di partai play-off Liga Champions. Sementara Manchester United bahkan telah memainkan 61 pertandingan, dengan di antaranya harus bertandang ke Ukraina dan Rusia.

Mengingat tidak disibukkan banyak laga, Chelsea tidak mengalami absensi pemain sebagaimana tim-tim rival. Tidak ada pemain starter mereka yang absen lebih dari dua laga akibat cedera atau suspensi. Conte telah memiliki Starting XI yang saklek ditambah dengan Cesc Fabregas dan Willian.

Sementara itu, rotasi pemain dari pekan ke pekan adalah hal yang tidak terelakkan di tim-tim lain. Tottenham kerap menjatuhkan poin ketika para pemain inti seperti Toby Alderweireld, Jan Vertonghen, Danny Rose, dan Harry Kane menepi akibat cedera. Ini bukan berarti Spurs bakal menang jika para penggawa reguler mereka bermain, namun problem semacam ini tidak dimiliki Chelsea.

Klub penghuni enam besar lain juga memiliki masalah serupa. Philippe Coutinho, Jordan Henderson, dan Sadio Mane telah melewatkan banyak laga bersama Liverpool. Arsenal terpaksa memainkan kiper ketiga saat kalah kontra Crystal Palace, sementara Shkodran Mustafi dan Mesut Ozil juga absen di banyak laga penting Arsenal.

Manchester United juga sudah terlalu banyak kehilangan banyak pemain penting karena cedera. Musim Manchester City mungkin tidak akan seburuk ini jika gelandang Ilkay Gundogan, bintang muda Gabriel Jesus, dan kapten Vincent Kompany tidak cedera. Sergio Aguero juga harus diskors di sejumlah partai karena gagal menjaga tempramennya.

Barangkali, Liga Primer sedang dijangkiti tren baru. Tim-tim yang tidak berkompetisi di Liga Champions lebih mudah untuk bersaing menjadi juara. Liverpool seharusnya menjadi juara di musim 2013/14 seandainya Steven Gerrard tidak terpeleset. Leicester tanpa diduga-duga bisa menjadi juara di musim 2015/16. Lalu, sebuah tim yang musim lalu finis di peringkat kesepuluh mampu mendominasi puncak klasemen di musim ini. Itu semua bukanlah kebetulan.

Liga Primer 2016/17 resmi milik Chelsea, namun tantangan yang lebih besar dan lebih berat telah menanti. Ketika situasinya sudah setara di musim depan (baca: Chelsea bermain di kompetisi Eropa), perjalanan Chelsea menuju tangga juara dipastikan tidak akan semudah seperti musim ini.