Dani Alves Yang (Masih) Agung

Bek kanan terbaik dunia yang statusnya gratisan dari Barcelona ini, kembali membuktikan bahwa kualitasnya jauh dari kata menurun.

Entah apa yang dipikirkan Barcelona ketika melepas legenda hidupnya, Dani Alves, secara cuma-cuma ke Juventus pada bursa musim panas lalu. Memang usianya sudah 33 tahun, tapi statusnya sebagai bek kanan terbaik di dunia masih belum kadaluwarsa.

Status yang saat itu mulai disangsikan oleh manajemen dan tim kepelatihan Barca, yang seakan-akan menjadikan Alves "Kambing Hitam" atas riskannya kekukuhan di lini belakang tim. Dia dinilai sudah terlalu tua dan melamban. Padahal di musim pamungkasnya, pemain asal Brasil itu masih berkontribusi besar terhadap raihan gelar Piala Super Eropa, Piala Dunia Antarklub, Copa del Rey, sampai La Liga Spanyol.

"Saya tidak pernah meninggalkan Barca. Saya tak punya masalah sama sekali dengan rekan setim. Namun ada pihak yang terus memaksa saya untuk pergi. Saya tak tahu mengapa, mereka tak pernah memberi penjelasan. Ketika saya memang tak lagi dipercaya, untuk apa saya bertahan di tempat itu," papar Alves menjelaskan alasannya tinggalkan Barca, seperti dikutip Marca.

Para petinggi Barca mungkin tertawa dan merasa keputusannya benar, ketika melihat Alves kesulitan di periode awalnya bersama Juve. Alih-alih menyadari bahwa mereka juga tengah mengalami krisis di sektor bek kanan.

Alves memang tampak kesulitan melebur dengan gaya permainan pragmatis Juve. Posisinya sebagai penggawa inti bahkan tak paten, seiring ketatnya kompetisi dengan bek kanan lawas tim, Stephan Lichtsteiner. Segalanya diperburuk akibat cedera betis yang memaksanya harus absen selama nyaris dua bulan akhir 2016 lalu.

Namun faktanya, semua hanya soal waktu. Pemain besar dan juara seperti Alves, memang selayaknya mampu beradaptasi dengan situasi apapun. Bersama Juve, dia lantas membuktikan kualitas agung-nya tepat di periode krusial musim ini.

Duel leg pertama semi-final Liga Champions melawan AS Monaco, Kamis (4/5) dini hari WIB, jadi representasi terbaik kebesaran Alves. Dia melanjutkan performa luar biasanya, setelah buat eks timnya, Barca, bungkam dan menangis di fase perempat-final.

Pelatih Juve, Massimiliano Allegri, bahkan mengakomodasi formasi khusus untuk memaksimalkan peran Alves di partai ini. Meninggalkan formasi andalan 4-2-3-1, dia menggantinya jadi 3-4-2-1 dengan Alves yang jadi wing-back.

Tugas Alves jauh lebih berat di sini ketimbang ketika tempati posisi naturalnya sebagai bek kanan. Transisi cepat dalam bertahan dan menyerang wajib dilakukannya, karena formasi bisa seketika berubah jadi 4-2-3-1 dan 3-4-3. Alves harus tahu kapan dia jadi wing-back, fullback, dan wing-forward.

"Skorsing Sami Khedira, membuat saya harus menurunkan pemain yang handal dalam duel bola udara a la Monaco dan kami punya Andrea Barzagli. Alves jadi makin krusial di sisi kanan, karena saya tak bisa menurunkan Juan Cuadrado untuk melakukan transisi menyerang-bertahan dengan cepat dan baik. Sebenarnya ini taktik sederhana," terang Allegri, seperti dikutip Mediaset Premium.

Pengalaman Alves berbicara untuk emban tanggung jawab lakoni multi-peran seperti ini. Memang posisi naturalnya adalah bek kanan, tapi di Sevilla dia kerap dipasang sebagai gelandang sayap kanan. Bersama Timnas Brasil, pemain lulusan akademi Bahia ini bahkan dijadikan wing-forward oleh Carlos Alberto Parreira, kala lakoni Piala Dunia 2006.

Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah mentalitas Eropa-nya. Pernah tiga kali jadi juara Liga Champions bersama Barca, Alves bermain dengan kontrol ketenangan yang luar biasa. Jauh di atas rekan setimnya dalam partai tersebut.

Tak heran bila kemudian Alves tampil fantastis di sepanjang duel. Bersama bek sayap lawan, Nabil Dirar, Alves jadi pemain yang paling banyak terlibat dalam permainan lewat 72 sentuhan bola. Sebanyak 49 operan juga dilepaskan lewat akurasi 85,7 persen.

Alves kukuh ketika bertahan, lewat tiga tekel sukses, satu intersep, dan enam sapuan bola. Akumulasi dari angka tersebut, cuma kalah dari Giorgio Chiellini yang merupakan bek sentral.

Kombinasinya dengan Barzagli membuat Monaco gagal hasilkan satu pun umpan silang tepat sasaran dari sisi kanan pertahanan Juve. Peredaran Thomas Lemar sebagai gelandang sayap kiri Tim Merah Putih di area tersebut bahkan cuma 12 persen.

Kontribusi Alves dalam serangan Juve, juga tak kalah krusial. Dia lepaskan satu tembakan, tiga umpan kunci, dua dribble sukses, dan dua umpan silang akurat yang dampaknya signifikan untuk Si Nyonya Tua. Puncaknya tentu saja sepasang assist-nya untuk Gonzalo Higuain yang menangkan Juve lewat skor meyakinkan 2-0.

Pertama Alves melakukannya dengan cara berkelas, lewat blind-backheel yang disambut sontekan kencang Higuain. Kedua melalui spesialisasinya dalam melepaskan umpan silang superakurat, yang memudahkan El Pipita kembali catatkan namanya di papan skor.

Ini juga jadi kali pertama Alves torehkan sepasang assist dalam satu laga Liga Champions. Total tujuh assist sudah dikoleksinya musim ini, dengan empat di antaranya dihadirkan dalam turnamen tertinggi antarklub Eropa tersebut.

Performa spesial Alves tak pelak hadirkan banjir pujian. Pertama dan utama tentu saja kredit dari pelatih Juve, Allegri, yang menegaskan bahwa anak asuhnya itu sudah bisa memahami penerapan taktiknya.

"Masalah Alves di awal musim cuma soal adaptasi. Dia juga mengalami cedera, mengenal lebih dalam rekan setimnya, dan butuh memahami taktik baru. Dia sekarang sudah mengerti dan assist-nya untuk dua gol kami [hadapi Monaco] begitu luar biasa," puji Allegri lewat Mediaset Premium.

Legenda sepakbola Italia yang juga pandit sepakbola, Walter Zenga, sampai memandang Alves bermain layaknya bomber fenomenal Monaco, Kylian Mbappe, yang masih berusia 18 tahun.

"Alves tampil luar biasa di pertandingan ini, padahal dia tak dipasang pada posisi idealnya sebagai bek kanan. Pergerakannya, dua assist-nya, staminanya, saya justru merasa Alves masih berusia 18 tahun seperti Mbappe. Padahal kita tahu dia sudah masuki karier senja," sanjung Zenga, seperti dikutip beIN SPORT.

Sekali lagi Juve mendapatkan pemain gratisan, di usia senja, dan dicap sudah habis, padahal masih jadi yang terbaik di posisinya. Setelah sukses besar dengan Andrea Pirlo, sekarang giliran Alves yang siap mengikuti jejak Il Maestro.

Ya, Dani Alves sang bek kanan terbaik dunia, Dani Alves yang (masih) agung.

Topics