"Danke, Philipp Lahm!" Sang Kurcaci Ajaib Undur Diri

Philipp Lahm menutup kariernya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah modern Bayern Munich.

“Vom Kind unserer Stadt zur Legende unseres Vereins”

Demikian tulisan besar yang terpampang di tribun selatan Allianz Arena, Sabtu (20/5), jelang kick-off laga pamungkas Bundesliga Jerman 2016/17 antara tuan rumah Bayern Munich dan Freiburg.

“Ini sangat emosional. Apa yang saya alami dengan para fans, tim, dan rekan-rekan saya di sini adalah untuk yang terakhir kalinya. Sepakbola adalah hidup saya. Saya akan merindukannya,” kata Lahm.

Kalimat itu -- diterjemahkan "dari anak kami sendiri berkembang menjadi legenda" -- merupakan salam perpisahan dari fans Bayern kepada Philipp Lahm, yang telah memutuskan gantung sepatu di akhir musim ini. Diiringi gambar mosaik dirinya, nyanyian kompak fans, sampai seperangkat alat golf, seremoni laga terakhir Lahm ini sukses membuatnya menangis.

Lahm memang figur yang merepresentasikan Bayern itu sendiri. Sebagaimana kalimat dalam pesan di atas, ia memang anak kandung dari Bayern. Lahir di Munich, fans Bayern sejak kecil, sempat menjadi anak gawang di Olympiastadion Munich, masuk akademi Bayern, dan akhirnya bertransformasi menjadi legenda hidup Die Roten.

Meski sempat dipinjamkan ke Stuttgart selama dua musim, Lahm tetaplah ikon Bayern. Total, ia telah melakoni 517 laga bersama The Bavarians dan sukses meraih 22 trofi di sepanjang kariernya, termasuk treble bersama Bayern dan Piala Dunia 2014 bersama timnas Jerman.

Tak heran, Bayern memberikan anugerah Hall of Fame kepadanya. Status ini termasuk sakral karena mencakup para legenda klub seperti Lothar Matthaus, Karl-Heinz Rummenigge, Franz Beckenbauer, Sepp Maier, Gerd Muller. Lahm menjadi pemain Bayern pertama yang mendapat anugerah itu setelah Oliver Kahn pada 2008.

Publik Jerman menjulukinya The Magic Dwarf, Si Kurcaci Ajaib. Perawakannya yang kecil (170 cm) tidak mengerdilkan karakternya yang berwibawa dan dihormati di dunia sepakbola.

Di dalam lapangan, Lahm bukan cuma dikenal sebagai salah satu full-back terbaik di dunia maupun pemimpin teladan bagi rekan setimnya, namun ia juga merupakan seorang olahragawan sejati. Ia mampu mengakhiri karier sepakbolnya tanpa sekalipun menerima kartu merah.

Di luar lapangan, Lahm dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Ia telah memiliki keluarga kecil bersama sang istri Claudia Schattenberg dan seorang anak laki-laki Julian, mendirikan organisasi nirlaba untuk membantu anak-anak telantar.

Philipp Lahm FC Bayern 20052017

Philipp Lahm, Bayern Wolfsburg, 29042017

Melihat warisan Lahm yang tidak ternilai, banyak pihak yang menyesalkan pilihannya untuk gantung sepatu secara dini, yakni di usia 33 tahun. Ia juga menolak untuk menjadi direktur olahraga Bayern. Keputusannya sudah bulat.

"[Pelatih] Carlo Ancelotti beberapa kali berusaha mengubah pikiran saya, tetapi saya tetap pada pendirian. Berhenti di puncak karier adalah sesuatu yang bagus. Saya tak sabar menjalani kehidupan yang simpel, seperti menjalani hari-hari normal bersama keluarga saya,” kata Lahm seperti dikutip Bundesliga.com.

Bayern pada akhirnya menghadirkan perpisahan manis kepada Lahm lewat kemenangan 4-1 atas Freiburg. Di menit ke-87, ia ditarik keluar dan disambut oleh gemuruh tepuk tangan dan standing ovation di seisi stadion. Lahm berpelukan dengan rekannya satu per satu sebelum melangkah keluar lapangan untuk selama-lamanya.

Lahm barangkali adalah figur sempurna untuk mendefinisikan karier seorang pesepakbola. Ia bermain di klub masa kecilnya, loyal, nol kontroversi, bergelimang trofi, dan menjadi seorang legenda.