DEBAT: Butuh 'Overhaul' Liverpool?

Masalah utama sudah diidentifikasi, sekarang Liverpool tinggal mencari solusi.

OLEH MOHAMMAD YANUAR Ikuti @mohammadyanuar di twitter
Brendan Rodgers sudah lempar handuk. Di dunia tinju, itu berarti menyerah. Ya, manajer Liverpool itu sudah menyerah dalam persaingan menuju puncak klasemen Liga Primer Inggris untuk merebut titel juara di musim ini.

Sejatinya, kans juara Liverpool masih terbuka. Hanya saja, mereka harus berharap dan berdoa Manchester City terpeleset di dua laga sisa ketika melawan Aston Villa dan West Ham United.

Namun, dengan tren positif ditunjukkan Citizen, Rodgers menilai kans juara Liverpool mengecil. Tapi setidaknya, target awal menembus Liga Champions bisa terpenuhi. Itu satu-satunya hiburan buat pemain Liverpool saat ini.

Lalu apa masalah yang begitu mendasar buat Liverpool? Rodgers punya jawabannya.

"Kami sudah mencetak 99 gol, sebuah pencapaian yang fenomenal untuk sebuah tim. Tapi, kami gagal dalam bertahan," ujar Rodgers di BBC.

"Tidak ada gunanya mencetak gol sebanyak itu, jika kami bertahan seperti malam ini."

Ya, itulah masalahnya. Pertahanan. Mungkin, bila Anda melihat potensi pemain belakang yang dimiliki The Reds, tak ada yang bisa menyanggah bila pemain seperti Daniel Agger, Martin Skrtel, Mamadou Sakho hingga Jon Flanagan memiliki kualitas di atas rata-rata, termasuk juga kiper Simon Mignolet. Tapi itu hanya catatan personal, bukan kolektif sebagai tim atau unit.

Bayangkan saja, delapan laga terakhir yang sudah dijalani, hanya sekali clean sheet bisa dicatat. Clean sheet itu terjadi saat Liverpool menghajar Tottenham Hotspur pada 30 Maret dengan skor 4-0.

Bahkan pada lima laga terakhir, gawang Liverpool yang dijaga Mignolet kemasukan sepuluh gol. Untuk tim sekelas Liverpool, catatan itu harusnya tidak terjadi. Apalagi ketika kompetisi memasuki periode krusial.

Ini memunculkan spekulasi akan ada perombakan besar-besaran di sektor pertahanan Liverpool. Di bursa transfer, pemain belakang akan mendapat sorotan khusus.

Dimulai dari sektor kiper, Simon Mignolet. Dari 36 laga, 3240 menit, tujuh kesalahan dalam bertahan dilakukannya. Tapi dia juga melakukan 70 penyelamatan. Pertanyaannya, apakah itu cukup baik buat Liverpool? Rupanya tidak. Harus diakui, Mignolet bisa tampil melebihi ekspektasi di musim ini.

Dengan nasib Pepe Reina belum dipertegas Liverpool, bukan tidak mungkin kiper Spanyol itu kembali ditarik ke Anfield. Tujuannya jelas, meningkatkan level persaingan di posisi kiper, yang tentunya berimbas pada kecakapan penjaga gawang di bawah mistar di laga resmi.

Di sektor belakang, kuartet bek Liverpool harus banyak dievaluasi sebagai unit, mengingat secara personal penampilan mereka sudah bagus. Ini PR besar buat Rodgers menyambut kompetisi musim depan, di mana akan ada empat kompetisi yang akan diikuti Steven Gerrard cs.

Melepas pemain yang minim kontribusi juga bisa menjadi opsi. Sebutlah Kolo Toure. Pemain Pantai Gading ini sudah membuat sejumlah blunder di musim ini dan tak menunjukkan performa yang bisa meminimalkan kritik terhadapnya.

Namun, menyalahkan lini pertahanan saja juga bukan hal yang adil. Tim sebagai sebuah unit juga harus berbagi tanggung jawab atas kegagalan ini. PR inilah yang kini ada harus dituntaskan Rodgers.

PR utama Rodgers lainnya, selain memperbaiki kualitas lini belakang sebagai suatu unit, adalah bisa membuat pemainnya fokus penuh sepanjang 90 menit, tidak kurang dan harus lebih. Masalah konsentrasi sempat menjadi kendala tersendiri dan blunder, seperti saat ditahan Crystal Palace 3-3 dinihari tadi. Harus diakui, menurunnya fokus pemain menjadi masalah pelik yang harus dicarikan solusinya oleh Rodgers.

Revolusi berikutnya adalah dengan mendekatkan kualitas pemain inti dan cadangan untuk lebih menyeimbangkan tim.

Harus diakui, apa yang diungkapkan Jose Mourinho dengan menyebut Liverpool diuntungkan karena tak bermain di kompetisi Eropa untuk bisa bersaing di papan atas Liga Primer Inggris bisa dibenarkan. Dengan kondisi ini, masa istirahat pemain Liverpool lebih banyak dan setiap laga bisa menurunkan starting eleven terbaik mereka.

Hal itu berimbas pada munculnya jurang perbedaan kualitas antara pemain dari tim utama dan pemain cadangan. Bandingkan Bradley Jones dengan Mignolet, atau Aly Cissokho dan Martin Kelly dengan Jon Flanagan dan Glen Johnson. Bagaimana juga hasilnya bila Luis Alberto serta Victor Moses dibandingkan dengan Jordan Henderson dan Raheem Sterling, atau Iago Aspas dengan Daniel Sturridge. Anda mungkin akan melihat perbedaan besar dalam kontribusi karena jam terbang mereka juga mengalami perbedaan signifikan.

Bila Liverpool ingin bisa kompetitif, seharusnya tak ada perbedaan yang cukup signifikan di antara kelompok pemain ini. Musim depan, perbedaan tersebut harus diminimalkan.

Apabila Rodgers bisa menuntaskan PR-nya dengan baik, ditambah motivasi Steven Gerrard dkk untuk bisa mengakhiri dahaga gelar juara di musim depan, bukan tidak mungkin musim 2014/15 akan menjadi musim yang spesial buat The Kop. Make us dream, Liverpool!

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics