DEBAT: Mengapa Mundur Sekarang, Antonio Conte?

Hanya satu pertanyaan itu yang terus terbesit setelah Conte memutuskan mundur sebagai pelatih Juventus. Ya, kenapa sekarang?

OLEH MOHAMMAD YANUAR Ikuti @mohammadyanuar di twitter

Dinihari tadi, kabar besar datang dari Italia. Juventus ditinggal pelatih mereka, Antonio Conte. Mengejutkan? Tentunya. Pasalnya Conte mundur di saat tim sedang bersiap menghadapi musim kompetisi berikutnya.
Jangan bicara dulu alasan kepergian Conte, karena memang sejauh ini tidak jelas apa yang menjadi pertimbangan mantan gelandang Italia itu memutuskan hengkang.

Pertanyaan besar yang muncul adalah momen di mana Conte memutuskan untuk mundur. Mengapa sekarang? Mengapa tidak saat kompetisi musim 2013/14 berakhir?

Momen ini bisa dikatakan sangat merugikan Juventus. Mundurnya Conte berarti akan ada pelatih baru yang akan ditunjuk, yang berarti akan ada program latihan baru pula yang akan diterapkan di tim. Padahal saat ini seharusnya tim sudah bersiap untuk menjalani program pramusim dengan nyaman.

Tak hanya program latihan, rencana klub untuk beraktivitas di bursa transfer musim panas pun terkena imbasnya. Akan ada revisi besar-besaran disesuaikan dengan budget, kebijakan transfer klub dan keinginan serta rencana allenatore Juventus yang baru untuk mendatangkan pemain baru.

Tak salah pula jika banyak transfer yang akan terjadi yang melibatkan Juventus disebut media Italia terhenti dengan sendirinya. Patrice Evra kabarnya menunda kepindahannya dari Manchester United, pun demikian dengan Paul Pogba dan Arturo Vidal yang hendak meninggalkan Juventus. Pihak klub masih menahan mereka. Alvaro Morata dan Iturbe juga masih harus menunggu siapa yang akan menjadi 'pendamping' mereka di musim depan.

Kondisi tim kini juga tak bisa dikatakan kondusif. Sesi latihan pramusim, yang sudah berjalan dua hari, untuk sementara tidak jelas akan dijalankan seperti apa. Mungkin pemain sekelas Gianluigi Buffon, Andrea Pirlo dan yang lainnya untuk sementara hanya berlari-lari kecil sekadar menghangatkan tubuh sembari menunggu pelatih yang baru.

Ya, mundurnya Conte menjadi pukulan telak tersendiri buat Juventus. Bukan hanya karena kontribusi yang sudah ditunjukkannya buat tim, tapi juga karena rencana apa yang diusungnya untuk beberapa tahun ke depan yang dia jabarkan sebelumnya.

Keputusan meninggalkan klub seharusnya bukan keputusan yang dipertimbangkan hanya dalam waktu semalam. Pun demikian, ada segudang pertimbangan yang harus dilakukan. Masalah perselisihan paham mengenai kebijakan transfer juga sepertinya bukan satu-satunya masalah. Lalu apa yang jadi pokok masalahnya?

Mengetahui hal ini bukanlah perkara mudah. Buffon, kapten Juventus, saja tak tahu dengan pasti alasan pengunduran diri Conte. Lumrah juga mengingat masalah kontrak Conte sudah dituntaskan Mei lalu. Ketegangan di tim? Sepertinya tidak.

Bisa jadi, Conte khawatir dengan kemungkinan kegagalan dirinya memenuhi ekspektasi yang dibebankan klub. Baca saja surat terbuka presiden Andrea Agnelli.

"Hanya dua bulan sejak kemenangan besar dan Juventus harus terus melanjutkan perjalanan sukses mereka. Klub diberkati dengan grup pemain muda, siap dan dengan grup direktur yang padu, yang mampu memenuhi ambisi dan determinasi meraih target apa pun."

Ya, target apa pun. Alasan itu yang mungkin menjadikan Conte memilih untuk tidak menjawab tantangan klub. Pasalnya, kebijakan transfer yang dipegang klub tidak sejalan dengan target yang dipasang. Niatan klub menjual Vidal dan Pogba menjadi salah satu gelagat buruk yang ditangkap Conte. Padahal keduanya memegang peran penting keberhasilan Juventus meraih trofi juara dalam beberapa musim terakhir. Jika keduanya hilang dari tim, Juventus mungkin tak memiliki struktur yang cukup bersaing di Liga Champions.

Namun, masalah ini diyakini sudah muncul sejak lama. Di permukaan, orang di luar klub tak akan bisa menerkanya. Tapi di internal tim, bisa jadi kondisinya seperti kolam magma, panas dan siap meletus. Ada kendali informasi yang cukup efektif dijalankan sehingga kabar keretakan ini tak sampai tersiar keluar. Ditambah perhelatan Piala Dunia 2014, panasnya situasi di internal manajemen Juventus pun ikut teralihkan.

Tapi apa pun itu, skuat Juventus sudah pasti menjadi pihak paling merugi atas perpisahan ini. Harus diakui, Conte meninggalkan klub di waktu yang tidak tepat. Juventus memulai musim ini dalam keadaan chaos. Pertanyaan lain, mampukah rival Bianconeri memaksimalkan situasi ini untuk mengakhiri dominasi di kancah Serie A Italia musim depan?

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics