DEBAT: Scudetto 2014/15 Milik Siapa?

Dengan hengkangnya Antonio Conte dari Juventus, peluang juara Serie A Italia musim ini bakal terbuka lebar. Saatnya Napoli dan AS Roma unjuk kekuatan?

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter

Serie A Italia memang sudah tidak seglamor dulu. Bayang-bayang ketertinggalan di banyak aspek dari liga-liga Eropa lain -- Inggris, Spanyol, Jerman, dan bahkan Portugal -- masih kentara hingga saat ini. Kendati demikian, Serie A tetaplah kompetisi yang selalu dinantikan.

Sabtu (30/8) ini para pecinta Serie A sudah bisa melepas rindu akan calcio dengan dilangsungkannya giornata perdana musim 2014/15 tatkala sang juara bertahan Juventus harus melawat ke markas Chievo yang dilanjut dengan sembilan partai lain hingga Minggu (31/8) esok.

Ada satu hal mengapa Serie A musim ini akan lebih menarik ketimbang musim sebelumnya. Tiada lain tiada bukan adalah persaingan antartim semakin terbuka lebar yang tercipta menyusul kepergian mendadak Antonio Conte pada Juli lalu. Dinasti emas yang ia bangun selama tiga musim terakhir disebut-sebut akan runtuh pada musim ini.

Praktis, satu pertanyaan mencuat, apakah Massimiliano Allegri adalah suksesor yang pas? Dan di saat yang bersamaan pula, dua pesaing terdekat mereka di musim lalu, AS Roma dan Napoli, kian matang dan sudah menunjukkan potensi serius untuk mencegah Juve menggenggam quat-trick scudetto di musim ini.

Bagaimana peluang ketiga tim tersebut? Atau malah Internazionale, AC Milan, dan Fiorentina yang muncul sebagai kuda hitam dan menjadi pengganggu trio kuda p­acu ini?

Juventus adalah tim yang paling menarik dibahas dalam persaingan menuju scudetto di musim ini. Bagaimana tidak, tiba-tiba banyak orang melupakan bahwa Juventus adalah sang juara bertahan dan sang raja rekor di musim lalu hanya gara-gara seorang Massimiliano Allegri yang kini duduk manis di bangku pelatih menggantikan Antonio Conte.

Memang kita semua tahu, faktor pelatih begitu krusial dalam sepakbola. Apalagi jika sang pendahulu adalah ikon klub yang disegani dan sanggup membangun rezimnya dengan sukses. Pergeseran Sir Alex Ferguson ke David Moyes yang merusak Manchester United bisa dijadikan contoh mutakhir.

Para peragu Juventus akan berpijak pada kasus United tersebut. Jika satu rezim runtuh, maka butuh waktu transisi sekitar satu-dua tahun untuk membangun kembali kesuksesan. Benarkah demikian? Hanya Allegri seorang yang bisa menjawabnya dengan taktik, strategi, dan performa anak asuhnya di lapangan.

Skuat Juventus praktis tak banyak berubah. Komposisi lini tengah sebagai kekuatan utama tim masih dipertahankan. Kendati Arturo Vidal masih mungkin hijrah sebelum 1 September, Juventus masih punya Paul Pogba, Andrea Pirlo, dan Claudio Marchisio yang tak perlu disangsikan kualitasnya. Semua Juventini menanti daya magis Allegri seperti musim 2010/11 di AC Milan. Ketika itu, dengan materi pemain mapan, Allegri mampu meracik skuat juara di musim debutnya bersama Rossoneri itu.

Andai Juventus kembali juara, barangkali mereka tidak akan sedominan musim lalu -- mampu memenangi seluruh laga kandang, mencatat 102 poin yang merupakan angka terbanyak dalam sejarah sepakbola Italia, dan punya margin 17 angka dari runner-up. Tidak, tidak semudah itu. Tapi, peluang juara lantas tidak hilang sepenuhnya.

Musim lalu adalah musim di mana AS Roma paling mendekati scudetto sejak 2000/01 – musim terakhir kali mereka merengkuh titel Serie A itu. Pelajaran kini telah dipetik oleh armada Rudi Garcia dan ditambah dengan kedatangan banyak pemain berkualitas di musim panas ini, Roma punya seluruh syarat untuk menjadi salah satu kandidat terkuat juara.

Giallorossi menjadi tim Italia teraktif di bursa transfer musim panas ini dengan pengeluaran sebesar €43 juta. Meski baru saja kehilangan Mehdi Benatia ke Bayern Munich, para pendatang anyar seperti Davide Astori, Ashley Cole, Seydou Keita, hingga yang termahal Juan Iturbe akan memberi suntikan lebih dari cukup untuk menyempurnakan skuat yang sudah digawangi Il Capitano Francesco Totti, Radja Nainggolan, Miralem Pjanic, hingga Mattia Destro. Lolongan Tim Serigala bakal terdengar semakin keras di musim ini.

Sebelas duabelas dengan Roma adalah Napoli. Meski mereka tak terlalu istimewa dalam bursa transfer musim panas ini, Partenopei tetaplah tim yang sudah mapan dengan pemain bintang seperti Gonzalo Higuain, Jose Callejon, Dries Mertens, Lorenzo Insigne, hingga Marek Hamsik menjadi penopang tim. Sepanjang para pemain ini fit, maka Napoli punya peluang besar untuk meraih scudetto pertama sejak 1990.

Taktik 4-2-3-1 Rafa Benitez mungkin terkesan tradisional dan kurang cocok di Italia, tapi jangan lupakan fakta bahwa pelatih asal Spanyol itu jago dalam merotasi pemain. Raihan Coppa Italia 2014 di musim perdananya di San Paolo menjadi bukti. Kegagalan Napoli menembus fase grup Liga Champions setelah disingkirkan Athletic Bilbao barangkali ada untungnya. Mereka kini bisa fokus sepenuhnya di Serie A, tidak seperti Juventus dan Roma yang harus memecah konsentrasi di kompetisi elit Eropa tersebut.

Duo Milan tetap punya peluang untuk merusak prediksi umum dari tiga tim yang telah disebutkan di atas tadi. Paling berbahaya adalah Internazionale. Bersama Walter Mazzarri, Inter dinilai berada di tangan yang tepat semenjak Jose Mourinho pada 2010 lalu. Hilangnya trio veteran Argentina barangkali akan membuat ruh tim hilang sebagian, tapi kehadiran pemain sarat pengalaman seperti Nemanja Vidic, Gary Medel, hingga Pablo Osvaldo, sudah barang tentu akan membuat Nerazzurri mengincar posisi yang lebih tinggi dari sekedar empat besar.

Sementara saudara Inter, AC Milan, memang tengah dalam periode transisi di bawah Filippo Inzaghi yang diangkat dari tim primavera. Tantangan terbesar adalah hengkangnya bintang-besar-tapi-suka-onar Mario Balotelli yang akan membuat lubang di lini depan. Tapi skema kolektif 4-3-3 kegemaran Inzaghi plus peminjaman Fernando Torres dari Chelsea akan siap mengatasi kekurangan ini. Terlempar di posisi delapan di musim lalu jelas akan membuat Riccardo Montolivo dan kawan-kawan terpacu untuk mengembalikan Milan ke tempat yang semestinya

Fiorentina hadir sebagai tim berikutnya yang siap tampil mengejutkan. Musim lalu, mereka sangat nyaman berkutat di posisi empat besar dan lolos otomatis ke Liga Europa. Pencapaian lebih baik dari musim lalu menjadi target berikutnya. Sosok kharismatik Vincenzo Montella tetap menjadi andalan Viola. Asalkan pemain kunci seperti Giuseppe Rossi, Juan Cuadrado, Alberto Aquilani, Borja Valero, dan Mario Gomez terbebas cedera, Fiorentina siap menjadi kekuatan baru yang menakutkan.

Lazio -- bersama Torino dan Parma -- diprediksi memiliki potensi sama kuat untuk menyodok enam besar sekaligus melengkapi magnificent seven, istilah yang sempat top di era 1990-an lalu merujuk pada tujuh tim Serie A yang punya peluang sama memenangi scudetto. Melihat peluang scudetto yang lebih kecil, tim menengah-atas ini akan mengandalkan konsistensi performa dan naungan Dewi Fortuna,guna tampil mengejutkan di musim ini.

addCustomPlayer('k7utgr4os0yd1grp4y3npwrlj', '', '', 620, 540, 'perfk7utgr4os0yd1grp4y3npwrlj', 'eplayer4', {age:1407083307651});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics