DEBAT: Siapa Striker Terbaik Jose Mourinho?

The Special One pernah melatih sejumlah penyerang papan atas dunia, namun siapakah yang terbaik?

PENYUSUN ERIC NOVEANTO Ikuti di twitter

Pertemuan akbar babak 16 besar Liga Champions akan dimulai pada Rabu (17/2) dini hari mendatang di Parc des Princes yang mempertemukan tuan rumah Paris Saint-Germain melawan pimpinan Liga Primer Inggris, Chelsea.

Laga itu akan membawa bos The Blues, Jose Mourinho bertemu kembali dengan bekas pemain terbesar yang pernah dilatihnya, Zlatan Ibrahimovic. Bintang asal swedia itu merupakan salah satu dari deretan striker yang pernah ditangani manajer asal Portugal itu, sementara di Chelsea, Diego Costa dan Didier Drogba juga merasakan sentuhannya.

Jadi, siapa penyerang terhebat yang perhat dilatih Mourinho? Di bawah ini, lima jurnalis Goal beradu argumen tentang hal tersebut – Anda bisa menyampaikan pendapat melalui kolom voting dan komentar yang telah disediakan.

Perlu diingat, hanya striker utama yang masuk pertimbangan, jadi penyerang lubang maupun sayap seperti Eden Hazard dan Arjen Robben tidak termasuk. Serte penilaian berdasarkan saat dibesut Mourinho, bukan keseluruhan karier mereka.

Oleh Kris Voakes

Satu musim sebelum terlihat menangis di pundak Marco Materazzi, saat mengucapkan selamat tinggal kepada Internazionale, Jose Mourinho terlihat hancur. Kepergian Zlatan Ibrahimovic menuju Barcelona dianggap pukulan telak saat ia ingin membangun tim pemenang di Liga Champions.

Dana penjualannya senilai €69.5 juta membantu Nerazzurri untuk mendatangkan nama seperti Samuel Eto’o, Diego Milito, Wesley Sneijder dan Thiago Motta, siapa sangka mereka menjadi komponen sukses peraih treble, kepergian Zlatan tetap terjadi meski Mourinho menginginkannya untuk bertahan.

Mudah untuk menemukan alasannya. Di musim pertamanya, Mou patut bangga atas Ibrahimovic. Ia sukses menjadi top skor liga untuk kali pertama, membukukan 25 gol sebagaimana Inter juara Serie A dengan keunggulan sepuluh poin.

Serangkaian kemenangan penting diamankan oleh Zlatan, yang memulai musim secara gemilang dan terus berkembang. Gol-gol krusial - terlebih gol cantik saat melawan Bologna – membuat Mourinho semringah.

Adalah penyesalan terbesar bagi salah satu pelatih tersukses itu ketika tak mampu menghadirkan gelar Liga Champions bersama dengan salah satu pemain bertalenta di muka bumi ini.

Ikuti Kris Voakes di

Oleh Greg Stobart

Jose Mourinho selalu menolak jika ditanya siapa pemain terhebat yang pernah ditanganinya, namun nyaris mengungkapkannya bulan lalu saat menyebut Didier Drogba sebagai salah satu pembelian berharga Chelsea. Jelas jika Mourinho mengakui dampak luar biasa yang dihadirkan bomber Pantai Gading itu bagi kesuksesan klub.

Ini memuncak dengan heroik di final Liga Champions 2012 (meski di bawah arahan Roberto Di Matteo) – gol penyeimbang serta eksekusi penalti yang dilakukannya kala itu seakan menjadi yang terakhir bagi Chelsea. Sebelum itu ada dua perayaan di final Piala FA dan gol tak terhitung di dalam sukses tiga gelar Liga Primer. Ia selalu menjadi pemain besar yang mendefinisikan momen besar.

Saat masa emas, Drogba adalah kekuatan yang tak terbendung. Bek terbaik di dunia pun akan terpental saat ia menggunakan kecepatan super serta kekuatan untuk mencetak gol, sementara tekniknya kerap diremehkan.

Di periode pertamanya, Drogba mengemas 157 dari 341 total penampilan, bahkan pemain 36 tahun tersebut masih memberikan kontribusinya musim ini dengan gol krusial ke gawang Manchester United dan Tottenham Hotspur.

Dua musim lalu, Drogba terpilih sebagai pemain terbaik Chelsea sepanjang masa oleh fans. Perlu orang pemberani yang memungkiri bahwa ia bukanlah pemain terhebat milik Mourinho.

Ikuti Greg Stobart di

Oleh Ben Hayward

Cristiano Ronaldo berada dalam level terbaru dalam urusan mencetak gol di bawah asuhan Jose Mourinho. Kombinasi keduanua di Real Madrid menghasilkan 53 gol bagi sang pemain pada 2010/11, 60 pada 2011/12 dan 55 pada 2012/13 – ketiganya adalah musim tersubur bagi tiga kali pemenang Ballon d’Or.

Bersama, Mourinho dan Ronaldo memenangkan gelar La Liga, Copa del Rey dan Supercopa Spanyol dalam tiga musim di Santiago Bernabeu, sesuatu yang dihadirkan mantan pelatih Chelsea itu untuk mengakhiri dominasi Barcelona baik domestik dan Liga Champions.

Ronaldo bukan striker khas Mourinho. Penyerang yang menusuk dari sayap kiri, Cristiano bukan seperti Didier Drogba maupun Diego Costa. Namun tak diragukan lagi ia adalah pemimpin kebangkitan Madrid dalam tiga musim di Santiago Bernabeu, periode yang memudahkan Carlo Ancelotti sebagai suksesor.

Minimnya gelar atau fakta Ronaldo bukan penyerang murni bukanlah berarti Drogba, Costa atau bahkan Diego Milito otomatis menjadi striker terbaik Mourinho, namun Cristiano - bersama dengan Lionel Messi – adalah pencetak gol ulung dan pencapaian 168 dalam 164 laga membuatnya mendapat tempat spesial di komposisi Mourinho.
Ikuti Ben Hayward di

Oleh Carlo Garganese

Tidak ada dalam sejarah pemain yang mampu mencetak lebih banyak gol dalam satu musim tunggal bersama sebuah klub ketimbang yang dilakukan Diego Milito saat menjadi komponen sukses treble Internazionale musim 2009/10.

Bomber tajam asal Argentina itu menyumbang gol semata wayang di laga terakhir Serie A musim itu untuk mengamankan scudetto dari ancaman AS Roma. Ia menjadi penentu di final Coppa Italia dan juga mengemas sepasang gol di final Liga Champions yang membawa Inter mengakhiri puasa gelar Eropa selama 45 tahun.

Dalam perjalanannya, Milito berulang kali menjadi penentu. Inter nyaris tereliminasi saat fase grup, kala bertandang ke Dynamo Kiev sebelum memasuki empat menit tambahan waktu. Sang pemain mencetak gol penyeimbang dan menbuat assist kemenangan. Performanya terus menanjak di fase gugur, terutama saat gemilang mengandaskan Barcelona di semi-final.

Ronaldo mungkin memiliki 168 dalam tiga musim, seperti Ibrahimovic, Drogba dan Diego Costa, mereka belum pernah memenangkan Liga Champions bersama Mourinho. Secara teknik maupun fisik, Milito mungkin tidak sama dengan yang lain. Namun dalam hal kontribusi, Mourinho tidak akan pernah menemukan penyerang yang maksimal seperti dilakukan Milito musim 2009/10.

Ikuti Carlo Garganese di

Oleh Liam Twomey

Ini mungkin menjadi perdebatan bahwa pemain yang baru memainkan 24 laga dan belum pernah memenangkan gelar bersama Jose Mourinho masuk dalam nominasi. Tapi, Diego Costa layak mendapat tempat, paling tidak karena sejauh ini ia adalah tipe penyerang yang didambakan Mourinho.

Ketika peluang Chelsea meraih juara liga musim lalu sirna akibat tidak adanya penyerang berkelas, Mourinho menyodorkan solusi dalam daftar belanjanya. Adalah striker utama Atletico Madrid yang saat itu dikaguminya dibandingkan sosok lain.

Tidak butuh waktu lama bagi Costa untuk beradaptasi di Stamford Bridge karena pada September lalu, tim yang dilatihnya jelas membutuhkan dimensi baru yang bisa dihadirkan oleh sang bomber.

Sistem permainan Chelsea membutuhkan sosok penyerang kuat yang tajam mengukir gol dan ditambah dengan kreativitas dalam memimpin serangan dan memiliki kecepatan mumpuni. Costa masuk dalam kriteria tersebut.

Daya juangnya bagi kubu Mourinho begitu besar di atas lapangan; itulah yang membuat Mourinho berjuang keras saat dirinya mendapat hukuman tiga laga. Performa impresif sejauh ini dengan torehan 17 gol menjadi jaminan sukses yang akan datang dan prestasi juara akan mengikuti.
Ikuti Liam Twomey di

addCustomPlayer('1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', '', '', 620, 540, 'perf1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', 'eplayer4', {age:1407083158258});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics