DEBAT: Sudahkah Massimiliano Allegri Mengubah Juventus?

Menjadi penerus orang sukses di klub yang sukses bukan hal yang mudah, terutama dengan ekspektasi yang begitu besar. Bagaimana dengan Allegri?

OLEH MOHAMMAD YANUAR Ikuti @mohammadyanuar di twitter

"Jika memang tidak ada yang rusak, lalu mengapa harus diperbaiki?"
Frasa tersebut sempat muncul ketika Massimiliano Allegri ditunjuk menggantikan Antonio Conte sebagai pelatih Juventus di musim ini.

Muncul pula wacana Allegri akan melakukan perombakan di skuat Juventus, mengingat gaya bermain yang diterapkan di skuat sebelumnya sedikit berbeda dengan permainan ala Conte. Tapi faktanya, di atas lapangan, tak banyak perubahan terjadi.

Allegri sepertinya tak ingin melakukan perubahan secara drastis dan dramatis. Karirnya dipertaruhkan di sini. Bagaimana tidak, Allegri menangani Juventus, yang bersama Conte telah meraih tiga scudetto, di setiap musim menunjukkan performa yang menanjak dan terus memecahkan rekor, serta memenangi setiap laga di kandang sendiri.

Situasi sepertinya tak mengizinkan Allegri untuk melakukan perubahan. Jika dibandingkan dengan Napoli saat suksesi kepelatihan dari Walter Mazzarri ke Rafael Benitez, perubahan besar dilakukan. Maklum, pemilik klub ingin menaikkan level mereka. Sementara di Juventus, di Italia, mereka sudah menjadi yang terbaik. Mempertahankan status sebagai yang terbaik menjadi prioritas, dan hal ini berimbas pada perubahan yang terjadi.

Conte sendiri sebelum mundur melakukan perubahan di timnya. Dengan 4-3-3, harapannya formasi tersebut bisa membawa Juventus tampil lebih baik di Eropa. Oleh Allegri, Juventus kembali diubah menjadi 3-5-2. Alasannya, Allegri tak punya banyak opsi di sektor belakang. Andrea Barzagli masih istirahat usai operasi, sedangkan Giorgio Chiellini, selain karena diskors, juga dibebat cedera.

Namun dari sisi permainan, Allegri bisa dikatakan melakukan perubahan dari skuat era Conte. Gaya menyerang dengan permainan kaki ke kaki masih dipertahankannya. Mereka yang memegang peran krusial juga diposisikan sama seperti Conte mengatur timnya. Lihat saja statistik di bawah ini, yang mana perbedaannya tak cukup signifikan. Allegri menambah kualitas dalam hal penguasaan bola, strategi yang begitu dikuasainya.

Perubahan lain yang mungkin terlihat adalah start lambat yang ditunjukkan Juventus era Allegri. Langsung menggeber tekanan secara frontal dan penuh kecepatan bukan gaya Allegri. Dia lebih memilih untuk mempertahankan stamina skuatnya, menggebrak secara perlahan tapi konstan. Lihat saja bagaimana Juventus ketika menghadapi Chievo Verona dan Udinese, plus Malmo di Liga Champions. Sekali lagi, yang diutamakan bagi Allegri adalah penguasaan bola.

Claudio Marchisio pun menegaskan hal itu. Penguasaan bola meningkat dari 55 ke 66 persen. Umpan yang dilakukan juga lebih banyak dibanding era Conte, dan juga lebih akurat.

"Sebelumnya, kami memiliki rencana bermain yang lebih jelas. Praktisnya, setiap pergerakan sudah direncanakan dan kami setia padanya meski, mungkin kondisi fisik kami tidak berada di kondisi terbaik," jelas Marchisio.

"Bersama Allegri, kami lebih banyak menguasai bola dan ketimbang harus ngotot, terutama menghadapi tim dengan karakter bertahan, momen ini kami gunakan untuk menjaga energi kami. Anda tak bisa terbang ribuan kilo per jam dan Anda kelelahan sehingga sulit bagi Anda mendapatkan bola. Makanya lebih baik mengumpan bola di antara kami sendiri di situasi tertentu."

Ketika ditanya apakah itu berarti Juventus memainkan Tiki-Taka secara sederhana, Marchisio menjawab: "Ya."

Jadi apakah ini menjadi gaya Juventus ala Allegri saat ini? Menurut Anda?

addCustomPlayer('k7utgr4os0yd1grp4y3npwrlj', '', '', 620, 540, 'perfk7utgr4os0yd1grp4y3npwrlj', 'eplayer4', {age:1407083307651});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics