Derby Shanghai, Rivalitas Yang Kini Berbalut Ambisi Identik

Dominasi Guangzhou Evergrande di kancah sepakbola Tiongkok yang sudah berlangsung lama secara tak langsung membuat Shanghai Shenhua dan Shanghai SIPG kini berbagi ambisi.

Sudah lebih dari setahun terakhir dunia sepakbola digemparkan dengan manuver transfer klub-klub Tiongkok yang memiliki dukungan finansial luar biasa dan seakan tak memiliki batasan.

Memasuki musim dingin ini, langkah klub-klub Negeri Tirai Bambu tersebut semakin 'menggila' dalam membelanjakan dana melimpah mereka, dengan total pengeluaran sejak awal menembus kisaran angka €400 juta menurut data Transfermarkt.

Guangzhou Evergrande adalah pelopornya. Pada Juli 2011 lalu, klub yang kini dimiliki oleh perusahaan real estate terbesar kedua di Tiongkok dan perusahaan e-commerce Alibaba, merekrut Dario Conca dari klub Brasil, Fluminense senilai €10 juta dengan gaji €26,5 juta untuk dua setengah tahun, menjadikannya pemain dengan penghasilan termahal ketiga di dunia pada waktu itu.

Kedatangan gelandang asal Argentina tersebut diikuti oleh nama-nama besar lainnya seperti Paulinho dari Tottenham Hotspur yang ditebus €14 juta pada 2015 lalu serta memboyong Jackson Martinez dari Atletico Madrid dengan nilai transfer fantastis €42 juta setahun berselang.

Revolusi total yang dilakukan Guangzhou Evergrande tersebut tergolong sukses, mengangkat reputasi klub dari yang relatif biasa-biasa saja hingga akhirnya mampu mendominasi dengan raihan enam gelar Chinese Super League (CSL) beruntun (2011, 2012, 2013, 2014, 2015 dan 2016) serta berbicara banyak di kancah Liga Champions Asia dengan prestasi juara pada edisi 2013 dan 2015 lalu.

Seiring dengan berkembangnya kondisi finansial Tiongkok dan didukung dengan kiat pemerintah untuk memajukan sepakbola lokal, sejumlah taipan mulai berlomba-lomba untuk berinvestasi dengan harapan mendapatkan kesuksesan serupa. Prestasi Guanzghou Evergrande menjadi tolok ukur, tim-tim lain pun berambisi untuk mematahkan dominasi mereka.

Sejak Desember lalu, duo Shanghai yakni Shanghai Shenhua dan Shanghai SIPG menunjukkan keseriusan mereka untuk bisa menjadi klub terbaik selanjutnya di Tiongkok dengan aktif di bursa transfer. Keduanya menutup kampanye tahun 2016 kemarin masing-masing di posisi ketiga dan keempat dan tahun ini sudah pasti mereka menginginkan hasil lebih memuaskan.

Rivalitas kedua tim asal Shanghai tersebut secara gairah sejatinya tak sebesar beberapa laga Derby di negara-negara Asia lainnya semisal Esteghal FC dan Persepolis di Iran, FC Seoul dan Suwon Samsung Bluewings di Korea Selatan, East Bengal dan Mohun Bagan di India, atau bahkan klub Indonesia, Persib Bandung dan Persija Jakarta.

Persaingan kedua tim sebenarnya sudah berlangsung sejak dua dekade terakhir, namun tak begitu terlihat sebagaimana Shenhua yang sudah berusia 65 tahun selalu menjadi klub yang terdepan di Shanghai dalam hal reputasi maupun finansial terlebih dengan dukungan perusahaan real estate Greenland Holding Group sejak dua tahun lalu.

Selama itu pula SIPG yang memiliki nama awal Shanghai Dongya saat didirikan oleh Xu Genbao pada 1995 silam selalu menjadi bayang-bayang Shenhua. Perjuangan klub untuk meningkatkan reputasi mendapat dorongan besar dengan adanya investasi besar yang dilakukan -- operator pelabuhan -- Shanghai International Port Group (SIPG) pada 2012 lalu sebelum mengakuisisi sepenuhnya tiga tahun kemudian.

Dengan dukungan finansial yang nyaris setara, perlahan SIPG mulai mampu menjadi seteru sengit Shenhua. Sejumlah laga panas pun tak terhindarkan dan salah satu yang 'mengerikan' berlangsung pada 17 Juli tahun kemarin, kala kedua tim saling sikut di papan atas CSL. Laga yang dimenangkan Shenhua dengan skor 2-1 itu memakan korban dengan cedera patah kaki yang dialami bintang mereka, Demba Ba.

Perseteruan pun sudah mencapai level suporter, dengan pendukung Shenhua memiliki sentimen besar terhadap keberadaan SIPG yang kerap mereka sebut bukan tim yang layak menjadi wakil Shanghai. Selain di dunia maya, serangan fans Shenhua mencapai puncaknya ketika menyusup dalam salah satu laga SIPG di Liga Champions musim ini dan membentangkan spanduk bertuliskan "Hanya Shenhua yang merepresentasikan Shanghai!"

Tahun ini rivalitas dipastikan akan kian semarak dengan merapatnya sejumlah bintang ternama asal Eropa dan Amerika Latin ke kedua kubu. Carlos Tevez melengkapi legiun asing Shenhua yang sudah dihuni Fredy Guarin, Demba Ba dan Obafemi Martins. Di lain sisi, SIPG tak ketinggalan mencuri perhatian kala menggaet Oscar dari Chelsea, menyusul dua kompatriotnya asal Brasil, Hulk dan Elkeson yang sudah terlebih dahulu bergabung.

Namun, kini persaingan kedua tim bukan lagi sekadar menjadi yang terbaik di Shanghai tapi secara tak langsung mengusung ambisi identik untuk bisa mendobrak dominasi Guangzhou Evergrande yang sudah merajai pentas lokal maupun internasional.