Di Balik Kebangkitan Henrikh Mkhitaryan

Sempat terpinggirkan di awal kedatangannya, Mkhitaryan kini menjadi salah satu pemain penting Jose Mourinho. Apa kuncinya?

Ekspektasi besar menanti Henrikh Mkhitaryan begitu transfernya dari Borussia Dortmund diumumkan oleh Manchester United. Di awal kedatangannya, pemain internasional Armenia itu diharapkan mampu memberi tambahan kreativitas untuk lini tengah Setan Merah yang dirasa kurang.

Meski begitu, sang pemain yang sempat menjadi bintang di sejumlah partai pramusim ini justru terpinggirkan dan harus puas duduk di bangku cadangan ketika musim sudah dimulai. Ia dianggap belum siap dan kalah bersaing dengan Jesse Lingard serta Marcus Rashford yang lebih dipilih oleh Jose Mourinho di awal-awal musim.

Kekhawatiran pun menyelimuti suporter United, dengan mereka menduga sang pemain akan menjadi rekrutan gagal lainnya mengingat ia pernah bermain di bawah standar saat pertama kali dipercaya sebagai starter dalam kekalahan 2-1 dari rival sekota Manchester City, September silam. Di pertandingan itu, Micki hanya tampil selama 45 menit sebelum kemudian digantikan di saat jeda.

Pascalaga tersebut, nasib pemain 27 tahun itu lantas memasuki fase suram setelah mengalami cedera otot seusai membela tim nasionalnya. Dan akibat permasalahan itu, Micki pun melewatkan 32 hari di pinggir lapangan.

Seketika pulih, putra dari Hamlet Mkhitaryan ini malah mendapati dirinya semakin terpinggirkan. Namun terlepas situasinya tersebut, ia mengaku takkan mengibarkan bendera putih karena ingin mewujudkan mimpinya di United.

“Memang benar saya mendapat sedikit waktu di lapangan, tapi saya tidak akan menyerah,” tegas Mkhitaryan pada awal November. “Saya melewati jalan panjang untuk main di Manchester United, jadi tidak ada yang akan mencegah saya meraih mimpi saya. Saya tidak akan mundur. Saya akan menemukan kekuatan untuk mencapai target saya.”

Peruntungannya mulai berubah ketika ia dipercaya masuk starting XI United kontra Feyenoord di babak grup Liga Europa, yang mana menjadi penampilannya yang kedua sebagai starter sejak didatangkan dari Dortmund pada Juli lalu.

Di laga kontra Feyenoord itu, yang berakhir untuk kemenangan United 4-0, pemain asal Armenia tersebut menciptakan enam tembakan dan tiga kali membuat peluang hingga membuat Mourinho menantang sang pemain untuk melanjutkan performa impresifnya di ajang Liga Primer Inggris.

"Saya pikir Mkhitaryan hanya harus mereplika performa seperti ini di Liga Primer," ungkap Mourinho.

"Liga Primer Inggris memiliki level yang lebih tinggi dan dia harus mereplika performa itu di liga dengan lebih banyak fisik, dengan lebih banyak tekanan. Tetapi kami tahu kualitasnya, karena itu kami membawanya ke klub. Dia memiliki kualitas luar biasa."

Kepercayaan Mourinho rupanya dijawab Mkhitaryan dengan konstan. Beberapa hari setelah mencetak gol pertamanya untuk klub dalam kemenangan tandang atas Zorya Luhansk di Liga Europa, ia menunjukkan kualitasnya dengan membawa United menekuk Tottenham Hotspur 1-0 dalam lanjutan Liga Primer pada awal Desember.

Sayangnya, pertandingan itu menyisakan kekecewaan setelah ia terpaksa ditandu keluar lapangan seusai ditekel Danny Rose. Micki pun menepi sampai Boxing Day akibat kendala engkel.

Adapun saat pulih, Mourinho tidak lantas mengandalkannya sejak menit awal. Sang pemain diharuskan menunggu hingga satu jam ketika United sudah memimpin 1-0 atas Sunderland arahan David Moyes di matchday ke-18 kemarin.

Di partai itu, Mkhitaryan tercatat baru dimasukkan di menit ke-62, namun ia sukses menginspirasi timnya tampil lebih baik dan mencetak gol ala Zlatan Ibrahimovic seusai memanfaatkan assist pemain Swedia tersebut.

Gol yang ia cetak itu membantu United menggenapi skor menjadi 3-0, sebelum Fabio Borini memperkecilnya di masa injury time yang mana tidak lagi berarti.

Seusai pertandingan, Mkhitaryan tak ragu menyebut itu sebagai lesakan terbaiknya: “Itu adalah gol terbaik yang pernah saya cetak,” ujarnya kepada laman resmi klub. “Saya sangat senang. Yang pertama saya lihat adalah hakim garis dan saya melihat itu tidak dianggap offside jadi saya lantas berselebrasi.

“Saya mengira bola itu akan ada di depan saya namun kemudian saya menyadari bahwa saya justru berada di depan bola. Saat bola berada di belakang saya, yang bisa saya lakukan adalah melakukan tendangan menggunakan tumit, jadi saya melakukannya dan saya sukses,” imbuhnya.

Tak lama setelah pertunjukkannya tersebut, Mkhitaryan kembali dipercaya sebagai starter dalam kemenangan 2-1 atas Middlesbrough di malam Tahun Baru.

Di pertandingan itu, mantan pemain Shakhtar Donetsk ini mengawali laga di sektor sayap kanan, sebelum kemudian diubah posisinya menjadi gelandang sentral guna melengkapi skema 3-4-3 ketika United tertinggal 1-0.

Permainannya malam itu tidaklah buruk, malah ia berperan besar dalam proses gol Paul Pogba di lima menit terakhir karena sukses menemukan Juan Mata yang menggeser posisinya di kanan.

Mkhitaryan kiranya telah menemukan sentuhannya di Old Trafford sekaligus melupakan awalan musimnya yang kelam berkat kesungguhannya dalam membuktikan diri.

Dan kini, resolusi 2017 baginya mungkin adalah meneruskan apa yang sudah ia lakukan dalam sebulan belakang, dan bukan mustahil ia akan menjadi pujaan baru publik Theatre of Dreams.