Di Balik Lolongan Nyaring Serigala Ibu Kota

Pergantian pelatih dan transfer jitu menjadi kunci Roma kembali menyodok papan atas Serie A. Saatnya membidik Scudetto?

OLEH    SANDY MARIATNA   

AS Roma mendadak rancak. Sabtu (5/3) dini hari WIB lalu, mereka sukses menenggelamkan pesaing terdekat Fiorentina dengan skor telak 4-1 di Olimpico. Istimewanya, itu adalah kemenangan ketujuh secara beruntun di Serie A Italia yang dipetik Giallorossi .

Skor besar lawan tim kuat, praktis Roma sudah sepenuhnya pulih dari periode naik-turun di sepanjang musim 2015/16. Bagaikan sekumpulan serigala lapar, Roma tanpa ampun menerkam sang mangsa Fiorentina secara cerdik dan terstruktur.

Sepasang gol Mohamed Salah dan dua gol tambahan masing-masing oleh Diego Perotti dan Stephan El Shaarawy mengukuhkan posisi Roma di zona Liga Champions, terpaut delapan poin dari tampuk Capolista .

Jadi, apa resep kebangkitan Tim Serigala Ibu Kota? Tak sulit untuk menjawabnya. Pergantian pelatih dari Rudi Garcia ke Luciano Spalletti pada pertengahan Januari ini menjadi faktor utama yang kemudian didukung oleh bersinarnya para rekrutan musim dingin. Klop!

"Luciano Spalletti telah melakukan pekerjaan luar biasa, begitu juga para asistennya yang layak mendapat kredit. Situasi di Trigora [kamp latihan Roma] kini sungguh berbeda. Ini adalah tim yang sama sekali berbeda secara mental dibanding sebelumnya," sanjung presiden klub James Pallotta, seperti dikutip  Mediaset Premium .

Bukan cuma kali ini Spalletti menjadi dewa penolong. Sebelumnya, ia pernah mengubah peruntungan Roma dalam periode pertamanya di Olimpico pada 2005 hingga 2009. Ketika itu, Spalletti tiga kali membawa Roma finis runner-up Serie A, merebut dua Coppa Italia, dan satu Piala Super Italia. Di musim pamungkasnya, Spalletti juga mencatatkan 11 kemenangan beruntun yang menjadi rekor klub.

"Saya hanya harus menekan tombol yang tepat sehingga pemain sadar seperti apa berada di jalur yang tepat itu," ungkap Spalletti ketika diperkenalkan kepada publik pada Januari lalu. Dan pelatih berkepala plontos itu telah memencet tombol dengan tepat lagi keras – saking kerasnya sampai-sampai sang legenda hidup Francesco Totti ia tendang.

Spalletti sukses meracik ulang Roma untuk kembali ke papan atas.

Memperbaiki sistem manajemen pemain menjadi hal yang pertama-tama disentuh oleh Spalleti, terutama setelah menyaksikan mental Alessandro Florenzi dkk. jeblok di paruh pertama. "Setiap hari, staf pelatih bekerja keras mulai dari basis per pemain," jelas Pallotta.

Namun, perubahan paling kentara yang dilakukan Spalletti adalah kemauannya untuk menghadirkan fleksibilitas taktik yang tidak ditemukan dalam dua setengah musim terakhir bersama Garcia. Formasi Roma bersama Spalletti cenderung tak pasti. Tercatat, ia menggunakan setidaknya lima formasi yang berbeda sejak partai debutnya melawan Verona. Spalletti sedang mencoba-coba ramuan tepat.

"Spalletti adalah pelatih hebat. Ia tahu caranya berkomunikasi dengan pemain, menjelaskan taktik dan hal teknis lainnya. Kami sudah memainkan gaya bermain yang bagus, dan hasil pertandingan berbicara dengan sendirinya," kata Stephan El Shaarawy yang terkesan dengan gaya melatih Spalletti.

Belakangan, Spalletti sudah menemukan formasi terbaiknya: 4-3-1-2. Dampaknya terbilang dahsyat, yakni Roma sukses menggelontorkan 12 gol dalam tiga laga terakhir. Perbedaan mencolok antara taktik Garcia dan Spalletti adalah keberadaan sosok trequartista di lapangan yang perannya bisa berubah cepat menjadi pemain sayap atau bahkan false nine .

Peran itu diterjemahkan sempurna oleh Diego Perrotti, yang diboyong Spalletti pada deadline day bursa transfer Januari lalu dengan status pinjaman. Perotti sebetulnya  kurang bersinar di paruh pertama musim ini bersama Genoa dengan hanya mencatatkan satu gol dan dua assist dari 15 laga. Namun hal itu tidak mencegah Roma untuk merekrutnya.  

Hasilnya, Perotti langsung bersinar lewat dua gol dan empat assist hanya dari lima penampilan bersama Roma. Mengingat bakal krusialnya sosok Perotti, Roma langsung mempermanenkan jasa pemain asal Argentina itu pada awal Maret lalu. Selain itu, Perotti boleh dibilang menjadi faktor utama mengapa Spalletti rela mengesampingkan Totti.

Selain Perotti, El Shaarawy juga menjadi senjata kebangkitan Roma. Diboyong ke Olimpico pada Januari lalu setelah tak terpakai di klub sebelumnya, AS Monaco, El Shaarawy menunjukkan gejala serupa seperti Perotti. Ia langsung menggila dengan sudah melesakkan lima gol dan satu assist sejak kembali ke Serie A. Fans Roma tentu saja berharap agar Il Faraone bisa dipermanenkan dari AC Milan di akhir musim.

Insting transfer Roma kali ini terbukti tepat. Mereka sudah belajar dari kesalahan fatal di musim lalu yang memboyong mahal Juan Iturbe dan Seydou Doumbia namun gagal total. Tidak berlebihan jika menyebut El Shaarawy dan Perotti sebagai rekrutan Januari terbaik di Eropa musim ini.

Duo rekrutan anyar tersebut lantas disempurnakan oleh si gesit Mohamed Salah untuk menciptakan trio penyerang mematikan. Sejauh ini, Salah sudah mencetak 11 gol di Serie A, dengan enam gol di antaranya hadir bersama Spalletti. Jangan lupakan Edin Dzeko yang meski kini berstatus cadangan namun tetaplah merupakan sosok predator tradisional di depan gawang. Seperti kala Roma membungkam Palermo 5-0 pada 22 Februari lalu di mana Dzeko mengemas dua gol dan dua assist .

El Sha, Perotti, Salah menjadi tridente paling menakutkan di Serie A saat ini. Ketiganya sudah menyumbang 13 gol dan delapan assist dalam tujuh partai terakhir.

Lini tengah Roma dipastikan akan bertambah kuat setelah Kevin Strootman pulih dan siap comeback. Kehadiran kembali gelandang Belanda itu akan memberikan dimensi baru di lini tengah Roma yang dalam satu-dua tahun terakhir terlalu banyak bergantung pada kerja keras Radja Nainggolan dan kreativitas Miralem Pjanic.

Tinggal bagaimana Spalletti mengolah lini belakang Roma untuk bisa sama solidnya dengan lini tengah dan depan. Tercatat, Roma hanya sanggup melakukan dua clean sheet dari 12 laga terakhir. Kunjungan ke Santiago Bernabeu versus Real Madrid partai leg kedua 16 besar Liga Champions, Rabu (9/3) dini hari WIB ini, menjadi ujian besar bagi pertahanan Roma.

Defisit 2-0 membuat misi mereka di Bernabeu bakal amat berat, tetapi kebangkitan Roma ini sudah sangat diwaspadai oleh Zinedine Zidane. “Roma adalah tim yang sangat bagus. Jika kami tidak bermain baik, maka justru kami yang akan kalah dan tersingkir,” papar pelatih Madrid itu.

Spalletti dan pasukannya tentu tidak akan begitu saja menyerahkan tiket perempat-final kepada Madrid. Berbekal performa on-fire seperti sekarang ini, tak sulit untuk membayangkan Roma bisa mencuri setidaknya satu gol di Spanyol. Ditambah dengan sedikit keberuntungan, siapa tahu Roma bisa membuat Madrid malu. Sekalipun akhirnya tersingkir, Roma boleh pulang ke Italia dengan kepala tegak.

Ya, kebangkitan La Magica memang sudah tidak terbantahkan di Serie A. Lolongan para serigala ibu kota dalam satu bulan terakhir membuat target Scudetto kini menjadi buruan yang tidak mustahil digapai. "Kami harus bisa terus menang dan semoga Juventus dan Napoli terpeleset," kata Nainggolan. Sepuluh laga tersisa, 30 poin tersedia, maka apapun bisa terjadi.