Diego Costa, Buang Atau Pertahankan?

Amarah menggebu Diego Costa hanya akan merugikan dirinya sendiri dan tim. Pantaskah Chelsea bersikap sabar dengannya?

Sebuah umpan silang terbang rendah di area kotak penalti Tottenham Hotspur, tepat sampai di kepala Eden Hazard. Sejurus kemudian, bola sundulannya ternyata hanya melebar di atas gawang. Itulah salah satu cuplikan adegan dalam derby London di White Hart Lane antara Spurs dan Chelsea yang berakhir imbang tanpa gol, Minggu (29/11) kemarin.

Publik mungkin berandai-andai seandainya Hazard -- yang secara mengejutkan dipasang Jose Mourinho sebagai false-nine di partai tersebut -- berganti orang menjadi Diego Costa. Namun, hasilnya bisa dipastikan akan setali tiga uang: kans tidak akan terkonversi menjadi gol.

Jika Costa edisi 2014/15 yang menyambut crossing tersebut, dijamin gol tandukan khas seorang striker kelas dunia bakal tercipta. Namun, berhubung Costa edisi 2015/16 sedang mengalami kemerosotan performa, ia mungkin juga akan menyia-nyiakannya atau bahkan tidak sanggup mencapai kotak penalti tepat waktu.

Lalu, di manakah Costa dalam partai melawan Tottenham? Ternyata striker Spanyol itu dicadangkan oleh Mourinho dan malah menciptakan satu kejadian menarik yang lebih menyita perhatian ketimbang hasil akhir pertandingan.

Di babak kedua, ketika naluri membunuh Chelsea di kotak penalti Spurs masih majal, Mourinho menginstruksikan beberapa pemainnya, termasuk Costa, untuk melakukan pemanasan. Akan tetapi, The Special One ternyata lebih memilih memasukkan duo youngster Kennedy dan Ruben Loftus-Cheek. Costa yang kecewa berat lantas kembali ke bangku cadangan, namun sambil melemparkan rompi ke arah Mourinho.

Bidikan Costa meleset dan rompi urung mengenai kepala si bos, persis seperti kegagalannya dalam mengonversi banyak peluang di musim ini. Namun insiden pelemparan rompi warming-up berwarna pink ngejreng itu menjadi secuil bukti bahwa suasana ruang ganti klub sedang kurang harmonis - kabar yang sudah berembus semenjak sang juara bertahan Liga Primer Inggris itu tampil jeblok di musim ini.

Sebelumnya, ketika Chelsea sukses menghajar Maccabi Tel Aviv di Liga Champions 4-0 tengah pekan lalu, Mourinho juga terlibat adu mulut dengan Costa dalam terowongan pemain saat turun minum. Selanjutnya, dalam jumpa pers sebelum dan sesudah laga melawan Spurs, Mou berturut-turut melancarkan kritik terbuka kepada Costa, mulai dari menyebutnya sebagai pemain yang tidak bisa membaca permainan hingga menyindir habis sang striker yang ngambek karena dicadangkan.

Namun, Mourinho secara konsisten membantah kabar keretakan hubungannya dengan Costa. “Kami berdua sudah saling berpelukan dan berciuman di ruang ganti,” ujarnya selepas partai kontra Maccabi. "Jika dia ingin menyakiti saya, tentu tidak dengan rompi. Tak ada masalah antara saya dengan Diego, ini cuma masalah keputusan," kata Mou usai laga melawan Spurs.

Amarah Costa memang bisa dipahami. Sebagai mantan pesepakbola jalanan di Brasil, sikap mudah marah, licik, dan minim respek terhadap orang lain masih kerap ia tunjukkan di pertandingan profesional. Status public enemy pun dengan mudah ia sandang seperti yang ia tunjukkan saat melawan Arsenal pada September lalu, yakni memprovokasi Gabriel Paulista dan menggerayangi muka Laurent Koscielny secara brutal.

“Di jalanan, saya berjuang seperti orang lain. Terkadang saya tidak bisa mengendalikan diri, terlibat perkelahian, tidak menghormati lawan, menghina semua orang, bahkan saya merasa seperti harus membunuh mereka. Berbeda dengan bocah-bocah lain yang dibesarkan lewat akademi, yang diajarkan untuk mengendalikan diri dan menghormati orang lain, sesuatu yang tak saya temui di jalanan,” tutur Costa suatu ketika.

Di saat Chelsea sedang berusaha keluar dari malapetaka di awal musim 2015/16, letupan api kemarahan Costa tersebut dipastikan hanya akan merugikan dirinya sendiri dan tentu saja merugikan tim. Beruntung, Costa masih punya kesempatan.

Rehat selama satu pekan ke depan harus dijadikan momen bagi Costa untuk berefleksi diri. Laga melawan Bournemouth pada Sabtu (5/12) mendatang bisa menjadi ajang pembuktian bagi Costa untuk menjawab seluruh keraguan, tentu dengan syarat jika ia dimainkan oleh Mourinho.

Mengasingkan Costa rasa-rasanya juga bukan pilihan tepat, terutama setelah menilik opsi striker yang tersedia di skuat The Blues: Radamel Falcao dan Loic Remy. Falcao dilaporkan akan dipulangkan ke AS Monaco pada Januari mendatang setelah striker Kolombia itu tampil tidak memuaskan dan lebih banyak berkutat dengan cedera.

Memainkan Hazard atau Pedro sebagai striker palsu juga bukanlah opsi bijak. Dalam partai melawan Tottenham akhir pekan lalu, di mana Hazard dan Pedro secara bergantian mengemban tugas Costa sebagai ujung tombak, terlihat bahwa The Blues masih butuh penyelesai akhir mumpuni di lini depan.

Chelsea hanya menciptakan satu shot on target selama 90 menit di White Hart Lane. Oleh karena itu, pernyataan Mourinho yang menyebut bahwa laga derby kontra Spurs tersebut sebagai laga terbaik Chelsea di musim ini adalah sesuatu yang naif dan berlebihan. Costa, yang baru mencetak tiga gol di Liga Primer Inggris musim ini, diharapkan bisa memperbaiki performa untuk mengisi lubang ini.

Jika benar-benar ingin mencampakkan eks bomber Atletico Madrid tersebut, maka Mourinho harus punya solusi, yakni mencari striker baru - sebuah rencana yang baru bisa dilaksanakan pada bursa transfer. Target buruan sudah banyak disebut, sebagaimana dilaporkan oleh media-media Inggris, mulai dari Edinson Cavani, Gonzalo Higuain, Paco Alcacer, Antoine Griezmann, hingga yang terkini Thomas Muller. Solusi tersebut belum ada seiring periode sibuk di bulan Desember dan Januari sudah menanti di depan mata.

Yang jelas, Costa saat ini sudah resmi masuk “penjara Mourinho”, sebuah tradisi yang kerap dilakukan manajer asal Portugal itu untuk memberikan pelajaran kepada pemain yang tidak sesuai harapannya. Juan Mata sempat tak tahan dengan treatment ala Mou ini sehingga memaksanya angkat kaki dari Stamford Bridge. Kejadian paling parah dialami Iker Casillas yang memicu konflik hebat dan perpecahan di Real Madrid.

"Diego sangat diistimewakan karena ia adalah yang terakhir kali dicadangkan. Semuanya sudah pernah dicadangkan lebih dulu: kapten John Terry, Branislav Ivanovic, Gary Cahill, Nemanja Matic, Cesc Fabregas, Pedro, Eden Hazard sang pemain terbaik musim lalu, dan Oscar. Beberapa pemain mungkin tidak senang dengan keputusan ini, namun sikapnya itu adalah hal yang normal," terang Mourinho.

Ya, momen ini seharusnya dijadikan berkah terselubung bagi Costa, titik balik untuk bangkit, sehingga ia bisa menyemen kembali statusnya sebagai striker kepercayaan Mourinho sekaligus menghadirkan kembali senyum simpul di wajahnya. Sebab, rasa marah hanya akan membuat wajah Costa kian seram seturut performa Chelsea yang masih buram.