Diego Costa Mulai Bangunkan Chelsea Dari Mimpi Buruk

Kebangkitan Diego Costa terus berlanjut dengan Arsenal lagi-lagi menjadi korban. Saatnya Chelsea bertumpu kepada sang striker untuk menyelamatkan musim mereka?

“Saya lebih memilih punya pemain yang sedikit dibebaskan [untuk bermain sesukanya] ketimbang pemain yang dikekang [dengan aturan tertentu].”

Itulah pernyataan Guus Hiddink terkait Diego Costa sebelum laga kontra Arsenal pada akhir pekan lalu. Manajer interim Chelsea itu secara tersirat meminta Costa untuk mempertahankan gaya bermainnya yang terkenal kontroversial itu. Sebut sembarang kata sifat negatif -- arogan, bengis, licik, provokatif -- maka di situlah Costa bersemayam.

Maka demikian, Costa tetap menjadi Costa saat Chelsea berkunjung ke Emirates, Minggu (24/1) kemarin. Striker Spanyol itu memaksa wasit Mark Clattenburg mencabut kartu merah kepada Per Mertesacker saat laga baru bergulir 18 menit. Mertesacker diusir lantaran kedapatan menjegal Costa yang tengah berlari sendirian menuju arah gawang Petr Cech, meski dalam tayangan ulang tidak tampak kontak maksimal.

Ritme laga mendadak rusak. Lima menit pasca pengusiran tersebut, Chelsea unggul 1-0 berkat sontekan Costa. Skor ini bertahan hingga laga usai. Itulah tamparan kedua Costa untuk Arsenal secara beruntun di musim ini, meski kali ini tidak seekstrem seperti pada pertemuan pertama di Stamford Bridge, September lalu.

Ketika itu, Costa memprovokasi Gabriel Paulista sehingga bek Arsenal itu diusir wasit. Bukan cuma itu, Laurent Koscielny turut menjadi korban di mana Costa tertangkap kamera mencengkram wajah lawannya itu secara membabi buta dengan tangannya sehingga berbuah sanksi tiga laga dari FA.

"Costa membuat dua pemain kami mendapatkan kartu merah di musim ini. Dia begitu cerdik," ujar bos The Gunners Arsene Wenger seusai laga. Wenger boleh jadi jengkel kepada Costa karena merampas kemenangan Arsenal, dua kali pula. Namun ia tahu, mengomentari Costa lebih banyak akan berisiko membuatnya terkena sanksi.

Mungkin perasaan sebal Wenger kepada Costa sedikit-banyak terwakili dengan ucapan pedas mantan chairman Arsenal Peter Hill-Wood terkait momen krusial dalam derby London itu. "Dia sengaja berlari di depan Mertesacker, yang nyaris tidak menyentuhnya. Namun Costa berguling-guling seakan kakinya dipotong,” ungkapnya..

“Begitu kartu merah ditunjukkan, dia tiba-tiba baik kembali seutuhnya. Saya pikir, wasit seharusnya mengusirnya untuk diving. Sangat mengesalkan. Dia adalah penipu berantai dan dia selalu lolos dengan itu," kecam Hill-Wood.

Terlepas dari perdebatan apakah Mertesacker layak diusir atau tidak, yang pasti tamparan Costa untuk Arsenal kali ini terbilang jauh lebih beradab ketimbang aksinya pada September lalu. Costa tampak lebih dewasa di lapangan dan sukses mengampu peran sebagai protagonis dan antagonis secara sekaligus. "Dia memprovokasi namun selalu bersikap tenang," ungkap Branislav Ivanovic.

"Diego Costa dominan secara mental melawan lini belakang Arsenal. Dia selalu ingin memprovokasi lawan. Itulah bagian dari permainan Diego. Dia sangat pandai di atas lapangan dan selalu tahu di mana batasannya. Bagi kami, dia sangat penting,” papar Ivanovic yang mengarsiteki gol tunggal Costa di partai itu.

Kontribusi maksimal Costa kontra Arsenal sebetulnya bukan sesuatu yang mengejutkan. Ini merupakan konsekuensi logis dari peningkatan performanya dalam beberapa pekan terakhir. Ya, Costa kembali bersinar selepas pemecatan Jose Mourinho. Dalam enam partai terkini -- termasuk saat melawan Arsenal -- ia sudah menceploskan enam gol dan dua assist.

Rasio satu gol per partai ini menjadikan Costa seperti terlahir kembali setelah sinarnya meredup di awal musim ini seiring Chelsea terperosok di papan bawah klasemen.

Kini, sang mesin gol Costa sudah kembali panas. Chelsea perlahan mulai merangkak naik di papan klasemen Liga Primer Inggris. Tambahan tiga angka di Emirates itu mengangkat posisi tim ke urutan 13, masih tertinggal 14 poin dari zona empat besar. Selain itu, Chelsea besutan Hiddink memperpanjang rekor tak terkalahkan menjadi tujuh laga.

"Jika kami bisa tetap tak terkalahkan, itu adalah langkah yang positif, tapi empat besar masih jauh. Terlepas bisa atau tidaknya kami menembus empat besar, yang pasti kami harus memperlihatkan ambisi untuk meraih target itu di setiap pertandingan,” kata Hiddink.

Zona Liga Champions memang sangat sulit dikejar, tetapi bersama Costa yang tengah berapi-api, target tersebut bukan sesuatu yang mustahil digapai. Berdoa saja supaya Costa bukan hanya terbebas dari cedera hingga akhir musim, tetapi juga tetap produktif dan provokatif.

Sayup-sayup terdengar suara Chelsea yang mulai terbangun dari mimpi buruknya.