Diego Costa Sempurnakan Taktik Antonio Conte

Diego Costa membuktikan diri sebagai striker yang lebih berbahaya, lebih efektif, dan lebih dewasa di bawah bimbingan Antonio Conte.

“Diego! Diego! Diego! Diego! Diego!”

Meski sayup-sayup terdengar, chant dari fans Chelsea yang berkunjung ke Etihad Stadium itu membuat siapa pun sepakat bahwa Diego Costa -- sosok yang dikumandangkan dalam nyanyian itu -- adalah striker terbaik di Liga Primer Inggris saat ini.

Korban terbaru Costa adalah Manchester City di mana ia mampu menciptakan satu gol dan satu assist untuk menginspirasi kemenangan impresif 3-1 timnya, Sabtu (3/12) malam WIB.

Sergio Aguero, striker di kubu City yang disebut-sebut sebagai pemain terbaik Liga Primer, justru tak berkutik menandingi kedigdayaan Costa. Saking frustrasinya, Aguero mendapat kartu merah karena mengasari David Luiz di penghujung pertandingan.

Itu adalah pemandangan yang amat kontras. Publik biasanya mengenal Costa sebagai striker emosional yang suka berulah, sementara Aguero dicitrakan sebagai pemain kalem. Tapi kali ini, Costa tidak hanya lebih dewasa, namun juga terbukti lebih krusial bagi Chelsea ketimbang Aguero bagi City.

Meski begitu, Costa tidak langsung menunjukkan kehebatannya di Etihad. Ia sempat kepayahan di 45 menit pertama, dengan hanya membuat 12 kali sentuhan dan harus menyaksikan timnya ketinggalan lebih dulu akibat gol bunuh diri Gary Cahill. Namun seusai jeda, Costa tampil meledak.

Gol penyama diciptakan Costa di menit ke-60 dari situasi nihil. Dari lini tengah, Cesc Fabregas mengirimkan bola lambung ke depan kepada Costa. Kontrol dada yang brilian dari Costa sudah cukup untuk membuat Nicolas Otamendi salah langkah yang membuat striker Spanyol leluasa untuk menembak deras ke ke gawang Claudio Bravo.

Sepuluh menit berselang, Otamendi kembali menjadi korban penipuan Costa. Striker kelahiran Brasil itu memuluskan serangan balik kilat Chelsea dengan berhasil mengelabui Otamendi di lingkaran tengah lapangan sebelum memberikan umpan terobosan manis kepada Willian untuk dituntaskan menjadi gol. Di menit ke-90, Chelsea menyempurnakan kemenangan comeback kontra City lewat gol ketiga yang dilesakkan Eden Hazard, lagi-lagi lewat counter attack.

“Sebuah laga yang hebat. Kami bermain sangat taktis, setiap pemain tahu tugas masing-masing,” kata Costa kepada Sky Sports seusai laga.

“Manchester City punya banyak peluang untuk mendapat gol kedua, tetapi mereka menyia-nyiakannya. Ketika gol penyama tercipta, kami semakin percaya diri. Kami lantas mendapat peluang untuk mencetak gol lagi dan kami berhasil memaksimalkannya,” imbuh striker berusia 28 tahun itu.

Performa man of the match di Manchester tersebut semakin mempertegas fakta bahwa Costa memiliki peran yang sangat signifikan bagi Chelsea, entah itu saat melawan tim besar atau tim kecil, partai kandang maupun tandang.

Costa saat ini berstatus topskor sementara Liga Primer dengan 11 gol. Meski setara dengan koleksi gol Alexis Sanchez, Costa layak lebih unggul karena ia berkontribusi menyumbang lima assist, unggul satu assist dari penyerang Arsenal itu. Torehan 11 gol ini hanya berselisih tiga gol dari total gol yang dicetak Costa di sepanjang musim lalu.

Jika ada orang yang patut diberikan kredit terbesar terhadap kebintangan Costa di awal musim 2016/17, maka dia adalah Antonio Conte. Manajer The Blues itu bukan hanya menunjukkan kelasnya sebagai maestro taktik, tetapi juga ulung dalam membentuk mental pemain agar bisa bermain total. Costa merasakan betul pengaruh dari mantan manajer Juventus dan timnas Italia itu.

"Pada awal musim ada banyak pertanyaan mengenai Diego, mengenai bagaimana saya bisa memanfaatkan gairahnya di jalur yang tepat. Sejauh ini saya sangat puas dengan performanya. Diego telah menunjukkan sikap dan gairah bermain yang luar biasa selama laga berlangsung,” kata Conte seperti dikutip Sky Sports

"Saya juga senang melihat banyak orang membicarakan Diego secara positif, tidak lagi dengan konteks buruk seperti dahulu. Saya pikir dia sudah bersikap sangat baik dan perilakunya benar-benar fantastis,” sanjung Conte.

Hasil mengesankan kontra City tersebut merupakan delapan kemenangan beruntun yang dipetik Chelsea sejak Conte beralih formasi ke 3-4-3 per Oktober lalu. Costa membungkus enam gol dan empat assist dari total 22 gol yang dicetak Chelsea dalam periode itu. The Blues pun memperlebar jarak di puncak klasemen, unggul empat poin dari City dan tiga poin dari Arsenal.

Dan jika Costa terus bermain menyeramkan seperti ini, tidak ada alasan bagi Chelsea untuk tidak mempertahankan posisi puncak hingga Mei.