Diego Simeone, Si Pembunuh Tiki-Taka

El Cholo telah membimbing Atletico ke final Liga Champions sekali lagi dan gelar akan menjadi bayaran yang pantas untuk salah satu pelatih paling magnetik dalam sepakbola.

Setiap tim yang berhasil mengalahkan klub Pep Guardiola di Liga Champions selalu mengakhiri musim dengan menggendong Si Kuping Besar. Fakta itu bertahan hingga hari ini dan para penggemar Atletico Madrid akan menganggap itu sebagai ramalan yang akan datang seiring mereka mempersiapkan diri untuk melawan Real Madrid di final 2016.

Gaya sepakbola Guardiola sangat menindas, mencuri aliran kehidupan dari lawan. Tim akan dibuat kewalahan. Dengan permainan yang memesona, sepakbola Pep akan membuat lawan menjadi pengejar bayangan, putus asa dalam upaya mereka untuk mencegah terjadinya gol.

Namun buah dari keberanian dan perlawanan adalah kejayaan. Internazionale bersama Jose Mourinho, Roberto Di Matteo bersama Chelsea, Real Madrid-nya Carlo Ancelotti, dan Barcelona-nya Luis Enrique semua berhasil melompati kehebatan tim Guardiola. Setelahnya, mereka akan tampil gemilang di partai puncak.

Metode Mourinho dan Di Matteo memiliki kesamaan. Pada dasarnya mereka menerapkan sepakbola bertahan. Gaya bermain seperti itu sangat riskan. Entah tim Pep bisa mencetak gol dari peluang yang mereka buat atau mereka gagal dan Anda beruntung.

Diego Simeone memiliki rancangan sukses untuk menghadapi gaya bermain Guardiola selama dua leg. Atletico Madrid-nya Simeone pula yang telah menyingkirkan Andres Iniesta, Lionel Messi, dan Barcelona di perempat-final. Simeone berhasil menghempaskan Bayern Munich di empat besar. Cetak biru mereka berawal dan berakhir dengan sang manajer.

“Para pemain Atletico Madrid memiliki kepercayaan yang luar biasa dan keyakinan pada manajer mereka,” ungkap mantan pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti pada Goal. “Simeone mampu membangun ini – bukan hanya hubungan taktik atau teknik, tapi juga hubungan pribadi.”

Para pemain benar-benar yakin akan apa yang mereka lakukan. Mereka melakukan hal ini untuk rekan setim mereka, untuk klub mereka, untuk fans mereka. Ini jelas bergantung dari motivasi sang manajer.

“Simeone adalah pemimpin yang fantastis. Semua orang di dunia Atletico Madrid mengakui kualitasnya dan motivasi yang dihadirkan Simeone – klub, para pemain, dan suporter.”

Guardiola membawa ke titik ekstrim metode yang dikembangkan oleh Luis Aragones untuk tim nasional Spanyol setelah Piala Dunia 2006 dan sebelum Euro 2008, ketika mereka memenangkan trofi dan mengakhiri puasa gelar. Itu dicapai dengan fondasi para pemain Barcelona dan pada tim itu ditambah dan terus ditambah kualitas hingga akhirnya mereka menjuarai Piala Dunia 2010 dan Euro 2012.

Sistem permainan di Barcelona merupakan visi paling jelas tentang masa depan; para pemain berotasi di sekitar lapangan seperti mereka bermain di lapangan basket, mengambil bola, mengoper bola, dan menciptakan ruang. Itu merupakan total football dalam dimensi baru. Taktik itu menjamin kesuksesan, untuk sementara waktu.

Tentu saja ada penyimpangan; beberapa hasil tidak sesuai dengan keinginan Barca dan Spanyol, tapi selama Guardiola memimpin Camp Nou mereka memenangkan apa yang harus dimenangkan. Mourinho dan Di Matteo bertarung dan dimenangkan oleh keberuntungan, bukan desain sempurna. Seiring waktu bergulir, Simeone telah mengembangkan antidot untuk rival terbesarnya di sepakbola.

Di musim 2013/14, misalnya, Atletico melawan Barcelona yang dipimpin Gerardo Martino, tapi masih memainkan sepakbola Pep enam laga tanpa kalah. Mereka menghempaskan Blaugrana dari Liga Champions dan memenangkan gelar La Liga dengan pertandingan terakhir di Camp Nou.

Barcelona membalaskan dendamnya setelah itu, memenangkan tujuh laga melawan Atletico saat El Cholo memasuki fase transisi. Filipe Luis pergi, begitu pula Diego Costa, sementara pemain anyar Antoine Griezmann butuh waktu. Musim ini, Atletico tampil lebih baik dari biasanya.

Mereka adalah mesin mematikan yang mampu menghancurkan tim terbaik di dunia sekalipun, lewat serangan balik. Di Liga, mereka mampu mengambil inisiatif, setidaknya sampai gol pertama tercipta. Namun di Liga Champions, tak ada yang rumit dari apa yang mereka lakukan mereka bekerja keras, berlari, dan menunggu peluang muncul.

Griezmann punya peran krusial dalam hal ini. Pep butuh penyerang berkaki kiri untuk menyerang dari kanan, seperti Lionel Messi atau Arjen Robben, untuk memuaskan tuntutan dalam timnya. Simeone memiliki satu pemain yang mengobrak-abrik lewat tengah.

Penyerang Prancis itu berada dalam bentuk terbaik sepanjang hidupnya dan setelah Messi serta Cristiano Ronaldo, ia disebut sebagai pemain terbaik dunia. Ia meledak di bawah asuhan El Cholo.

“Dia selalu menuntut lebih, ia tak pernah meminta Anda untuk bermalas-malasan,” ungkap Griezmann pada AS awal tahun ini. “Harus selalu ada ketegangan – saat latihan dan dalam pertandingan – dan ia selalu menemukan kata yang tepat untuk Anda sehingga Anda memberikan segalanya dan Anda berada di kondisi 100 persen. Ia telah mengubah saya jadi pemain yang lebih baik. Ia mengubah saya jadi seorang pemenang.”

Ada satu hal yang benar-benar memukau tentang sikap yang menonjol dalam diri pemain berbakat seperti Griezmann dan veteran seperti Fernando Torres, benar-benar patuh pada tuntutan pelatih mereka. Ada semangat tak terpatahkan yang mengalir dalam darah Atletico, dari pelatih hingga pemain hingga suporter, yang terwujud dan dibutuhkan untuk melampaui ujian tersulit sekalipun.

Saksikan Simeone beraksi di pinggir lapangan di Vicente Calderon, meminta fans untuk meledak dan memberikan tekanan pada lawan dan wasit. Ia adalah ahli manipulasi saat bekerja, Cholismo muncul dari setiap celah, menyentuh setiap sudut stadion.

Minimnya kehangatan yang dimiliki Guardiola adalah salah satu alasan mengapa Bayern tak terlalu sakit hati saat kehilangan dirinya. Ia datang, melatih tim, lalu pergi. Sebaliknya, coba bayangkan ini. Apa yang kita pikirkan sebagai Atletico Madrid sebenarnya adalah Diego Simeone. Ia telah membangun semangat dalam klub sesuai dengan imajinya. Ia berhasil menyalurkan apa yang ada dalam pikirannya untuk jiwa pemain dan fans. Mereka mencintainya karena hal itu.

Simeone telah mengidentifikasi celah di gudang senjata tiki-taka dan memanfaatkannya dengan sempurna. Ada bola cepat mengalir di lini tengah melalui tengah-tengah ketika Atletico merebut bola dengan cepat. Dari sana, tidak butuh waktu lama untuk Griezmann atau Torres untuk mengirimkan bola ke gawang lawan.

Ada dominasi di udara - di kedua kotak penalti - yang menciptakan peluang dan gol untuk pemain macam Diego Godin dan Jose Gimenez. Ada kekakuan dan kedisiplinan melintang sepanjang garis di lini tengah, di mana Gabi dan Koke berkeliaran seperti anjing penjaga. Mereka menyalurkan serangan ke sayap dan menyebarkan ancaman dari sana.

Ada komitmen penuh untuk menunggu di sudut dan menjaga ketenangan seiring bola berpindah dari sisi ke sisi. Bayern dan Barca sama-sama memiliki penguasaan bola lebih daru 70 persen dalam empat leg melawan Atletico.

Namun menang bukan cuma soal statistik penguasaan bola. Waktu dan, lagi-lagi, Simeone telah mengirimkan timnya untuk menghancurkan tim yang mendominasi bola untuk sukses.

Simeone adalah lelaki yang membunuh tiki-taka.