Dietmar Hamann: Andrea Pirlo Semakin Hebat

Menurut Hamann, yang pernah menghadapi Pirlo di final Liga Champions 2005, Pirlo jauh lebih tangguh ketimbang 10 tahun lalu.

Dua musim lalu, Juventus kalah 4-0 secara agregat dari Bayern Munich di perempat-final Liga Champions. Musim lalu, mereka bahkan gagal melewati fase grup, kalah oleh Real Madrid dan Galatasaray. Kira-kira sejauh mana Andrea Pirlo memperkirakan langkahnya bersama Juve di musim ini?

"Tidak sampai final, tentu saja," ujar Dietmar Hamann, salah satu pemain yang berhasil memboyong gelar juara Liga Champions bersama Liverpool di 2005, sementara Pirlo membela AC Milan yang kalah saat itu.

"Ia boleh berharap, tapi melihat bagaimana kegagalan Juventus di beberapa tahun terakhir, dan kalah di Galatasaray, ia tentu takkan mengira bakal bertanding melawan Barcelona di final."

"Namun sepertinya ada sedikit pencerahan di sepakbola Italia dan ia memegang peran besar dalam hal itu. Kita menyaksikan hal itu pula dalam diri Napoli dan Fiorentina di Liga Europa, dan siapa sangka, mungkin di awal musim depan, ia bakal mengincar kesuksesan di LIga Champions dan memenangkan Euro 2016."

"Tentu akan sangat luar biasa jika ia kembali memenangkan Liga Champions, lalu Kejuaraan Eropa. Ada banyak tim yang lebih dijagokan, tapi orang-orang Italia sangat tangguh, sangat cerdas. Mungkin mereka tidak enak dipandang [secara permainan], tapi mereka jelas bakal jadi pesaing gelar."

Pirlo telah memenangkan Liga Champions dua kali, satu Piala Dunia di 2006, dan enam gelar Serie A, dan ia masih tangguh di usia 36 tahun. Apakah ia lebih baik dibandingkan 10 tahun lalu?

"Pasti, tak perlu dipertanyakan," ujar Hamann pada Goal. "Ia terus berkembang bersama usianya. Ia tak bergantung pada kecepatan, dan semakin tua, Anda bakal semakin memahami permainan, mendapat lebih banyak pengalaman, dan Pirlo menjadi salah satu pemain terbaik di posisinya."

"Penampilan yang menonjol, menurut saya, adalah penampilan di Euro 2012, Italia melawan Inggris. Ia mengendalikan permainan dan Inggris tak mampu menyentuhnya."

"Ia sangat merawat dirinya. Hal seperti itu bisa menjadi kebiasaan saat menginjak akhir 20-an atau lebih. Anda tahu apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak, saat latihan, dan di hidup sehari-hari. Anda tahu kapan Anda membutuhkan satu jam tidur di siang haru, ANda tahu kapan saatnya Anda berlatih lebih keras, atau berlatih ringan. Anda mengenal tubuh Anda lebih baik ketimbang pelatih dan pelatih fitnes, dan Anda mengatur diri Anda dengan efektif."

"Saya selalu tahu kapan saatnya menambah atau mengurangi porsli latihan dan sepertinya lebih sering untuk menguranginya ketika saya semakin tua. Beberapa pemain akan berlatih 100% setiap saat, tapi di Inggris, Anda memainkan begitu banyak laga sehingga saya tak bisa melakukannya. Anda harus berada di kondisi terbaik saat bertanding. Dan laga pra-musim sangat penting."

Pirlo absen dalam beberapa laga karena cedera pinggang tahun lalu, tapi berhasil mengatur permainannya dengan baik musim ini. Ia mencatatkan 30 penampilan, 15 pertandingan lebih sedikit dari Carlos Tevez dan 19 kali lebih sedikit dari Giorgio Chiellini.

"Ia berada dalam kondisi bagus dan sepertinya bisa bermain sepanjang laga di final," ujar Hamann. "Tentu saja semua tergantung pada skornya dan apa yang harus dilakukan Juventus, tapi ia adalah pemain kunci dalam posisinya dan akan ada banyak situasi bertahan yang harus mereka hadapi."

"Gary McAllister menunjukkan kalau hal seperti itu mungkin, di 2001, saat ia berada dalam tim Liverpool kami yang memenangkan Piala UEFA. Ia merawat dirinya juga, dan menjadi pemain terbaik di final, di usianya yang sudah 36 tahun."

"Salah satu keunggulan besar bagi Pirlo adalah ia tak pernah mengalami cedera yang sangat parah. Saya ingin melihatnya bermain di Inggris atau Jerman dan saya yakin ia masih punya banyak hal yang bisa ditawarkan, tapi ia memilih untuk tinggal di Italia, dan Anda harus menghargainya. Sepertinya ia memang tak pernah bermain bagi klub yang tidak mengincar gelar."

Menurut Hamann, penyerang Barcelona bakal kesulitan menghadapi lini belakang Juventus, dan mereka yang ada di depannya.

"Juventus punya peluang, pastinya. Mereka punya kecerdasan, fungsionil, dan tentu saja bakal jadi laga yang sangat ketat bagi Barcelona. Laga bakal berjalan ketat dan saya rasa bakal berujung adu penalti," tandasnya.