Dikalahkan Bournemouth, Louis Van Gaal Serba Salah

Manchester United menelan kekalahan liga pertamanya sejak Oktober dan kegagalan ini menjadikan situasi Van Gaal semakin pelik.

Angin sedang tidak mengarah kepada manajer Manchester United Louis van Gaal setelah ia mendapati timnya kalah 2-1 di tangan tuan rumah Bournemouth saat melakoni lanjutan Liga Primer Inggris matchday ke-16 di Vitality Stadium, Minggu (13/12) dinihari WIB.

Bermain di depan pendukung lawan dengan mengandalkan kekuatan seadanya, United dikejutkan oleh gol cepat tuan rumah yang dikemas Junior Stanislas lewat sepak pojok di menit kedua. Meski begitu, gelandang Marouane Fellaini bisa menyamakan skor di pertengahan babak namun perlawanan mereka dihentikan oleh mantan didikan akademi Carrington, Joshua King, di paruh kedua.

Ini menjadi kekalahan liga pertama bagi tim pimpinan Van Gaal sejak mereka dipermak Arsenal 3-0 di Emirates Stadium. Lebih dari itu, kekalahan ini menjadi seri kegagalan lain setelah tim Setan Merah disingkirkan VfL Wolfsburg dari ajang Liga Champions musim ini pada pertengahan pekan.

Di pertandingan melawan Bournemouth, Van Gaal mengaku sudah melakukan yang terbaik, salah satunya adalah mengganti Fellaini untuk Nick Powell di menit ke-74 dengan tujuan mengubah peruntungan.

Dalam keterangannya kepada MUTV, pria asal Belanda itu berkata: “Anda harus mencoba sesuatu dan kami bukanlah tim dominan [di pertandingan ini], jadi Anda harus mengganti sesuatu di posisi tertentu dari pemain, dan Anda berharap sang pemain berkontribusi untuk mengupayakan gol dan kami sudah mencobanya,” ujarnya.

Dengan susunan pemain seadanya mengingat panjangnya daftar cedera, manajer hebat mana pun tentu akan kesulitan untuk memaksimalkan timnya. Di laga semalam, United bahkan memainkan starting XI keenam termudanya di Liga Primer, dengan rata-rata usia 24 tahun dan 131 hari.

Pemain paling muda yang diturunkan Van Gaal adalah full-back kiri Cameron Borthwick-Jackson, 18, yang terpaksa dimainkan guna menambal absennya Luke Shaw dan Marcos Rojo sebagaimana pemuda asal Manchester itu memainkan laga keduanya di Liga Primer.

Bersama Jackson, Guillermo Varela melengkapi duet full-back dadakan yang kurang berpengalaman yang mana tentu tidak pernah dibayangkan. Bongkar pasang di sana sini membuat United sedikit tereksploitasi, terlebih di babak kedua, dengan mereka gagal mengembangkan permainan dan hanya mampu menembakkan satu shot on target.

Van Gaal menyadari bahwa situasinya kini semakin pelik, mengingat ini menjadi kekalahan keduanya dalam sepekan dan ini merupakan kegagalan lain untuknya yang tidak lagi membawa timnya kepada kemenangan dalam lima laga terakhir di semua kompetisi.

“Ini selalu sama, bahkan ketika Anda menang – Anda harus melakukan hal yang sama namun, ketika Anda kalah, maka ini menjadi semakin sulit karena setiap pemain sangat kecewa,” lanjutnya kepada MUTV.

“Keheningan di ruang ganti terasa besar. Tentu saja saya sudah berbicara [untuk memotivasi mereka] namun dibutuhkan waktu yang panjang. Kami harus berlatih, kami harus bersiap untuk Norwich City [pada akhir pekan mendatang] dan kami harus mengalahkan mereka.

“Itu adalah tujuan dan tekad kami, tentu saja, namun sekarang menjadi lebih sulit ketika Anda menelan dua kekalahan beruntun. Ini adalah momen yang sangat buruk untuk kalah. Kami harus mendongakkan kepala lagi dan yakin pada diri sendiri karena itu juga sangat penting."

Statistik United kala melawan Bournemouth sejatinya tidaklah buruk. Satu area yang mereka perlu perbaiki adalah duel udara. Dari kubu tuan rumah, pasukan Eddie Howe setidaknya memenangkan duel udara yang penting sebesar 71,4 persen, dengan United yang hanya mampu mencatatkan 28,6 persen – angka yang sangat kurang tentunya.

Untuk penguasaan bola, jangan ditanyakan lagi menjadi milik siapa karena Anda tahu pemenangnya. Seperti yang sudah-sudah, The Red Devils membukukan kemenangan dalam possession, dengan mereka kali ini unggul 56,9 persen dan lawannya hanya 43,1 persen.

United juga perlu berharap pada Dewi Fortuna karena itu sangat krusial. Dari lima tendangan ke gawang yang mereka arahkan, hanya satu yang berbuah gol – Bournemouth sendiri mencetak dua gol dari lima tendangannya ke gawang David de Gea.

Van Gaal yang serba salah bahkan menekankan bahwa anak asuhnya harusnya bisa memenangkan pertandingan ini, namun ia tak kuasa mengubah peruntungan timnya yang di laga semalam memainkan banyak pemain muda.

“Ini sangat mengecewakan karena, terlepas gol awal [dari Stanislas], kami bermain sangat baik di pertandingan ini, mencetak gol penyama dan kami menciptakan lebih banyak peluang untuk mencetak gol kedua,” ujarnya. “Kami tidak berhasil melakukan itu di babak pertama, namun kami sempat punya keyakinan pada para pemain, manajemen dan staf bahwa kami bisa memenangkan pertandingan ini.

“Kemudian set-play menghadirkan gol kedua untuk Bournemouth dan Anda tidak bisa menerima itu sebagai seorang pelatih atau pun manajer. Namun inilah yang terjadi dan kemudian Anda tahu bahwa, di laga seperti ini, klub yang mencetak gol kedua paling berpeluang menjadi pemenang dan mereka menekan setiap bola, jadi sangat sulit untuk kembali mengejar skor. Itulah pandangan saya terhadap pertandingan ini.”

Kini, semua yang bisa diharapkan adalah pemulihan mental dan berharap kembalinya pemain kunci. United sudah sangat merindukan bintang-bintangnya yang menepi dan mengharap keberuntungan memihak mereka di pertandingan selanjutnya.

Dengan periode sibuk Desember yang ada di depan mata, kemenangan kiranya menjadi harga mati untuk Van Gaal di kesempatan berikutnya – melawan Norwich pada akhir pekan mendatang – jika ia tidak ingin dicap gagal di Old Trafford.