Dominasi Italiano Di Kursi Manajer Liga Primer Inggris 2016/17

Tanpa banyak disadari, juru taktik asal Negeri Pizza mampu mendominasi kursi manajer klub anggota Liga Primer Inggris 2016/17/ Bakal seperti apa kiprah mereka?

Liga Primer Inggris musim 2016/17 yang akan dimulai akhir pekan ini, sekarang memiliki magnet yang lebih besar. Bukan hanya soal dana tak terhingga, bukan lagi perkara deretan pesepakbola top yang bercokol, tapi tentang berkumpulnya para pelatih terbaik dunia.

Manajer-manajer top yang sudah bercokol terlebih dahulu layaknya Arsene Wenger, Jurgen Klopp, hingga Claudio Ranieri musim depan akan dihadapkan melawan juru taktik yang lebih kuat, macam Pep Guardiola, Antonio Conte, sampai sosok lawas seperti Jose Mourinho.

Nama-nama di atas begitu ramai jadi bahasan di publik dan media sepakbola, tapi bagaimanapun mereka diwajibkan untuk memenangi persaingan melawan total 19 manajer lain guna jadi kampiun EPL.

Satu fakta unik yang lantas terungkap adalah manajer berkebangsaan Italia ternyata jadi favorit utama klub-klub EPL musim depan. Dari 20 klub yang ikut serta, setidaknya ada empat klub yang menggunakan jasa Italiano.

Jumlah itu bahkan mengalahkan kuantitas manajer di negeri sendiri, Inggris, dengan tiga manajer, diikuti Prancis, Spanyol, dan Wales, yang mengirim dua manajer. Ya, meski pamor sepakbola Italia sudah turun, pelatih yang mereka produksi -- dengan filosofi pragmatis yang khas -- tak bisa dibantah tetap jadi salah satu yang terbaik di dunia.

Dominasi allenatore Italiano sudah dimulai dengan kesuksesan Claudio Ranieri (Leicester City) dan Francesco Guidolin (Swansea City) di EPL musim lalu. Bak stimulus, musim ini EPL menarik dua peracik strategi Negeri Pizza lainnya, yakni Mazzarri yang tangani Watford dan Conte yang didapuk jadi pengasuh baru Chelsea.

Bakal bagaimana aksi para Italiano dalam menangani timnya di EPL musim depan?

Francesco Guidolin adalah nama yang flamboyan di Italia, meski gaungnya kurang terdengar di luar negeri termasuk Inggris. Karenanya ketika melatih Swansea City pada musim dingin lalu, kapten tim, Ashley Williams, bahkan harus googling terlebih dahulu untuk tahu profil manajer barunya.

Sosok Guidolin sendiri merupakan pelatih senior yang amat dihormati di Negeri Pizza. Mulai karier kepelatihan sejak dua dekade silam, namanya melejit bersama Vicenza dan Udinese. Pada klub yang disebut terakhir, sosok 60 tahun itu bahkan sempat membawa tim medioker itu finish di lima besar Serie A Italia selama tiga musim beruntun.

Gaya sepakbola yang diusung pelatih pengoleksi satu Coppa Italia ini terbilang sangat Italia. Filosofi catenaccio ia pegang teguh, tapi dengan variasi taktik yang cukup visioner lewat formasi 4-1-4-1. Salin itu jurus bola mati juga jadi andalannya dalam mencetak gol.

Taktiknya ini ternyata juga ampuh diterapkan di EPL. Hal itu terbukti dengan keberhasilannya meloloskan Swansea dari zona degradasi, lewat raihan 19 poin dari 13 laga. Musim depan dengan skuat yang tak jauh beda dengan musim lalu, Guidolin tampak jadi sosok yang masih realistis untuk menjaga peredaran The Swans di EPL.

Walter Mazzarri juga jadi sosok pelatih yang cukup populer di Italia. Namanya mulai diperhatikan ketika membawa Reggina lolos ke Piala UEFA pada 2006. Empat tahun kemudian, ia juga sempat mengantarkan Sampdoria finish di zona Liga Champions.

Kualitas taktikalnya makin diperhitungkan tatkala sukses memenuhi target Napoli untuk kembali jadi tim elite Italia. Mazzarri rutin meloloskan I Partenopei ke Eropa dan berpuncak ke Liga Champions 2013/14, lewat status runner-up Serie A 2012/13. Sayangnya ketika hijrah ke FC Internazionale, dirinya tak bisa dibilang sukses.

Gaya permainan sosok berusia 54 tahun ini cukup berbeda dari jutu taktik Italia kebanyakan. Mazzarri menekankan skema possession ball, dengan sirkulasi bola diagonal di lini depan guna memaksimalkan kedua sayap. Ia juga gemar memakai formasi tiga bek, untuk lebih total dalam bertahan maupun menyerang.

Profilnya yang cukup tinggi itu membuat banyak pihak heran mengapa Mazzarri menerima pinangan Watford, yang merupakan klub medioker. Kuat diduga pemilik klub yang juga orang Italia, Giampaolo Pozzo, adalah sosok yang sukses menggoda pelatih pengoleksi satu Coppa Italia tersebut.

Sang pemilik ingin The Golden Boys bisa menantang zona Eropa musim depan, bukan hanya sekadar bertahan di EPL layaknya musim lalu. Namun dengan komposisi pemain tersedia dan pengalaman Mazzarri yang baru kali pertama melatih di luar Italia, target itu tampaknya sulit terjadi. Salvezza (sekadar bertahan di kompetisi teratas) jadi tujuan yang lebih rasional.

Sebelum melatih Leicester City, nama Claudio Ranieri sejatinya sudah populer di kancah persepakbolaan Eropa. Ia adalah pelatih senior dengan segudang pengalaman melatih di dalam maupun luar Italia.

Namun Ranieri lebih dipandang sebagai pecundang, karena dalam karier melatihnya yang menyentuh masa dua dekade, hanya piala-piala kecil yang sanggup dihadirkannya. Skema permainan yang diusungnya juga konsisten menuai kritik, karena tak jelas titik fokusnya.

Terus diremehkan, segalanya lantas berubah di penghujung kariernya tatkala ditunjuk jadi manajer Leicester. Diperkuat oleh skuat medioker dengan filosofi bermain nothing to lose, The Tinkerman secara spektakuler membawa timnya jadi kampiun EPL musim lalu!

Namanya kemudian diagung-agungkan, tapi Ranieri tetap merunduk bagai padi. Ia tak lantas optimistis kembali hadirkan keajaiban musim depan, karena target awalnya adalah cukup menyelamatkan Leicester dari degradasi. Satu hal yang tentu sangat mungkin dilakukannya.

Antonio Conte adalah salah satu pelatih yang paling diperhitungkan di dunia. Ia memulainya kala menangani raksasa Italia, Juventus, sebagaimana dirinya mempersembahkan hat-trick Scudetto dan sepasang Piala Super Italia.

Hebatnya Conte membawa Juve ke trek-nya, setelah selama dua musim sebelumnya hanya finish di peringkat tujuh Serie A. Ia melanjutkan sinarnya ketika ditunjuk melatih timnas Italia yang tengah seret generasi. Meski begitu Gli Azzurri mampu disulap jadi tim yang paling mengesankan sepanjang Euro 2016 lalu, walau terhenti di perempat-final.

Berbekal kualitas dan sejarahnya, memang terasa sangat tepat bagi Chelsea yang tengah terpuruk menunjuk Conte sebagai pengusung kebangkitan. Pelatih berusia 47 tahun itu sudah sangat ngelotok mengurai situasi The Blues yang kusut.

Selain itu secara statistik, sosok yang hobi menerapkan formasi 3-5-2 itu tergolong spesial. Ia mampu menorehkan rerata 1,93 poin setiap partainya, dengan persentase menang mencapai 55,3 persen. Permainan Chelsea yang dikenal membosankan pun dijamin bakal lebih atraktif, menuruti filosofi sang manajer.

Satu ketakutan adalah soal pengalaman Conte yang tak pernah berkarier -- baik sebagai pemain maupun pelatih -- di luar Italia. Bahasa, kultur, dan budaya di Inggris bisa jadi masalah terbesarnya.