Dua Wajah Si Rubah

Musim lalu melambung tinggi, kini Leicester City malah kolaps dan terancam terdegradasi.

Dalam sepakbola, segalanya bisa berubah drastis dalam sekejap mata. Pernyataan klise tersebut ternyata berlaku secara ekstrem terhadap juara bertahan Liga Primer Inggris Leicester City.

Tak seorang pun menduga Leicester bakal memenangi Liga Primer 2015/16. The Foxes mampu menaklukkan taruhan senilai 1/5000 dan membuat klub-klub besar nan kaya di Inggris tak berkutik. Rasa-rasanya, tidak pernah sepakbola semengejutkan seperti musim lalu.

Barangkali, tidak banyak pula yang mengira Leicester akan terjatuh begitu keras hanya satu tahun berselang. Liga Primer 2016/17 tiba-tiba berubah menjadi neraka bagi pasukan Claudio Ranieri. Hingga pekan ke-24, mereka terpuruk di posisi kelima dari bawah dengan hanya mengoleksi 21 poin dan tinggal terpaut satu angka saja dari zona merah.

Koleksi poin tersebut bukan cuma 29 poin lebih sedikit dari pencapaian musim lalu, tetapi juga menjadikan Leicester sebagai juara bertahan terburuk dalam sejarah sepakbola Inggris – “mengungguli” catatan para juara bertahan payah lainnya, seperti Chelsea (2015/16) dan Blackburn Rovers (1995/96).

Kekalahan terakhir yang mereka derita di kandang sendiri dari Manchester United (3-0), Minggu (5/2), menjadi penanda bahwa sisa-sisa kejayaan Leicester nyaris tak berbekas. Gol-gol Henrikh Mkhitaryan, Zlatan Ibrahimovic, dan Juan Mata menghadirkan kekalahan keempat secara beruntun bagi Leicester sekaligus menjadi kekalahan ke-13 di liga.

Opta juga mencatat, hampir seluruh statistik permainan Leicester di musim ini lebih buruk ketimbang di musim lalu. Lantas, apa penyebab kejatuhan spektakuler Leicester ini?

Salah satu faktor yang masuk akal adalah kepergian salah satu pemain kunci mereka, tak lain tak bukan adalah N’Golo Kante. Bukan suatu kebetulan jika Chelsea, tim Kante saat ini, duduk nyaman di puncak klasemen seperti saat Leicester masih diperkuat gelandang bertahan asal Prancis itu.

Perbandingan statistik tekel Leicester di musim ini dan musim lalu juga menunjukkan kecenderungan itu. Suatu kali, Kante pernah membuat tekel terbanyak dari pemain mana pun di Liga Primer sejak 2012, yakni dengan 14 tekel saat melawan Liverpool di musim lalu. Sebagai perbandingan, seluruh pemain Leicester saat takluk 1-0 dari Burnley pada pekan lalu hanya mampu melakukan delapan tekel!

HD N'Golo Kante Leicester City Premier LeaguePerceraian dengan Kante sebabkan Leicester kolaps?

Meski begitu, sulit untuk mengatakan bahwa kehilangan satu pemain bisa menyebabkan efek domino pada sebuah tim. Dengan skuat yang relatif sama, aneh apabila Leicester sangat kepayahan untuk setidaknya menjaga performa. Faktanya, para pemain kunci Leicester di musim lalu justru tampil jeblok. Simak Jamie Vardy dan Riyad Mahrez.

Di pekan ke-24 musim lalu, Vardy dan Mahrez sudah mengemas 18 gol dan 13 gol. Musim ini? Vardy baru mencetak lima gol, sedangkan Mahrez hanya mengoleksi tiga gol (seluruhnya penalti). Dua amunisi baru di lini depan yang sama-sama memecahkan rekor transfer klub, Ahmed Musa dan Islam Slimani, juga tak mampu memperbaiki rendahnya produktivitas gol timnya di musim ini.

Langkah Vardy dan Mahrez untuk memperpanjang kontraknya di King Power Stadium boleh saja diapresiasi karena mereka tidak hengkang seperti Kante. Namun, performa buruk Vardy dan Mahrez tersebut menjadi simbol bahwa skuat Leicester seperti tidak punya ambisi.

HD Riyad Mahrez Jamie Vardy Leicester CityDuo maut Leicester, Mahrez dan Vardy, tak berkutik di musim ini

Minimnya ambisi Leicester mungkin bisa ditelusuri dari sang manajer, Ranieri. Seperti diketahui, manajer asal Italia itu memang gemar merendahkan diri di hadapan awak media. Kebiasaan ini berlanjut setelah Leicester menjadi juara. “Cukup 40 poin di Liga Primer,” katanya di awal musim ini.

The Tinkerman mungkin tak menyadari bahwa ia sedang mengembangkan sikap inferior terhadap skuatnya di tengah ekspektasi yang meninggi. Ranieri telah termakan oleh omongannya sendiri dan ia juga yang pada akhirnya harus repot. Kabar pemecatan Ranieri bahkan sudah menyeruak dalam beberapa pekan terakhir.

Kini, Leicester tidak punya waktu untuk merenungi kesalahan-kesalahan tersebut. Lima pekan ke depan akan sangat krusial. Mereka akan menghadapi Sevilla di babak 16 besar Liga Champions. Sementara di kompetisi domestik, masih terdapat duel berat kontra Liverpool dan Arsenal, serta menghadapi sesama tim papan bawah, Swansea City dan Hull City.

Inilah realita yang harus dihadapi Leicester dalam jagat sepakbola yang cepat berubah. Sebab dongeng sudah berakhir, saatnya Si Rubah mencari jalan keluar secepatnya.