Duet Maut Neymar - Luis Suarez, Bukti Barcelona Punya Chemistry

Bukan cuma cinta yang butuh chemistry. Duet maut Neymar dan Suarez membuktikan, kalau dalam sepakbola tak melulu bermodal skill kelas wahid...


GOALOLEH    DEWI AGRENIAWATI 


Chemistry. Begitu kata Lionel Messi yang menjadi kunci padunya trio penyerang Barcelona yang juga diisi Neymar dan Luis Suarez. Rupanya, chemistry ini tak hanya dibutuhkan untuk mempertahankan hubungan cinta sepasang manusia. 

Dalam urusan sepakbola, chemistry ini bisa jadi tak kalah penting dari sekadar mengandalkan skill individu. Setidaknya, itulah yang tergambar dalam duet maut Neymar dan Luis Suarez belakangan ini. Kemesraan mereka di lapangan membuat label Messi-dependencia yang melekat pada Barcelona pelan-pelan mulai hilang. 

Ya, kapan pun Si Kutu cedera, ramai-ramai meragukan kemampuan klub Catalan mengatasi lawan ini dan lawan itu. Seolah-olah, Barca ditimpa bencana besar kalau Messi masuk ruang pesakitan. Itu juga yang terjadi saat kapten tim nasional Argentina terkapar di menit ketiga dalam kemenangan 2-1 atas Las Palmas, 26 September silam. Tiga angka yang dipetik di Camp Nou kemudian menjadi hal biasa dan atensi pun terpusat pada Messi. Padahal jika mau dirunut ke belakang, di sinilah titik awal yang menyadarkan publik sepakbola betapa mematikannya kemitraan Neymar dan Suarez. Orang malah kompak menunggu kabar terakhir pemain yang ketika itu langsung dilarikan ke rumah sakit. 

“Saya selalu sedih ketika salah satu pemain mendapat cedera dan lebih [sedih] ketika ini terjadi pada Messi,” begitu pengakuan Luis Enrique usai pertandingan. 

Benar saja, ketika Barca mengumumkan bahwa salah satu pemain kesayangan mereka harus menepi enam hingga delapan pekan, tak sedikit yang memprediksi tim ini akan kesulitan. Dan kalau dihitung-hitung, rentang waktu pemulihan pemain 28 tahun ini mepet dengan laga melawan Real Madrid yang bertajuk El Clasico. Bagaimana kehidupan Barca sejak ditinggal sementara oleh Messi yang fokus memulihkan cedera ligamen lutut? 

Awan mendung yang menghiasi Camp Nou pelan tapi pasti mulai menghilang. Satu per satu lawan dilibas pasukan Luis Enrique meski Messi hanya membantu melalui doa dari luar lapangan. Mulai dari Las Palmas hingga laga terakhir kontra Villarreal, sudah sepuluh pertandingan dilalui dan cuma sekali kalah dan seri. Delapan sisanya? Dilahap dengan raihan tiga angka. 

Lalu, siapa dalang di balik superioritas Barca jika Messi saja tak ada di lapangan? 

Luis Suarez dan Neymar jawabannya. Mereka sukses membungkam peragu, karena duet penyerang Amerika Tengah sukses mengisi peran di tengah absensi Messi. Neymar tampaknya sudah benar-benar melupakan masalah transfer kontroversi yang menjeratnya dan memilih fokus unjuk gigi di pertandingan. Kalau tidak, mustahil rasanya melihat kapten timnas Brasil kini nangkring di puncak daftar El Pichichi dengan 11 gol, yang artinya ia berkontribusi sampai 44 persen dari total 25 gol Blaugrana musim ini. Yang terkini, pemain yang dikenal modis di luar lapangan ini menghipnotis jutaan penonton dengan gol ciamiknya ke gawang Villarreal yang disebut identik dengan milik Ronaldinho saat masih berseragam The Catalans. Tidak aneh jika pujian kemudian datang dari kubu Blaugrana, bahkan Joey Barton yang pernah menyebut Ney sebagai “Justin Bieber sepakbola” pun ikut terkesima dan merevisi cuitannya dua tahun lalu. 

“Pelan-pelan mulai menyesali cuitan [soal] Neymar tersebut,” ucap gelandang Inggris.

Suarez tak mau kalah. Ia melengkapi dominasi dengan tambahan sembilan gol. Hebatnya lagi, dengan catatan gemilang tersebut tak satu pun diantara mereka mendapat cap egois. Neymar dan Suarez hampir selalu terlibat dalam terciptanya gol dan keduanya boleh bangga dengan torehan assist mereka. Dalam hal ini, Neymar sudah memberikan enam sementara Suarez lima di semua kompetisi. Contoh yang paling segar dalam ingatan bagaimana Suarez dan Neymar bahu-membahu memberikan kemenangan untuk Barca adalah saat menghajar BATE 3-0 di Liga Champions, dimana Neymar memberikan assist untuk gol Suarez dan sebaliknya, eks bintang Liverpool menyuplai bola sebelum terciptanya gol mantan penggawa Santos. 

Kehebatan yang dipamerkan Suarez sekaligus membungkam nada sinis yang sempat dilontarkan legenda Johan Cryuff di awal perekrutannya, yang menyebut “Suarez pemain hebat, tapi memiliki karakter rumit” dan meragukan kekompakan lini serang Barcelona karena dinilai “memilih individualisme ketimbang membangun tim”. 

Mungkin Messi benar, Barcelona tidak hanya diisi pemain dengan skill di atas rata-rata tapi juga punya chemistry, sehingga antar penggawanya memiliki ikatan emosional lebih dari sekadar tuntutan bermain untuk tim. Hal ini tampak jelas saat bagaimana Neymar menyapa 'mesra' Suarez saat tiba di Camp Nou sebelum kick-off versus Villarreal. 

Dan, jika chemistry ini terus dipertahankan, bukan tak mungkin duet Neymar dan Suarez mampu menggeser kenangan fans akan kehebatan duo Hristo Stoichkov degan Romario yang kombinasi keduanya membuahkan 46 gol untuk mengantar Barca meraih titel liga musim 1993/94. 

Tapi sebelum itu, chemistry ini pula yang akan sangat dibutuhkan klub Catalan untuk meladeni Real Madrid di Santiago Bernabeu ketika kompetisi kembali bergulir tepat setelah jeda internasional pekan ini. Kabar terakhir menyebutkan proses pemulihan La Pulga berjalan lambat dan terancam absen dalam lawatan Barca ke ibu kota Spanyol. 

Kalau terus begini, apakah Barcelona masih perlu cemas menghadapi medan perang El Clasico tanpa Messi?