Eks Pemain Asing Indonesian Premier League Ungkap Soal Pengaturan Skor Di Indonesia

Litvinov kembali buka-bukaan soal pengaturan skor, kasus tunggakan gajinya, serta soal dirinya dideportasi dari Indonesia.

OLEH MUHAMAD RAIS ADNAN

Mantan pemain klub PSLS Lhokseumawe, Sergei Litvinov, kembali buka-bukaan soal permasalahan yang dihadapinya saat membela klub tersebut di kompetisi Indonesian Premier League (IPL) 2013. Seperti diketahui, Litvinov merupakan pemain asing yang gajinya masih ditunggak enam bulan oleh PSLS sebesar Rp124 juta. Mirisnya, untuk menyambung hidup dia harus berjualan jus di tempat koleganya yang berada di Solo, sebelum akhirnya dia dideportasi oleh pihak keimigrasian Indonesia pada 2 Juli 2014.

Dia pun kembali mencurahkan isi hatinya terkait permasalahan yang dialaminya di Indonesia, ketika diwawancarai oleh eurosport.ru Terutama, terkait pengaturan skor yang terjadi saat kompetisi IPL bergulir. "Kami bermain 1-1 dengan sebuah tim pada babak reguler dan kalah 5-0 oleh tim yang sama di babak play-off, ketika saya cedera.

Saya menelepon teman-teman saya untuk menanyakan bagaimana kita bisa kalah seburuk itu. Tapi mereka menjawab 'Oh, ayolah, mereka mencetak gol yang luar biasa'," buka mantan pemain Solo FC itu. Menerima jawaban seperti itu, Litvinov merasakan telah terjadi sesuatu yang aneh.

"Dan kemudian skandal itu dimulai. FIFA melarang tim selama dua tahun dan 16 pemain yang ambil bagian dalam pertandingan juga diskors," tambahnya. Kemudian, pemain berusia 28 tahun itu kembali membeberkan ucapan kapten timnya, usai melakoni sebuah pertandingan yang berkesudahan 0-0.

"Kapten kami mengatakan kepada saya 'Bisakah kamu membayangkan bahwa selama pertandingan itu manajer mereka mendekati kami dan mengatakan mereka membutuhkan kita untuk kalah. Dia menelepon kiper kami dan mengatakan bahwa ia harus kemasukan satu atau dua gol dan berjanji untuk memberikan uang', tapi mereka menolak," paparnya. Selanjutnya, Litvinov mengungkapkan dirinya pernah mendapatkan tawaran dari sebuah stasiun televisi untuk menjadi komentator Piala Dunia 2014 saat dia sudah ditangkap pihak keimigrasian Indonesia. Namun, dia menolak tawaran tersebut, hingga akhirnya dia dideportasi kembali ke Rusia. Dia pun kembali menceritakan kasus pemain asing yang meninggal dunia di sepakbola Indonesia dengan kondisi gajinya yang masih tertunggak selama berbulan-bulan.