EKSKLUSIF Ball-Boy Piala Dunia 1950: Maracanazo Bukan Kejutan

Elmo Cordeiro mengatakan kejutan terbesar di Piala Dunia 1950 bukanlah tumbangnya Brasil di final saat melawan Uruguay. Lalu?

OLEH TEGAR PARAMARTHA Ikuti di twitterElmo Cordeiro telah menunggu selama 64 tahun untuk menyaksikan Brasil memainkan laga Piala Dunia di Belo Horizante.

Seorang ball-boy pada Piala Dunia 1950, Cordeiro, menyaksikan apa yang ia klail sebagai kejutan terbesar dalam sejarah sepakbola. Tetapi itu tidak ada hubungannya dengan 'Maracanazo' dan itu terjadi di Belo, bukan di Rio.

Saat itu, ia masih muda, Cordeiro bekerja untuk perusahaan konstruksi yang membangun Estadio Independencia. Dan dua hari sebelum Piala Dunia bergulir, dia ditawari pekerjaan sebagai seorang ball-boy.

"Ada tiga pertandingan di Beli dan yang pertama adalah Swiss melawan Yugoslavia," ujarnya kepada Ben Hayward, Goal Internasional, di Belo Horizonte. "Saya merasa senang menjadi bagian dan Yugoslavia bermain impresif. Mereka menang 3-0."

Pertandingan Cordeiro berikutnya adalah Inggris - yang akan menjalani debut di Piala Dunia - melawan Amerika Serikat, yang berisi pemain paruh waktu dan diperkirakan akan kalah secara telak.

"Inggris adalah penemu sepakbola," ujar sosok berusia 79 tahun yang masih hapal dengan jelas siapa saja pemain The Three Lions yang bermain di laga itu. "Williams, Ramsey, Aston, Billy Wright, Hughes, Dickinson, Finney, Mannion, Bentley, Mortenson, Mullen," ujarnya tanpa ragu.

Tetapi ada satu nama yang hilang. "Saya tidak mengerti mengapa Stanley Matthews tidak bermain dan saya mulai bertanya kepada orang-orang usai laga," jelasnya. Matthews, ternyata baru saja kembali usai melakukan perjalanan amal ke Kanada. Menghadapi Amerika Serikat yang tidak memiliki nama, Inggris berpikir mereka tidak membutuhkan dia dan dia melihatnya dari tribun. Mereka kalah 1-0.

"Inggris adalah 'raja sepakbola' dan mereka diperkirakan menang mudah, tetapi saya pikir mereka benar-benar kehilangan Matthews," imbuh Cordeiro. "Itu adalah kejutan besar - yang terbesar dalam sejarah Piala Dunia saat itu."

Tetapi 1950 memiliki kejutan lebih banyak. Setelah menyaksikan Uruguay melibas Bolivia 8-0 di Belo, Elmo pergi ke Rio untuk menyaksikan laga final di Maracana, di mana dia melihat sebagai suporter, dengan berharap Brasil merengkuh trofi juara. "Saya berangkat ke Rio," ujarnya. "Itu 18 jam perjalanan dan saya tinggal di hostel. Brasil kalah dan semuanya sedih.

"Tetapi 'Maracanazo' bukanlah kejutan," tambahnya. "Uruguay adalah tim yang lebih baik dan lebih baik dalam persiapan fisik. Ketika saya menyaksikan mereka mengalahkan Bolivia 8-0, saya memperkirakan mereka menjadi juara."

Kemudian, 64 tahun kemudian, dan setelah menyaksikan beberapa laga di turnamen tahun ini, Elmo akhirnya bisa menyaksikan Selecao bermain lagi di Belo Horizonte, jika mereka berhasil menembus babak semi-final.

"Ini Piala Dunia yang cantik sejauh ini," ujarnya. "Saya harap turnamen satu ini akan berakhir dengan bahagia."

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics