EKSKLUSIF - Carlo Ancelotti: Saya Tak Akan Pernah Latih Internazionale

Lama mengibarkan bendera Milan sebagai pemain dan pelatih, Carlo Ancelotti menepis peluang untuk bergabung ke musuh sekota Il Diavoli.

Dikarenakan keterikatan erat dan respek untuk AC Milan, mustahil bagi Carlo Ancelotti untuk menerima kemungkinan menukangi Internazionale, seteru sewilayah I Rossoneri.

Selain pernah lumayan lama memperkuat tim sebagai pemain, Don Carletto juga menghabiskan delapan tahun di bangku pelatih Sang Iblis, mempersembahkan dua gelar Liga Champions dan sebuah Scudetto selama bertugas dari 2001 sampai 2009.

Ancelotti pun memastikan, didasari latar belakang tersebut, ia tak akan "berkhianat" dengan menukangi Nerazzurri.

"Saya tidak bisa melatih Inter. Karena saya melewati bertahun-tahun di Milan, ini soal respek terhadap sejarah saya dan sejarah klub yang telah saya latih," katanya kepada Goal.

"Ada banyak skuat yang harus saya hindari. Saya tak boleh menentang sejarah saya."

Ancelotti mengaku sempat mempertimbangkan balik ke Milan pada musim panas kemarin sebelum membatalkannya lantaran ia harus menjalani operasi punggung yang membutuhkan periode rehabilitasi panjang.

"Saat saya selesai dengan [Real] Madrid, ada kontak dengan [CEO Milan Adriano] Galliani. Kami bertemu di Madrid, tapi saya harus menjalani operasi ini," beber Ancelotti.


"Ketika itu saya akan menepi empat bulan dan tak akan bisa berada di kondisi 100 persen."

"Jadi, meski sedikit mengecewakan saya, itu adalah hal tepat untuk dilakukan dan Milan memahami ini."

Kendati kesempatan tersebut terlewatkan, Ancelotti enggan mencoret peluang untuk melatih Milan lagi pada masa mendatang. Hal serupa berlaku pula untuk Paris Saint-Germain, mantan timnya yang lain yang pernah dibawa Carletto menjuarai Ligue 1 Prancis 2012/13.

"Saya memiliki peruntungan baik untuk menikmati diri di mana pun saya melatih," tutur mantan gelandang Italia ini.

"Untuk alasan ini, saya tak bisa mengatakan saya tak akan kembali ke satu klub atau klub lainnya. Saya pastinya bersedia kembali ke Milan, seperti halnya saya bersedia kembali ke PSG."

"Terlepas dari bagaimana segala sesuatunya berakhir [di mantan klub], itu adalah pengalaman-pengalaman di mana saya mempunyai memori luar biasa," tuntasnya.