EKSKLUSIF - Carlo Ancelotti Tentang Paris: Jangan Berpura-Pura Tak Terjadi Apa-Apa

Bagi eks bos PSG ini, adalah wajar bila performa para pemain di lapangan terpengaruh oleh insiden penyerangan di Paris yang merenggut 130 nyawa.

Menurut Carlo Ancelotti, adalah penting bagi Paris Saint-Germain untuk tidak berlaku seolah tidak terjadi apa-apa pascaserangan teror di Paris.

Mantan bos Les Parisiens ini meyakini para pemain akan membutuhkan waktu untuk memahami peristiwa tersebut, dengan Stade de France menjadi salah satu lokasi target saat tim nasional Prancis memainkan laga uji coba melawan Jerman.

Beredar laporan yang menengarai pemain-pemain tertentu, seperti Edinson Cavani dan David Luiz, mungkin enggan kembali ke Paris sehabis international break. Dalam pandangan Ancelotti, merupakan hal yang terelakkan bila performa di lapangan akan terpengaruh oleh insiden itu.

PSG mengalahkan Lorient 2-1 dalam lanjutan Ligue 1 pada Sabtu (21/11) dan kini akan bertandang ke Swedia untuk menghadapi Malmo di matchday 5 babak grup Liga Champions.

"Saya bereaksi sebagaimana semua orang bereaksi: kaget, takut, khawatir," ujar Ancelotti mengenai pengeboman dan penembakan tersebut. "Sayangnya, kejadian ini mengubah hidup semua orang."

“Kita perlu memiliki keberanian untuk hidup tanpa menghilangkan kebebasan dan respek yang selalu kita miliki selama ini. Ini juga harus terjadi di PSG, meskipun pastinya di sana atmosfernya jauh lebih sulit ketimbang di tempat lain."

"Hal terbaik adalah menghindari sikap pura-pura tak ada yang terjadi. Hal-hal ini terjadi dan itu adalah hal-hal yang memengaruhi kita di level personal dan profesional."

"Kehidupan profesional selalu terkondisikan oleh kehidupan personal. Oleh karena itu kekhawatiran untuk keluarga, untuk anak, pasti berpengaruh di level keolahragaan."

"Berpura-pura tak ada yang terjadi akan menjadi hal terburuk untuk dilakukan. Penting untuk membicarakan tentang ini, memastikan para pemain bisa berduka, mengekspresikan perasaan mereka."

"Tak diragukan, peristiwa ini memengaruhi performa. Tak ada keraguan tentang itu."

Ekspresi solidaritas tinggi nan menyentuh dengan bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Prancis, La Marseillaise, dilakukan jelang partai persahabatan antara Les Bleus dan Inggris empat hari pascapenyerangan, namun tribut serupa justru diejek di Turki.

"Itu teramat indah di Wembley, sebagaimana yang terjadi di Turki amat jelek," imbuh Ancelotti. Itu dua hal berlawanan tentang bagaimana seseorang harus bereaksi dan bagaimana seseorang harus meningkatkan kesadaran."


Lawatan ke Malmo bakal menandai momen pulang kampung untuk Zlatan Ibrahimovic, yang mengawali karier dengan klub kota kelahirannya itu sebelum bergabung ke Ajax.

Ibrahimovic kembali ke sepakbola klub setelah mengemas tiga gol dalam dua laga play-off Swedia kontra Denmark untuk memberangkatkan negaranya ke Euro 2016.

"Sangat menyenangkan melihat Ibrahimovic bermain dengan segenap hasrat di usia 34," ujar Ancelotti. "Saya mengenalnya dengan baik dan dia tak mengejutkan saya."

"Saya tahu betapa berarti tim nasional untuknya, betapa dia mendorong dirinya untuk membawa negara menuju Euro. Baginya, ini akan menjadi partisipasi terakhir di pentas internasional dengan Swedia."

"Dia terus memberikan output mengagumkan."