EKSKLUSIF Erick Thohir: Beberkan Tiga Syarat Sepakbola Indonesia Maju

Erick Thohir menyebut besarnya gairah fans sepakbola Indonesia harus diimbangi dengan penerapan hukum yang persuasif tapi tegas.

EKSKLUSIF GOAL INDONESIA Akhir 2013, nama Indonesia mendadak terangkat ke permukaan sepakbola dunia setelah Erick Thohir dipastikan memimpin konsorsium yang mengakuisisi saham mayoritas salah satu klub kekuatan tradisional Italia, FC Internazionale, dan kemudian ditunjuk sebagai presiden baru klub menggantikan Massimo Moratti. Kepastian itu mengakhiri era Moratti yang dimulai sejak 1995 sekaligus membuka lembaran baru.

Selama dipimpin Moratti, Inter memenangi lima gelar juara Serie A Italia, satu trofi Liga Champions, dan satu Piala UEFA. Setelah menggondol tiga gelar pada 2010, Inter hanya mampu menambah satu trofi Coppa Italia ke lemari gelar mereka. Thohir lalu tampil dan diharapkan dapat mengembalikan Inter ke masa kejayaan.

Chief Editor Goal Indonesia, Agung Harsya, dan Deputy Editor Rais Adnan berkesempatan menemui Thohir di sela-sela kesibukannya di Shangri-La Hotel Jakarta, sepekan silam. Banyak pertanyaan yang kami kantungi, mulai dari kebijakan transfer, visi manajemen, Roberto Mancini, hingga tak ketinggalan soal kemajuan sepakbola tanah air. Dengan gaya yang lugas, fokus, dan percaya diri, Thohir menjawab seluruh pertanyaan kami.

Kami membuka wawancara dengan membahas tentang kemajuan sepakbola Indonesia di matanya. Sejauh pengalamannya berkecimpung di dunia olahraga dan khususnya sepakbola bersama DC United serta Inter, apakah Thohir memiliki visi memajukan sepakbola tanah air? Simak paparannya!

Goal Indonesia: Apa terlalu sulit untuk menjalankan industri sepakbola di Indonesia? Klub yang kurang apik jualan, sponsor yang ragu, atau memang kultur masyarakat Indonesia itu sendiri?

Erick Thohir: Memang ada beberapa syarat ketika olahraga ingin menjadi industri di sebuah negara. Satu, memang daya beli sudah mulai meningkat. Kalau sekarang, daya beli masih rendah sehingga orang lebih mengharapkan untuk makan, beli pakaian, rumah, sementara untuk ekstra entertainment-nya belum. Kalau seperti di Amerika dan Eropa itu kan pengeluarannya sudah jauh lebih besar. Sehingga ketika GDP [gross domestic product] meningkat tinggi itu baru bisa dibelanjakan buat entertainment. Sport itu kelasnya di atas entertainment, uang lebihnya lagi.

Kedua, juga bagaimana tentang sebuah negara melalui pemerintahnya, asosiasinya, federasinya, membuat supaya industri olahraga benar-benar bisa menjadi industri. Mesti dibentuk environment-nya tidak bisa hanya, "Wah, kita mau bikin liga sepakbola," tapi kan suasananya mesti dibentuk.

Yang ketiga, memang yang perlu juga diseriuskan itu adalah tentang manajemen. Manajemen masih menjadi kendala yang paling besar juga di indonesia. Plan, action, dan strategy semuanya masih belum solid. Nah, ketiga komponen ini yang mesti benar-benar dimaksimalkan baru bisa jadi industri.

Goal Indonesia: Apakah kultur sepakbola kita yang suka rusuh itu juga menyulitkan sponsor untuk masuk?

Erick Thohir: Saya rasa begini, satu, keuntungan dari sepakbola adalah olahraga yang sangat diminati di Indonesia. Tentu kita juga mesti lihat kerusuhan itu dari sisi emosional dan loyalitas. Di Inggris dulu juga hooligan-nya luar biasa. Jadi tinggal bagaimana federasi, asosiasi, klub, pemerintah, dapat menyalurkan emosional ini ke hal yang lebih baik. Tentu penerapan hukumnya juga mesti kuat sehingga kalau terjadi kerusuhan bisa diambil tindakan yang persuasif tapi tegas.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics