EKSKLUSIF Erick Thohir: Kemampuan Dasar Pemain Muda Indonesia Rendah

Pengalaman mengundang pemain Indonesia trial ke DC United mengajarkan Erick Thohir hal penting. Apa itu?

EKSKLUSIF GOAL INDONESIA Chief Editor Goal Indonesia, Agung Harsya, dan Deputy Editor Rais Adnan berkesempatan menemui presiden Internazionale Erick Thohir di sela-sela kesibukannya di Shangri-La Hotel Jakarta, sepekan silam. Banyak pertanyaan yang kami kantungi, mulai dari kebijakan transfer, visi manajemen, Roberto Mancini, hingga tak ketinggalan soal kemajuan sepakbola tanah air. Dengan gaya yang lugas, fokus, dan percaya diri, Thohir menjawab seluruh pertanyaan kami.

Pada bagian kedua, kami membahas tentang kemungkinan pemain Indonesia memperoleh peluang lebih besar untuk berkiprah di luar negeri. Hal itu mungkin saja terjadi mengingat posisi Thohir sebagai presiden Inter maupun pemilik DC United, salah satu klub MLS di Amerika Serikat. Thohir pernah pula mengundang dua pemain muda Indonesia untuk berkiprah di MLS meski sayangnya hasil tidak sesuai harapan.

Goal Indonesia: Apakah dalam waktu dekat ada pemain Indonesia lagi yang akan dibawa untuk trial ke DC United atau Internazionale?

Erick Thohir: Saya sih mengharapkan ada, cuma dari pengalaman saya dengan dua pemain sebelumnya (Andik Vermansah dan Syamsir Alam) banyak sekali kekurangan untuk pemain Indonesia. Saya sudah jelaskan berkali-kali, kemampuan dasar sepakbolanya kurang kuat. Nah, yang kedua, fighting spirit itu juga agak rendah. Adaptasi itu juga menjadi masalah di suatu tempat. Biasanya makan sayur asem tapi sekarang mesti makan hamburger dan steak. Itu menjadi problem. Saya lihat ini perlunya ada pembinaan sejak dini. Biasanya anak-anak kecil itu adaptasinya lebih mudah ketika umur 12-14 tahun, dibandingkan dengan umur 18 atau 19 tahun.Sekarang saya juga dengar anak-anak mulai ikut sekolah sepakbola. Itu akan jadi bibit potensial. Kalau senior sudah mulai banyak kepentingan.

Goal Indonesia: Kalau U-19?

Erick Thohir: Saya rasa sudah terlambat untuk Eropa, tapi kalau di Amerika Serikat mungkin. Ini juga masalah. Sepakbola AS jika dibandingkan tiga tahun lalu dan sekarang itu meningkatnya luar biasa. Lihat saja penampilan mereka di Piala Dunia. Lihat saja banyak pemain dunia sekarang yang ingin merumput di AS. Jadi ini yang tadinya, "Ah, kayaknya sepakbola Indonesia sama Amerika bisa ketemu tiga tahun lalu, bisa trial nih," namun yang ada kita stagnan. Mohon maaf dengan segala hormat, tapi di sana itu luar biasa. Kita bisa lihat di Piala Dunia seperti apa mainnya kan. Akhirnya yang tadinya kualitas pemain Indonesia tertentu itu bisa berkiprah di Amerika, tapi ternyata ketinggalan lagi.

Apalagi di Eropa. Mohon maaf, di Eropa itu kan saingannya pemain dari Afrika, kemudian pemain dari Eropanya sendiri. Pemain Amerika Latin juga ke Eropa sebelum kembali lagi ke Amerika. Memang ini mesti dibetulkan dari awal. Seperti kita lihat Jepang dan Korea Selatan sekarang sudah mulai bicara. Banyak pemain Jepang luar biasa bermain di berbagai klub dan bukan hanya sebagai cadangan, tapi pemain inti. Begitu juga Korea dan Tiongkok pun mulai sangat agresif. Tiongkok juga perlu diantisipasi, sudah ada pemain yang bergabung di liga Jerman. India juga sudah memulai liga. Jangan nanti tujuh tahun lagi tiba-tiba ada pemain India [di Eropa], padahal liganya baru kemarin dimulai.

Hal-hal ini yang penting pemerintah, masyarakat, asosiasi,mesti [berjalan] sama-sama. Ini domainnya bukan lagi pribadi atau kelompok, melainkan negara. Coba kita lihat film Invictus, tentang rugby di Afrika Selatan ketika dipimpin Nelson Mandela. Itu menjadi suatu gerakan yang luar biasa. [Rugby] tidak hanya menjadi kebanggaan negara, tapi dapat mempersatukan perbedaan etnis dan akhirnya menjadi suatu gelombang yang besar. Dan Afrika Selatan sampai sekarang bagus rugby-nya maupun industrinya. Ini saya rasa tadi kenapa sepakbola bukan sekadar olahraga.

Goal Indonesia: Jadi, sulit ada wild card untuk para pemain Indonesia agar bisa berkarier di Inter dalam waktu dekat?

Saya tidak bisa bilang sulit. Itu tergantung dari pemainnya sendiri. Saya tidak bisa bilang, "Oh pemain indonesia tidak bisa," siapa tahu nanti ada wonder boy? (tersenyum)

Goal Indonesia: Apakah Inter mengirimkan tim pencari bakat di Piala Asia?

Ada, kemarin di [Piala Dunia] Brasil juga ada dan ada hasilnya. Ya saya rasa pasti scouting itu berjalan terus. Cuma mungkin kalau saya komen secara individu saya tidak berani karena terlalu dini.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics