EKSKLUSIF Erick Thohir: Tanpa Liga Champions, FC Internazionale Tidak Masalah

Dalam wawancara eksklusif kepada Goal Indonesia, Erick Thohir menjelaskan secara detil target Internazionale dan rencana finansial mereka.

EKSKLUSIF GOAL INDONESIA
Tak sedikit klub raksasa Eropa yang begitu berharap bisa ikut ambil bagian di kompetisi Liga Champions di setiap musimnya.

Pertimbangannya jelas, selain masalah gengsi, bermain di Liga Champions pastinya bisa menambah pundi-pundi uang mereka, mulai dari pendapat hak siar, bonus dari UEFA hingga penambahan pendapatan dari tiket sekalipun.

Karena itulah banyak pihak yang merasa rugi jika tak bisa ambil bagian di kompetisi antarklub terbaik se-Eropa itu.

Tapi bagi FC Internazionale, bermain di Liga Champions atau tidak bisa jadi tak ada bedanya. Menurut Erick Thohir dalam wawancara eksklusif kepada Chief Editor Goal Indonesia Agung Harsya dan Deputy Editor Rais Adnan di Shangri-La Hotel, Jakarta, FC Internazionale sudah memiliki rencana, yang sudah disusun sedemikian rupa, untuk menyehatkan kondisi finansial mereka.

Simak wawancara eksklusif kami dengan presiden FC Internazionale Erick Thohir di bawah ini:

Goal Indonesia: Apakah memenangkan Liga Europa menjadi tujuan utama musim ini?

Erick Thohir: Saya rasa begini, ketika kita ingin melakukan sesuatu prinsip saya harus [menjadi] yang terbaik. Karena kompetisi itu kan sangat kejam. Ketika kita sekarang bisa kembali ke Liga Europa ya kita ingin minimal tetap bertahan di Liga Europa. Ketika sekarang kita lolos dari fase grup dan bertemu Celtic di babak 32 besar, kita harapkan terus lolos, ke babak 16, delapan besar, bahkan hingga juara. Itu mesti ada. Kita lakukan itu juga bukan asal bicara.

Salah satu alasan kenapa kita merekrut Roberto Mancini adalah karena kita ingin ada di Liga Europa dan Liga Champions bersamanya. Ketika kita mulai merekrut pemain baru, kita juga memperhitungkan itu, harus pemain yang bisa meningkatkan tim. Inilah kita yang selalu coba lakukan yang terbaik, soal hasilnya apa ya saya tidak tahu. Yang penting komitmen itu bahwa kita ingin selalu menjadi yang terbaik.

Goal Indonesia: Ada rumor kalau Inter gagal ke Liga Champions musim depan akan mengalami masalah finansial?

Erick Thohir: Ini yang menarik, selalu orang melihat dari rumor. Kita mesti ingat, Inter itu masih top ten brand sepakbola dunia. Sekarang kita menuju top ten dalam hal revenue di sepakbola dunia. Tanpa Liga Champions, revenue Inter bisa mencapai 180-200 juta euro. Selama satu tahun kita di sana, kita bisa meningkatkan revenue hingga 20-30 juta euro. Tanpa Liga Champions, tidak ada masalah. Tanpa Liga Europa pun kita tidak ada masalah. Tapi karena kita top ten brand, jumlah fansnya juga top ten, ya kita mesti ke arah situ. Targetnya memang mesti ke situ. Kalau Inter targetnya cuma peringkat sembilan, sepuluh, itu bukan Inter. Inter mesti masuk di Liga Europa dan bahkan Liga Champions.

Goal Indonesia: Jadi tidak ada masalah sama sekali di finansial?

Erick Thohir: Saya rasa orang suka bingung dengan financial fair play. Klub-klub yang main di liga Eropa, baik Champions maupun Europa, wajib mengikuti financial fair play. Financial fair play ini justru yang kadang-kadang dari sisi manajemen coba menjelaskan, [tetapi orang] menjadi sok tahu padahal ini realita. Financial fair play itu apa sih? Seperti batasan gaji di Amerika yang namanya salary cap di basket, American football, cuma tidak seperti itu tapi hampir seperti itu. Karena industrinya sepakbola sangat besar, UEFA ingin memastikan agar industrinya terjaga.

Jangan nanti ada klub-klub yang kelihatan bagus ternyata bangkrut. Dan sudah berapa belas tahun ini banyak terjadi. Itu menghancurkan image sepakbola di Eropa. Makanya financial fair play ini bagian dari apa [industri], klub-klub ini mesti disiplin kapan dia berbelanja. Tergantung revenue-nya, kalau revenue-nya baru sekian dan dia banyak belanja terus bakal hancur juga. Inter, karena kita di bawah financial fair play itu, mesti disiplin. Saya percaya membentuk tim itu tidak dalam jangka pendek tapi mesti ada perencanaan satu-dua tahun. Ketika melakukan perekrutan pemain, yang gabung itu yang baik dan cocok, dan yang terpenting diperlukan buat [tim] Inter. Bukan hanya beli-beli tapi tidak terpakai.

Goal Indonesia: Akankah Internazionale dalam waktu dekat akan membangun sebuah kemitraan dengan sponsor yang bernilai besar seperti yang dilakukan oleh PSG dan Manchester United?

Erick Thohir: Itu salah satu asalan kenapa kita merekrut orang-orang terbaik. Tidak hanya kita bangun secara olahraganya, tapi juga kita membawa jajaran terbaik dari manajemen. Kita bawa Michael Bolingbroke dari Manchester United sebagai CEO. Kita bawa James White dari Manchester United sebagai chief digital revenue. Kita bawa juga David Garth dari Manchester United sebagai chief stadium revenue. Kita bawa juga Claire Lewis dari Apple sebagai marketing director, dan Dan Chard dari AEG, salah satu grup besar entertainment.

Kita rekrut juga banyak orang yang terbaik. Semua bagian dari bagaimana [memperbaiki] tidak hanya di olahraganya, tapi kita juga mesti seimbang dari segi bisnis. Pelatihnya sudah bagus seperti Roberto Mancini, masa CEO-nya tidak bagus. Tidak boleh. Ini seperti dua sisi mata uang. Olahraga mesti bagus, bisnisnya juga mesti bagus. Lihat Manchester United ketika tidak masuk Liga Champions no problem, sales-nya masih ratusan juta [euro].

Mereka masih bisa belanja pemain. Karena [mengikuti] Liga Champions itu [potensi pemasukannya] 50 juta euro, bukan 500 juta. Jadi klub-klub seperti Barcelona, Real Madrid, Manchester United, 50 juta itu sepuluh persen dari total pemasukan mereka. Jadi kalau tidak masuk Liga Champions, tidak masalah secara bisnis. Tapi kalau secara image, secara prestasi, masa Manchester United, Inter tidak main di Liga Champions? Seperti itu kira-kira. Dari segi pemain-pemain besar juga tentu tidak mau kalau main di klub ranking sepuluh, sembilan, atau tujuh.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics