El Clasico Yang Suram Buat Barcelona

El Clasico edisi ke-232 menjadi suram buat Barcelona, dalam langkah awal menggapai hat-trick gelar La Liga Spanyol.

Meski berjalan dramatis, El Clasico edisi ke-232 pada akhirnya gagal hasilkan pemenang. Barcelona yang unggul 1-0 hingga menit ke-89, urung raih kemenangan karena Real Madrid sukses menyamakan kedudukan 1-1 di menit pamungkas.

Siapa yang diuntungkan dari laga ini tergambar jelas dari perbandingan mimik wajah penggawa kedua tim selepas laga. Pasukan Luis Enrique tertunduk lesu, sementara tim asuhan Zinedine Zidane merayakan hasil seri ini bak kemenangan.

"Kami bermain baik, terutama di babak pertama. Mereka lebih dominan di babak kedua dan unggul, tapi kami tak pernah menyerah dan gol seperti ini [Sergio Ramos pada menit akhir] di El Clasico terasa seperti sebuah kemenangan," seru gelandang Madrid, Luka Modric, seperti dilansir AS.

Satu reaksi yang mungkin sedikit berlebihan untuk tim sebesar Madrid, tapi bisa dimaklumi. Hasil ini membuat Los Blancos yang jadi penguasa klasemen sementara, tetap menjaga jurang enam poin dengan Blaugrana yang menguntit di pos kedua.

Meski masih punya Valencia dan Sevilla sebagai lawan berat yang harus dihadapi di sisa putaran pertama, tapi kans Madrid untuk jadi juara paruh musim sangatlah kuat. Pertanda buruk buat Barca yang mengincar gelar hat-trick La Liga Spanyol.

Menganalisis jalannya El Clasico yang berlangsung Minggu (4/12) dini hari WIB, Barca yang punya keunggulan bermain di Camp Nou jelas tak tampil sesuai ekspektasi. Utamanya di babak pertama, di mana mereka sejatinya cukup beruntung tak tertinggal.

Barca terlampau banyak memberi Madrid ruang lantaran tidak bermain dengan kerapatan yang tepat. Statistik membuktikan El Real mampu lepaskan empat tembakan tepat sasaran, berbanding sebiji milik Azulgrana.

Ceritanya bisa sangat berbeda bila blocking Gerard Pique terhadap sepakan Karim Benzema, tak sial menerpa tiang Barca. Atau wasit pemimpin laga, Carlos Clos Gomez, menilai lain terjangan Javier Mascherano pada Lucas Vazquez di kotak penalti tuan rumah.

Barca kemudian membaik di babak kedua, bukan ketika unggul terlebih dahulu melalui tandukan Luis Suarez di menit ke-53, tapi saat Enrique memasukkan Andres Iniesta yang baru pulih dari cedera.

Kehadiran sang kapten benar-benar menghidupkan lini tengah Barca yang mati hampir di sepanjang paruh pertama, sehingga tak cukup memberi pasukan bola pada trio MSN.

Selama setengah jam waktu bermainnya, Iniesta brilian lewat catatan dua umpan kunci, satu tembakan tepat sasaran, dan akurasi umpan mencapai 96,3 persen atau yang tertinggi di laga ini. Efeknya masif, karena Barca menambah tujuh tembakan di babak kedua, dari yang cuma empat pada paruh pertama.

Sayangnya lini pertahanan Madrid tampil nyaris sempurna. Selain itu penyakit ketajaman yang membuat Barca tak pernah menang di tiga laga domestik terakhir tampak belum sembuh. Terlihat jelas saat Messi, Suarez, dan Neymar membuang beberapa kans emas yang punya persentase gol di atas 90 persen.

Petaka pun hadir seiring lepasnya konsentrasi lini belakang Barca di menit-menit akhir pertandingan. Pelanggaran fatal dilakukan salah satu pemain terburuk partai itu, Mascherano, di lokasi favorit Madrid mencetak gol.

Dan benar saja, Madrid berhasil menyamakan kedudukan melalui tandukan Sergio Ramos, memaksimalkan umpan sepakan bebas Luka Modric. Ironisnya proses gol tersebut ternyata sudah sangat diantisipasi oleh Enrique.

"Soal bagaimana Ramos mencetak gol, saya sudah memperingatkan para pemain untuk tak melakukan pelanggaran di area itu. Saya bahkan sudah menegaskan untuk tidak melanggar lawan terutama ketika Madrid menyerang. Instruksi itu sudah sangat jelas dan semua instruksi saya juga selalu detail," tukas Enrique yang geram, seperti dikutip AS.

Kedudukan imbang 1-1 pun jadi hasil akhir laga dan El Clasico edisi ke-232 ini, tak bisa dibantah jadi tampak suram buat Barca.

Kembali pada potensi Madrid keluar sebagai juara paruh musim selepas rengkuh hasil positif di laga ini, statistik jadi menyudutkan Barca. Ya, sepanjang sejarah ketika sukses raih status juara paruh musim, Los Galaticos sangat sulit dihentikan untuk akhirnya jadi kampiun di akhir musim.

Seperti dipaparkan AS, Madrid sudah 34 kali jadi juara paruh musim La Liga dengan 23 di antaranya berhasil keluar sebagai kampiun. Selain itu dalam 20 musim terakhir hanya lima kali juara paruh musim gagal gondol gelar di akhir musim.

Perolehan 28 poin dari 14 jornada La Liga, juga menjadi pencapaian terburuk Barca sejak musim 2007/08 silam. Kala itu mereka gagal jadi juara, lantaran hanya finish di peringkat ketiga klasemen akhir.

Meski begitu, jangan pernah ragukan kemampuan Barca untuk membalikkan situasi. Sesuatu yang Los Cules lakukan dalam dua musim terakhir, dengan menjuarai La Liga kendati Madrid yang jadi juara paruh musim. Jangan lupakan pula bahwa masih ada 24 jornada yang masih harus dimainkan.

"Pada musim pertama di bawah kepelatihan Luis Enrique, kami juga mengalami situasi yang kurang lebih sama dan sukses memutar balik. Musim lalu juga begitu. Kami sudah bermain melawan tim-tim sulit sementara Madrid belum. Masih banyak waktu tersisa buat kami," tegas bek flamboyan Barca, Pique, pada Marca.