Espanyol Yang Tak Layak Diremehkan

Khalayak sepakbola Indonesia sebaiknya tak memandang Espanyol sebelah mata, dalam kunjungannya ke Tanah Air.

Dalam beberapa waktu terakhir, Espanyol tampak menaruh atensi yang besar pada Indonesia. Setelah berhubungan untuk kali pertama pada 1979, tim asal Catalunya tersebut mulai menjalinnya kembali pada awal 2016 lalu.

Secara mengejutkan Espanyol menerima Evan Dimas untuk berlatih di akademinya selama 100 hari. Meski akhirnya urung direkrut, mereka tetap melanjutkan hubungan yang sudah terjalin dengan mengadakan tur pramusim di Indonesia pada musim panas 2017 ini.

Membawa skuat utama dan tim B, Espanyol meladeni perlawanan Timnas Indonesia U-19 pada 14 Juli lalu dan pada 19 Juli nanti siap hadapi Pesija Jakarta. Tak hanya itu, dalam tur ini Los Blanquiblaus juga akan membawa dua bakat muda tanah air untuk ditempa di akademinya.

Walau diselimuti unsur bisnis yang kental, tentu ini jadi titik cerah bagi persepakbolaan Indonesia yang jalan di tempat. Bagaimana sebuah klub asal Eropa, mau membuka pintu begitu lebar untuk berkontribusi secara langsung memajukan sepakbola Tanah Air.

Sayangnya tak bisa dipungkiri, beberapa dari Anda mungkin memandang sebelah mata Espanyol. Benar bahwa Si Parkit adalah tim Eropa yang berasal dari kasta teratas La Liga Spanyol. Tapi tetap tak bisa dibandingkan dengan klub-klub sebesar Real Madrid dan Barcelona. Atau yang levelnya sedikit di bawah, layaknya Ateltico Madrid, Sevilla, maupun Valencia.

Sejarah berkata demikian. Espanyol merupakan tim yang tak pernah sekali pun memenangkan La Liga dan dikenal hanya gemar mengusung misi tak terdegradasi. Namun stigma ini sebaiknya mulai disingkirkan, ketika Anda tahu bahwa pemilik Espanyol sekarang adalah seorang konglomerat ambisius dari Tiongkok.

Pada Januari 2016 lalu Espanyol resmi diakuisisi oleh Chen Yangsheng lewat perusahannya yang bernama, Rastar Group. Dia membeli saham klub sebesar 45,1 persen, yang menjadikannya pemilik saham mayoritas.

Seperti dilansir Marca, ada dua target utama yang diusung Yengsheng dalam periode awal kepemipinannya di Espanyol. Pertama adalah menstabilkan kondisi finansial klub, baru kemudian membawa klub ke kancah Eropa sehingga mendapat perhatian internasional.

Langkah konkret dilakukannya. Mulai dari merombak manajemen klub, meningkatkan fasilitas infrastruktur latihan, rebranding Stadion Cornellà-El Prat menjadi RCDE Stadium, menyebar jaring bisnis ke Asia sebagai pangsa pasar potensial, hingga tentu saja meningkatkan kualitas teknis klub di atas lapangan.

Hasil awalnya mulai terlihat pada kampanye 2016/17 lalu, yang jadi musim penuh perdana Yengsheng memimpin. Segalanya berlangsung begitu positif.

Seperti dilansir AS, Espanyol menjadi salah satu klub dengan kondisi finansial paling baik di La Liga musim lalu. Selain itu RCDE Stadium sukses mencatat rerata jumlah penonton terbanyaknya dalam empat musim terakhir.

Di level teknis, kondisi finansial yang baik membuat Espanyol sanggup bergerak nyaman di pasar bursa. Mendatangkan pemain-pemain berkelas layaknya Diego Lopez, Leo Baptistao, Pablo Piatti, Jose Antonio Reyes, Martin Demichelis, hingga pelatih berpengalaman sekelas Quique Sanchez Flores, Los Periquitos berhasil finish di peringkat delapan klasemen akhir. 

Prestasi tersebut jadi pencapaian tertinggi Espanyol di La Liga dalam enam musim terakhir. Tak heran bila kemudian manajemen yang dikomandoi Yengsheng menargetkan lolos ke kompetisi Eropa pada kampanya 2017/18 nanti.

Melalui perencanaan bisnis yang semakin matang, situasi finansial yang menanjak, Espanyol kemudian memperkuat tim melalui strategi transfer yang brilian. Titik terang di musim panas ini sudah tampak dari perekrutan Esteban Granero secara gratis dari Real Sociedad dan youngster Real Madrid, Mario Hermoso.

Melihat segala situasi yang terpapar, sebaiknya kita tak memandang sebelah mata kunjungan Espanyol ke Indonesia. Karena tim yang akan menghdapi Persija di Stadion Patriot Bekasi ini, punya segala potensi untuk mendobrak papan atas La Liga dalam waktu dekat.