Evan Dimas & Pemuda Asia Tenggara Yang Pernah Trial Di Eropa

Sebelum Evan Dimas, terdapat sejumlah nama pemain muda asal Asia Tenggara yang pernah menjalani trial di Eropa.

Topik mengenai Evan Dimas belakangan kian ramai diperbincangkan masyarakat sepakbola Indonesia. Itu tak lain karena kabar tela berangkatnya pemain muda bertalenta asal Surabaya itu ke Spanyol untuk menjalani trial bersama salah satu klub kasta kedua, yakni UE Llagostera.

Secara umum, definisi trial adalah proses di mana seorang pemain mendapat kesempatan untuk unjuk kemampuan terbaiknya di suatu klub dengan harapan untuk mendapatkan kontrak permanen. Bagaimana kesempatan trial didapat? Biasanya pemain yang menerima undangan tes bakat tersebut telah dipantau secara khusus dalam kurun waktu tertentu, namun ada juga yang melalui hubungan khusus misalnya melalui kerjasama antar Federasi Sepakbola, klub, agen pemain maupun lembaga khusus.

Program trial memang telah jamak digunakan klub-klub profesional sejak lama demi menjaring bakat-bakat baru. Hanya saja, di Eropa, proses trial sudah menjadi kesempatan yang sangat langka, ini karena mayoritas klub-klub di sana sudah meninggalkan metode tersebut karena beralih menggunakan jasa scout (pemandu bakat) yang turun langsung memantau, mengevaluasi perkembangan target sebelum memberikan saran kepada klub terkait pemberian kontrak profesional.

Selain Evan, sebelumnya terdapat sejulah pemain muda asal Asia Tenggrara yang pernah mendapat kesempatan untuk melakoni trial di Eropa. Tak semua berujung sukses, namun ada juga beberapa nama yang mampu meyakinkan pihak pengundang untuk direkrut secara permanen. Goal Indonesia merangkum deretan nama-nama tersebut.
 

Worachit Kanitsribampen

Kesempatan berharga pernah didapat pemain muda asal Thailand ini dua tahun lalu dan tak tanggung-tanggung undangan trial yang didapat datang dari klub Inggris, Leicester City yang kala itu masih berkiprah di kasta kedua.

Banyak yang meyakini bahwa bergabungnya Worachit, atau yang biasa dipanggil Gym ke program trial Leicester merupakan salah satu keuntungan dari keberadaan koneksi sesama Thailand di The Foxes, di mana klub tersebut dimiliki oleh seorang pengusaha asal negeri gajah putih bernama Vichai Srivaddhanaprabha.

Dua pekan lamanya Gym berada di Leicester untuk memamerkan bakatnya, namun tak cukup mampu untuk meyakinkan staf kepelatihan klub yang saat itu dipimpin Nigel Pearson untuk merekrut pemain yang kini merumput bersama Chonburi di pentas Thai Premier League.
 

Nguyen Do

Nguyen Do menjadi sensasi di dunia sepakbola Vietnam pada tahun 2012 lalu ketika bakatnya mengundang ketertarikan salah satu klub papan atas Prancis, Saint-Etienne yang memberikannya undangan untuk mengikuti proses trial selama dua pekan.

Minat kontestan Ligue 1 tersebut tak lepas dari performa gemilang pemuda yang mengawali kariernya bersama klub lokal TP Ho Chi Minh saat memperkuat tim nasional usia muda Vietnam dalam ajang Piala AFF U-16 edisi 2010 yang diadakan di Indonesia, saat itu Vietnam menjadi juara dengan menyisihkan tuan rumah, Timor Leste dan Tiongkok.

Sayangnya, Nguyen Do, yang kini berusia 21 tahun, tak berhasil lulus dalam sesi trial di Prancis tersebut dan selepas momen itu sosoknya semakin meredup dan bahkan kini harus 'terdampar' di divisi dua kompetisi nasional Vietnam - setara dengan kasta ketiga - bersama dengan klub kecil Ben Tre.

Nazmi Faiz

Nazmi sempat digadang-gadang sebagai salah satu talenta paling berbakat yang dimiliki Malaysia beberapa tahun lalu. Itu tak lepas dari pengalaman matangnya di turnamen internasional kendati masih berusia muda. Namanya tenar ketika membawa Malaysia juara SEA Games 2011.

Dengan reputasi mentereng tersebut, pada Mei 2012 lalu, klub asal Portugal, SC Beira Mar menawarinya ikatan kontrak berdurasi tiga musim setelah memukau manajemen klub selama masa percobaan. Di Beira Mar, gelandang yang kini berusia 20 tahun tersebut lebih banyak tampil bersama skuat U-19.

Hanya saja, petualangan Nazmi di Eropa hanya berlangsung selama enam bulan sebelum kemudian memutuskan masa baktinya bersama Beira Mar yang sejatinya berakhir pada musim 2014/15 dengan kembali merumput di Malaysia Super League bersama PKNS FC dan kini berkostum Selangor FA.

Irfan & Iksan Fandi

Sepasang putra legenda sepakbola Singapura, Fandi Ahmad tersebut sempat menarik perhatian dari klub Spanyol, Hercules yang menawari mereka untuk bergabung dengan akademi tim selepas menjalani serangkaian trial di Eropa dua tahun lalu.

Dalam penjajakannya di Eropa, Irfan yang saat itu berusia 15 tahun dan Iksan yang dua tahun lebih muda sempat membuat AC Milan, Valencia, Arsenal, Chelsea dan Reading terkesan, namun hanya Hercules yang memberikan tawaran bergabung.

Akan tetapi, mimpi mereka untuk berkiprah di benua biru harus pupus setelah proses kepindahan mereka menuju Spanyol teganjal masalah perizinan visa. Hal itu lantas membuat Irfan dan Iksan kembali ke Singapura dan bergabung dengan Court Young Lions di S-League.
 

Arthur Irawan

Arthur menjadi satu-satunya pemain muda asal Indonesia yang kini meruput di Eropa. Perjuangan pemuda asal Surabaya tersebut untuk ke sana melalui proses yang berliku. Saat masih belia, Arthur mulai menggeluti dunia sepakbola di Inggris dengan bermain untuk klub amatir Lytham Town.

Bakatnya selama berkiprah di Inggris terpantau oleh pemandu bakat Espanyol pada 2011 yang kemudian memberikan kesempatan baginya untuk mengikuti sesi trial selama dua pekan. Tawaran diterima dan sukses mendapatkan kontrak permanen dari klub Spanyol tersebut.

Usai dari Espanyol, di mana lebih banyak berkutat bersama tim B, Arthur sempat meneruskan perjalanannya bersama skuat satelit Malaga sebelum resmi hijrah ke Belgia untuk memperkuat Waasland-Beveren. Di kasta tertinggi Belgia itu, pemain 22 tahun itu mencatatkan debutnya di akhir musim 2014/15.
 

Adam Swandi

Adam merupakan salah satu talentan paling menjanjikan yang dimiliki insan sepakbola Singapura. Potensinya sudah tampak saat masih berusia 15 tahun. Ia merupakan kapten tim program pengembangan usia dini Federasi Sepakbola Singapura (NFA) yang rutin menggelar kompetisi usia muda dengan mengundang klub-klub Eropa seperti Juventus, Porto dan Ajax Amsterdam.

Pada 2012 lalu, Adam bersama dengan empat rekannya sempat menjajal trial di Jepang selama lebih dari sepekan sebelum setahun kemudian melakoni program serupa di Eropa, di mana ia berpetualang selama hampir dua bulan dengan dukungan FAS unjuk bakat di sejumlah klub. Tawaran bergabung datang dari klub Prancis, FC Metz.

Usai menghabiskan dua tahun bersama pasukan muda Metz, Adam yang kini berusia 19 tahun telah kembali ke Singapura dan tahun ini memutuskan untuk berkiprah di S-League dengan memperkuat Court Young Lions.