Evolusi Dejan Lovren & Petaka Martin Skrtel

Musim ini, Lovren mengalami evolusi performa yang memuaskan, tetapi Klopp melakukan kesalahan saat menggantinya dengan Skrtel, berujung pada kekalahan di St. Mary.


GOALMem-bully Dejan Lovren dan Simon Mignolet merupakan santap pagi para kritikus Liverpool di musim 2014/15. Betapa tidak, dua pemain tersebut kerap kali melakukan kesalahan fatal yang membuahkan gol ke gawangnya sendiri. Hampir di setiap pertandingan ketika Liverpool kalah, kedua pemain itu ikut ambil bagian.

Oke, keduanya masih menjadi target bully hingga pertengahan musim, terutama Mignolet yang membuat Liverpool kehilangan banyak poin. Meski begitu, perlu diakui Lovren dan Mignolet mengalami evolusi performa. Ada peningkatan, walau prosesnya terbilang lama, dari laga ke laga hingga Liverpool tak terkalahkan dalam empat laga terakhir (sebelum Southampton).

Duet Mamadou Sakho – Dejan Lovren mulai mendapatkan tempat di hati para fans. Kedua sosok itu berperan besar dalam kemenangan 2-0 atas Manchester United di Anfield dan hasil imbang 1-1 di Old Trafford. Ketika mereka diduetkan kembali dalam laga kontra Southampton, tentu saja Liverpool begitu kokoh di belakang dan tidak kebobolan selama 45 menit pertama.

Namun semua berubah ketika Martin Skrtel masuk lapangan, menggantikan Lovren. Keunggulan dua gol yang diciptakan oleh Philippe Coutinho dan Daniel Sturridge menghilang laiknya asap. Ia mengawali comeback-nya dengan melanggar Graziano Pelle di kotak penalti. Lalu, sang bek Slovakia meninggalkan area pertahanan, melakukan pressing gegabah, sehingga gol Graziano Pelle dan Sadio Mane tercipta.

Liverpool menyianyiakan keunggulan dua gol dan kalah 3-2 di St. Mary’s Stadium, Minggu (20/3).

Evolusi Dejan Lovren

Ketika Brendan Rodgers mendatangkan Lovren dari Southampton, banyak orang berharap ia bisa menggantikan peran Daniel Agger. Statistik permainannya bersama The Saints begitu gemilang, sehingga banderol 25 juta tidak membuat The Reds mundur dari perburuan. Tempat utama pun langsung diberikan oleh Rodgers.

Sayang, bek Kroasia itu gagal menjawab ekspektasi. Jangankan menggantikan Agger, performanya di lini belakang bahkan jauh di bawah standar. Lovren kerap kehilangan konsentrasi, kalah duel udara, dan kehilangan bola di momen-momen krusial. Delapan error pun ia lakukan di Liga Primer Inggris dan tak bisa dimungkiri kalau Liverpool kehilangan banyak poin karenanya.

Di awal musim 2015/16, Lovren menunjukkan sedikit perkembangan dengan tidak kebobolan dalam tiga pertandingan beruntun. Namun itu tidak bertahan lama, ia langsung kebobolan enam gol dalam dua pertandingan selanjutnya sehingga Rodgers tak lagi percaya. Lovren absen dalam lima pertandingan dan baru kembali bermain ketika Jurgen Klopp menjadi manajer Liverpool.

Pelan tapi pasti, Klopp memberikan kepercayaan pada Lovren. Performa Lovren mengalami peningkatan bertahap. Tak cuma bertahan, Lovren juga sesekali menciptakan peluang untuk rekannya lewat umpan panjang. Musim lalu, ia hanya mencatatkan dua kreasi peluang, tapi musim ini, walau baru melakoni 19 laga EPL, ia sudah menciptakan sembilan.

Peningkatan Lovren nyaris melingkupi semua aspek. Selain meminimalisir blunder dan menambah kreasi, Lovren turut mengalami peningkatan dalam akurasi tekel, intersepsi, dan persentase kemenangan duel. Peningkatan individu tersebut juga diimbangi oleh semakin padunya duet Sakho-Lovren yang mampu bertransisi dan berkoordinasi dengan tepat.

Lovren memang jadi bahan bully di musim pertamanya bersama Liverpool, tetapi bersama Sakho, ia mulai mendapatkan tempat di hati Klopp dan para fans. Sang bek Kroasia hanya butuh sedikit konsistensi untuk mematenkan tempatnya. Bahkan kalau performanya terus menanjak, bukan tidak mungkin Lovren menjadi bek utama Liverpool musim depan, walau Joel Matip baru datang dari Schalke.

Petaka Martin Skrtel

Tak heran, ketika Klopp menggantikan Lovren dengan Skrtel di pertengahan laga, para fans mengernyitkan dahi. Belum genap lima menit bermain, Skrtel langsung melanggar Pelle di kotak penalti. Wasit menunjuk titik putih dan Mane jadi eksekutor. Di momen ini, Skrtel diselamatkan oleh Mignolet yang sedang on-fire dan menggagalkan eksekusi.

Lima belas menit berselang, Liverpool dibobol oleh Mane. Skrtel memang tidak terlibat secara langsung atau bersalah atasnya. Gol ini merupakan buah pahit dari kesalahan Jon Flanagan yang gagal mengontrol umpan pendek Emre Can. Bola direbut oleh Pelle, lalu digulirkan ke jalur lari Mane. Winger Senegal itu dengan tenang menaklukkan gawang Mignolet.

Situasi tampak terkendali sebelumnya, namun gol Southampton itu membuat mental tuan rumah meledak. Mereka semakin rajin berlari, melakukan pressing, sementara Liverpool kehilangan bola dengan mudah. The Reds berhasil menciptakan peluang emas, tetapi Christian Benteke yang berhadapan dengan Fraser Forster gagal membukukan gol.

Alhasil, kesalahan Liverpool itu harus dibayar mahal jelang bubaran. Liverpool kebobolan lagi di menit 83 dan kali ini Pelle jadi aktornya. Penyerang Italia itu menerima bola dari Shane Long, lalu melepaskan tembakan keras yang tak mampu dihalau Mignolet. Dalam momen terjadinya gol, Skrtel keluar dari area pertahanan dan maju terlalu jauh dari kotak penalti, meninggalkan ruang lebar bagi Pelle untuk menembak.

Terakhir, di menit 86, lagi-lagi Skrtel melakukan kesalahan fatal. Sang bek tengah gagal membaca arah jatuhnya bola sehingga tandukannya meleset dan bola mampu direbut oleh James Ward-Prowse. Bola selanjutnya mengalir ke hadapan Pelle yang langsung memberikannya pada Mane. Lagi-lagi, winger Senegal itu menaklukkan Mignolet.

Kesalahan besar dilakukan oleh Klopp ketika ia mengganti Lovren dengan Skrtel. Selama 45 menit Skrtel bermain, Liverpool sudah kebobolan tiga gol. Padahal, selama 795 menit pertandingan ketika Skrtel tidak bermain, Liverpool juga kebobolan tiga gol. Petaka Skrtel itu tercermin dalam statistik menariknya selama pertandingan. Ternyata, Skrtel sama sekali tidak melakukan tekel sukses, blok, apalagi intersepsi.

Setengah pertandingan sudah cukup untuk memberikan gambaran siapa yang bisa diandalkan dan siapa yang tidak. Lovren mengalami evolusi performa dan setidaknya duet bersama Sakho adalah yang terbaik di Liverpool saat ini, bukan Skrtel. Jurgen Klopp harus belajar dari kesalahannya melawan Southampton untuk menatap musim depan.

Ya, musim depan, karena empat besar Liga Primer sudah tak lagi realistis – apalagi karena Manchester United menang atas Manchester City.