Faedah Naturalisasi Pemain Untuk Timnas Indonesia

Kini PSSI berencana melakukan program naturalisasi pemain setelah beberapa tahun sempat vakum.

Naturalisasi pemain kembali menggeliat di sepakbola Tanah Air. Setelah sebelumnya program yang dilakukan PSSI tersebut seperti mati suri, karena mereka tidak lagi melakukan aturalisasi pemain dalam beberapa tahun belakangan ini.

Sebenarnya, naturalisasi bukanlah sesuatu yang baru untuk Indonesia. Awal mula naturalisasi sudah terjadi ketika medio 1950-an. Di mana ada lima orang Belanda yang memperoleh status sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), yakni Arnold van der Vin, Van der Berg, Boelard van Tuyl, Pesch, dan Piteersen.

Akan tetapi dari lima pesepakbola yang ada hanya Van der Vin yang berhasil menembus skuat timnas Indonesia. Mantan penjaga gawang Persija Jakarta tersebut pertama kali membela tim Merah Putih terjadi pada 1952 saat timnas Indonesia melawan tim asal Hong Kong, Nan Hua.

Setelah itu, tidak ada lagi pemain naturalisasi yang berada di timnas Indonesia. Meskipun banyak pesepakbola yang mempunyai darah keturunan Indonesia yang tersebar di beberapa negara dan mempunyai kemampuan mumpuni dalam mengolah si kulit bundar.

Lama tidak terdengar akhirnya naturalisasi kembali hinggap di sepakbola Indonesia. Pada 2006, Nurdin Halid yang menjabat sebagai ketua umum PSSI, mempunyai rencana menaturalisasi beberapa pemain yang berasal dari Brasil.

Namun, keinginan Nurdin ditentang oleh banyak pihak, karena mereka merasa pemain asli Indonesia mempunyai kualitas yang tidak kalah dengan legiun asal Brasil tersebut. Akibat derasnya kecaman terhadapnya, rencana tersebut gagal terealisasi.

Baru empat tahun setelahnya, Nurdin mewujudkan keinginannya yang sempat tertunda. Cristian Gonzales jadi pesepakbola era modern pertama yang dinaturalisasi oleh induk sepakbola nasional itu. Pria berdarah Uruguay ini memperoleh status WNI pada 1 November 2010.

Keputusan PSSI menaturalisasi Gonzales adalah untuk memperkuat barisan depan skuat Merah Putih yang akan berlaga di Piala AFF 2010. Kehadiran pria yang mempunyai julukan El Loco tersebut menjadi buah bibir karena tampil memukau dalam ajang sepakbola terbesar di kawasan Asia Tenggara ini.

Sayangnya, Gonzales gagal membantu timnas Indonesia meraih trofi Piala AFF. Tim Garuda mesti mengubur mimpinya untuk menjadi juara pertama kalinya, setelah pada laga final yang berlangsung dua leg mereka takluk dengan agregat 4-2 dari Malaysia.

PSSI seperti ketagihan melakukan naturalisasi pemain. Setelah Gonzales, mereka kembali mengambil jalan cepat untuk membuat timnas Indonesia mempunyai pemain yang berkualitas bagus, sehingga bisa menorehkan prestasi di kancah internasional.

Victor Igbonefo, Raphael Maitimo, Sergio van Dijk, Greg Nwokolo, Diego Michiels, Stefano Lilipaly, dan Kim Jeffrey Kurniawan merupakan pemain-pemain yang selanjutnya jadi WNI. Keputusan PSSI menaturalisasi para pemain tersebut dirasa tepat karena karier sepakbola mereka tetaplah gemilang.

Namun, ada juga pemain naturalisasi yang seperti tertelan bumi setelah mendapatkan status WNI. Beberapa di antaranya adalah Tonnie Cussel, Jhon van Beukering, dan Ruben Wuarbanaran yang batang hidung tidak lagi kelihatan sama dalam dunia sepakbola.

Meski demikian tampaknya PSSI sama sekali tidak kapok untuk menaturalisasi pemain. Mereka percaya dengan kehadiran pemain naturalisasi membuat timnas Indonesia dapat menorehkan prestasi yang sejak beberapa tahun ini puasa gelar. 

Bak gayung bersambut, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mendukung penuh keinginan PSSI melakukan naturalisasi pemain. Bahkan mereka langsung berencana menerbitkan surat kepada seluruh dubes yang ada di seluruh Eropa dan Timur Tengah, agar membantu proses pemain dinaturalisasi.

Paling baru adalah Ezra Walian yang dalam waktu dekat ini bakal mendapatkan paspor Indonesia. Pemain berusia 19 tahun tersebut yang kini merumput bersama klub junior Ajax Amsterdam diproyeksikan dapat membela skuat Garuda U-22 pada SEA Games 2017 di Malaysia.

Ezra merupakan pesepakbola yang memiliki darah keturunan Indonesia dari sang ayah, Glen Walian, yang asli Manado, Sulawesi Utara. Namun, ia memilih warga negara Belanda karena mengikuti ibunya yang berasal dari negara tersebut.

Memang naturalisasi merupakan salah satu cara instan untuk mendatangkan gelar di dunia sepakbola. Sebut saja Singapura yang telah menerapkan program tersebut dan terbukti mereka dapat meraih tiga Piala AFF yakni 2004, 2007, dan 2012.

Kehadiran pemain-pemain naturalisasi di tim The Azkals membuat mereka dengan cepat menorehkan prestasi. Padahal, sebelumnya negara jajahan Inggris tersebut tidak bisa berbuat banyak di kancah internasional karena minimnya pemain berkualitas yang ada.  

Melihat situasi tersebut PSSI yang kini dipimpin oleh Edy Rahmayadi, perlu mempertimbangkan segala aspek sebelum melakukan naturalisasi pemain. Mulai dari usia, kemampuan individu itu sendiri hingga cara pemain tersebut beradaptasi dengan cara permainan di Indonesia. 

Semua ini dilakukan supaya PSSI tidak mubazir dalam menaturalisasi pemain. Mengingat, banyak talenta asli Indonesia yang memiliki kemampuan yang bagus tapi belum terekspos sama sekali karena mereka luasnya wilayah yang ada di negara ini.

Terlebih Edy menyatakan dalam dua tahun ke depan bila PSSI masih melakukan naturalisasi pemain, dirinya minta ditegur. Hal tersebut karena ia tidak ingin timnas Indonesia terpaku dengan pemain-pemain yang tak seratus persen merupakan warga asli Indonesia.

Jadi sudah pantas atau tidak timnas Indonesia melakukan naturalisasi pemain?

Topics