FAM Tolak Malaysia Mundur Dari AFF Suzuki Cup Karena Kasus Rohingya

FAM merasa pemerintah Malaysia mesti mencari cara lain untuk melakukan protes terhadap kekerasan di Rohingya.

Asosiasi Sepakbola Malaysia (FAM) menolak dengan adanya wacana yang menginginkan timnas Malaysia mundur dari AFF Suzuki Cup 2016 sebagai bentuk protes kekerasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar. Sebab, menurut sekjen FAM Datuk Hamidin Mohd Amin, langkah itu bukanlah hal baik untuk sepakbola.

Mencuatnya rencana boikot tersebut setelah Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Malaysia Khairy Jamaluddin, mengatakan bakal membujuk seluruh skuat Ong Kim Swee itu untuk kembali ke kampung halaman. Ini karena pemerintah Negeri Jiran menentang keras aksi keji yang dilakukan tentara Myanmar terhadap etnis Rohingya.

Sebab, saat ini tim Harimau Malaysia memang sedang berada di Myanmar karena negara tersebut merupakan tuan rumah AFF Cup Grup B. Selain bersama Myanmar, Amri Yahyah dan kawan-kawan menempati grup tersebut dengan Vietnam dan Kamboja.

Adanya pernyataan itu tentu mengagetkan. Pasalnya, kans Malaysia untuk melangkah ke babak semi-final turnamen sepakbola terbesar di kawasan Asia Tenggara ini masih terbuka lebar, mereka menduduki tempat ketiga dan hanya kalah selisih gol dari Myanmar yang berada di posisi kedua dengan raihan poin yang sama yakni tiga angka dari dua kali bertanding.

"Saya tidak setuju dengan ide menarik diri ini. Pemerintah harus memikirkan cara lain untuk memprotes dan tidak membuat sepakbola sebagai kambing hitam," kata Hamidin kepada FourFourTwo.

"Pada akhirnya FAM mendapat panggilan akan menarik diri atau tidak. Jika pemerintah memutuskan demikian, komite eksekutif kami harus membuat keputusan apakah akan mematuhi atau tidak," tambah pria yang juga menjabat sebagai manajer Malaysia tersebut.

Myanmar memang saat ini sedang menjadi sorotan dunia, karena adanya berbagai aksi kekerasan militer terhadap etnis Rohingya di negara bagian Rakhine, yang telah berlangsung sejak awal Oktober. Puluhan korban meninggal dunia sudah berjatuhan dan ribuan orang lainnya terpaksa melarikan diri dari negara tersebut agar tetap hidup.

Topics