Fenomena Klub-Klub Kaya Asia Tenggara

Sepakbola Asia Tenggara mulai bergeliat dengan serius berbenah ke arah yang lebih profesional yang ditandai dengan munculnya klub-klub kaya.


GOALOLEH   ERIC NOVEANTO  


Harus diakui jika kualitas sepakbola Asia Tenggara merupakan salah satu yang terlemah baik level tim nasional maupun klub jika mengambil tolok ukur benua Asia keseluruhan sebagai perbangingan. Sulitnya bersaing di level tertinggi menjadi bukti.

Selepas Myanmar yang menjadi runner-up Piala Asia 1968, yang merupakan prestasi tertinggi wakil Asia Tenggara, belum ada lagi tim nasional asal regional ini yang mampu berbicara banyak. Begitu juga di level klub, masih kesulitan untuk membukukan prestasi terbaik.

Hanya saja jurang kekuatan yang ada kini perlahan mulai terkikis. Sepakbola Asia Tenggara mulai berbenah dan perubahan dilakukan sejak level klub yang notabene merupakan fundamental penting sebagai cikal bakal untuk memiliki tim nasional yang kuat.

Insan-insan lokal mulai sadar bahwa sepakbola bukan lagi hanya sekadar olahraga, melainkan punya potensi yang bisa lebih dikembangkan dari sisi bisnis, politik maupun sejumlah kepentingan tertentu lainnya. Dan apabila semua itu dikelola dengan cara yang tepat maka hasilnya pun bisa menghadirkan dampak positif.

Gebrakan dimulai di Thailand dengan munculnya Buriram United sebagai klub superpower. Adalah pengusaha sekaligus politisi lokal, Newin Chidchob yang berani mengawali langkah untuk melakukan investasi dalam kancah sepakbola domestik dari titik yang paling mendasar.

Mengambil alih kepemilikan PEA FC menjadi langkah awal yang dipetmpuh Newin pada 2009 lalu, memindahkan klub tersebut dari Ayutthaya ke Buriram sebelum kemudian menempuh berbagai proses hingga mengubah nama klub sepenuhnya menjadi Buriram United tiga tahun berselang. Sepakbola Eropa menjadi kiblat, Newin pun menyulap Buriram menjadi salah satu klub terkuat di Thailand dengan deretan materi pemain baik lokal maupun asing yang mentereng.

Tak hanya itu, peningkatan kualitas klub turut diperhatikan demi mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju Asia lainnya dalam standarisasi AFC. Proyek jangka panjang dicanangkan, salah satunya menjadi klub yang pertama memiliki stadion sendiri kala Thunder Castle Stadium diresmikan pada 2011 lalu. Stadion berkapasitas 32,600 penonton itu merupakan yang paling moderen di Thailand bahkan di Asia Tenggara dengan meniru konsep Liga Primer Inggris. Sisi akademi juga tak luput dari perbaikan, Buriram kini punya akademi grassroot menjanjikan.

Upaya investasi besar-besaran itu tentunya membuahkan hasil maksimal, Buriram kini menjadi klub yang mendominasi gelaran sepakbola Thailand. Total 15 gelar berhasil dicapai dalam kurun waktu enam tahun di bawah kepemimpinan Newin. Selain domestik, Buriram juga mampu berbicara banyak di pentas Asia, yang paling mengesankan ketika sukses menembus babak perempat-final Liga Champions Asia pada musim 2013. Kegemilangan Buriram tak hanya menjadi prestasi mereka semata, itu juga menjadi pelecut bagi klub-klub lain untuk berbenah hingga mampu mendongkrak kualitas Thai Premier League secara keseluruhan.

Bak virus yang menjalar, kisah sukses Buriram seakan menjadi inspirasi negara-negara tetangga. Di Myanmar, Yangon United menjadi klub percontohan dalam kompetisi profesional Myanmar National League. Klub yang dimiliki seorang konglomerat Burma Tay Za tersebut menjelma menjadi kekuatan utama kompetisi domestik sejak berdiri pada 2007 lalu dengan nama lama Air Bagan FC. Klub yang berbasis di Yangon itu juga memiliki stadion, kompleks latihan sendiri serta tentunya berada dalam jalur yang benar dari sisi komersial dan popularitas tim.

Fenomena serupa juga muncul di Kamboja, meski sempat mengalami sejumlah krisis di awal pembentukan tim, kini Phnom Penh Crown menjadi raja kompetisi domestik. Klub yang berbasis di ibukota negara itu bisa dikatakan merupakan tim yang paling profesional dalam kompetisi C-League. Pembentukan akademi yang berkualitas menjadi titik fokus pengembangan klub yang juga memiliki stadion sendiri dengan kapasitas 6,500 kursi. Kini jejak mereka mulai diikuti sejumlah klub rival seperti Boeung Ket Angkor dan Cambodian Tiger - klub yang dikelola investor asal Jepang.

Laos pun tak ketinggalan, mereka punya dua klub pelopor profesionalitas kompetisi yakni Lao Toyota FC dan Lanexang United yang keduanya terus mengembangkan kualitas tim demi menyejajarkan reputasi regional. Meski sempat dilanda skandal pengaturan skor, perlagan gairah sepakbola Vietnam mulai bangkit yang ditandai dengan kembalinya eksistensi Becamex Binh Duong sebagai klub dengan status finansial terkuat, menguasai pentas V-League beberapa musim terakhir dan kini menjadi satu dari dua wakil Asia Tenggara - bersama dengan Buriram - yang tampil di Liga Champions Asia.

Yang paling fenomenal tentunya kemunculan Johor Darul Ta'zim dari Malaysia. Klub yang kini di bawah kendali putra mahkota Johor, Tunku Ismail Sultan Ibrahim tersebut perlahan mulai mengubah citra mereka menjadi garda terdepan kebangkitan sepakbola profesional negeri jiran. Sejumlah proyek ambisius mereka canangkan termasuk bakal pembentukan akdemi top dan rencana pembangunan kompleks stadion megah yang akan menjadi ciri khas klub di masa mendatang. Dari segi prestasi, JDT tak kalah mentereng, mereka sukses menyabet beberapa trofi dalam waktu tiga tahun termasuk yang paling prestisius ketika menjuarai Piala AFC tahun ini.

Dari sederet kilasan yang telah disebutkan dapat diambil kesimpulan jika klub-klub domestik bisa menjadi potensi bisnis yang menggiurkan asalkan dikelola secara benar dan di tangan orang yang tepat. Di era sepakbola modern sepakbola memang tak bisa begitu saja dilepaskan dari kepentingan-kepentingan tertentu, namun selama itu arahnya positif dan tetap menunjang perkembangan dan proses keberlangsungan klub itu sendiri maka tentu saja hal-hal tersebut dapat diterima.

Sayangnya, sejauh ini virus 'Inspirasi Buriram' belum menjangkiti sepakbola nasional, hingga sejauh ini masih jarang ditemukan figur-figur yang total dalam mengambil bagian untuk mengembangkan potensi yang ada....