Final Piala Jenderal Sudirman: Menanti Akhir Episode Ketiga Nilmaizar Vs Jafri Sastra

Bertemunya dua pelatih itu untuk ketiga kalinya di turnamen ini, mengingatkan pada trilogi duel tinju dunia Muhammad Ali vs Joe Frazier.

Semen Padang FC dan Mitra Kukar akhirnya bertemu di final Piala Jenderal Sudirman (PJS). Uniknya, laga puncak itu adalah pertemuan ketiga bagi kedua tim di turnamen ini. Kalau dikerucutkan lagi, inilah episode ketiga duel dua pelatih, Nilmaizar di kubu Semen Padang dan Jafri Sastra di pihak Mitra Kukar. 

Bertemunya dua pelatih untuk kali ketiga, yang kebetulan sama-sama berasal dari Sumatera Barat itu, memang hanyalah bumbu-bumbu pelengkap dan pemanis duel di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 24 Januari nanti. Walau begitu, banyak yang menanti duel dua pelatih satu generasi ini.

Bentrok kedua pelatih itu mengingatkan pada trilogi duel tinju masa lalu, Muhammad Ali vs Joe Frazier, menarik dicermati kemungkinan hasil akhir final nanti. Episode pertama Ali melawan Frazier, 8 Maret 1971, di Madison Square Garden New York, dimenangkan angka mutlak oleh Joe. 

Kemudian pertandingan ulang, 28 Januari 1974, di tempat yang sama, giliran Ali yang mengalahkan Smoking Joe, juga dengan kemenangan angka mutlak. Dan puncaknya, dalam laga ketiga bertajuk Thrilla in Manila, 2 Oktober 1975, di Quezon City Manila, Filipina, Ali menang dengan TKO pada ronde ke-15. Dengan demikian, Ali memenangi trilogi yang bertajuk Fight Of Century itu.  

Siapa yang akan menjadi Ali di duel Nil vs Jafri? Pada laga penyisihan grup C di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar, 23 November 2015, Mitra Kukar menang 5-4 melalui adu penalti, setelah bermain imbang 0-0. 

Pembalasan setimpal diberikan Nilmaizar ketika kedua tim bertemu lagi di grup D babak delapan besar, 15 Desember 2015, di Stadion Manahan Solo. Semen Padang mengungguli Mitra Kukar 2-1 melalui gol Vendry Mofu dan Irsyad Maulana. Mitra Kukar hanya bisa memperkecil kedudukan lewat gol bunuh diri Mahamadou Alhadji di pengujung laga. 

Dengan skor sementara 1-1 antara kedua pelatih, maka laga final di SUGBK akan menjadi penentuan trilogi dua pelatih ini. Sulit untuk menebak atau memprediksi siapa yang akan menang kali ini.

Yang pasti, publik sepakbola Indonesia akan menyaksikan dua tim terbaik yang layak berlaga di final, dengan dua pelatih yang berasal dari hulu yang sama, yakni sepakbola Sumbar. Dua pelatih yang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, punya karakter dan gaya masing-masing. 

Nil yang eksplosif  dan enerjik saat memberi komando di pinggir lapangan, akan beradu strategi dengan Jafri yang lebih dingin dan santai. Nil yang fashionable akan berhadapan dengan Jafri yang lebih bersahaja.  

Jika dilihat statistik kedua tim selama turnamen, kedua tim sampai babak semi-final menunjukkan produktivitas gol yang sama, yaitu 12 gol. Namun untuk urusan kebobolan Semen Padang lebih baik, hanya delapan gol berbanding sembilan gol Mitra Kukar. 

Dari sembilan laga yang dilakoni, kedua tim sama-sama mengantongi empat kemenangan di waktu normal. Namun untuk kekalahan di waktu normal, lagi-lagi Semen Padang lebih baik dengan hanya sekali menderita kalah saat leg pertama semi-final melawan Pusamania Borneo FC. Sedangkan Mitra Kukar mengalami tiga kekalahan di waktu normal, masing-masing sekali di babak penyisihan, delapan besar, dan semi-final. 

Sedangkan untuk urusan adu penalti, Mitra Kukar lebih jago. Dari tiga laga yang harus diakhiri adu penalti, tim Naga Mekes memenangi dua kali. Sementara Semen Padang dari empat kali tos-tosan, hanya sekali menang. Untungnya kemenangan itu datang di saat tepat, yaitu leg kedua semi-final, yang sekaligus membawa tim Kabau Sirah ke final. 

Dengan statistik tim yang relatif cukup berimbang itu, laga final nanti dipastikan akan berjalan seru dan menarik. Racikan taktik dan strategi kedua pelatih bakal sangat menentukan. Pun kemampuan keduanya menyuntikkan motivasi dan semangat juang pada pemain masing-masing juga akan sangat berperan. 

Walau begitu, kedua pelatih ini dalam setiap kesempatan selalu mengatakan, secara personal hubungan mereka tak ada masalah, dan setiap pertemuan mereka tak ada sebuah persaingan. Tidak ada juga pembuktian untuk menentukan yang terbaik.

"Hanya publik terkadang yang punya pemikiran seperti itu, tapi itu wajar. Kami hanya pelatih yang mencoba bersikap profesional dan menunjukkan tanggung jawab pada tim masing-masing, tak lebih dari itu," ucap Nil. 

Senada, Jafri menyebut tak ada yang harus dibuktikannya, walau perjalanan kariernya ada keterkaitan dengan Semen Padang. Jafri menukangi Semen Padang dua musim pada periode 2013-2014. 

Dia dipecat manajemen Semen Padang, saat pramusim 2015 ketika gagal membawa Semen Padang berprestasi di dua turnamen awal tahun 2015, yaitu Piala Wali Kota Padang dan SCM Cup. Alasan manajemen waktu itu memecat Jafri adalah untuk memberi warna baru pada tim. Kebetulan yang masuk menggantikannya adalah Nil. 

"Tidak ada yang perlu saya buktikan pada Semen Padang, apa yang saya alami di Semen Padang adalah hal yang biasa terjadi di dunia sepakbola. Kini tugas saya adalah fokus bekerja untuk Mitra Kukar," ujar Jafri. 

Terlepas itu semua,  kini kedua pelatih sudah menegaskan tekad masing-masing untuk membawa timnya juara turnamen PJS ini. "Kepalang basah, sudah di final tentunya kita ingin juara," tegas Nil.

Ibarat pepatah Minang, Nil menyebut laga final sebagai "Si bungsu nan indak baradiak lai" (Si Bungsu yang tak beradik lagi). Artinya, laga pemungkas yang harus dimenangkan, segala daya upaya akan dikerahkan untuk memenanginya.

Jafri pun begitu, kerja kerasnya selama turnamen juga sudah berada di pengujung, dan dia pun ingin mengakhiri dengan hasil yang manis dan sempurna. 

"Semua tim pasti ingin juara, kami juga ingin. Ketika kami sudah berada di final, sudah seharusnya kami mulai berpikir bagaimana untuk jadi juara," kata Jafri.(gk-33)