FOKUS: Ada Apa Dengan Borussia Dortmund?

Gagah perkasa di Eropa, tapi terjun bebas di Bundesliga. Apa yang sebenarnya terjadi di tubuh sang raksasa Jerman di musim ini?

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
Ada pemandangan unik di Signal Iduna Park, Sabtu (25/10) lalu. Menjamu Hannover di Spieltag 9 Bundesliga Jerman, Borussia Dortmund tidak menggunakan jersey bercorak garis diagonal hitam yang biasa mereka gunakan di kompetisi domestik. Marco Reus dan kawan-kawan ternyata menggantinya dengan jersey atasan kuning polos yang sebenarnya diperuntukkan untuk partai Liga Champions.
Mungkin maksudnya adalah, dengan melakukan swapping jersey ini, Dortmund diharapkan bisa mengubah peruntungan mereka di Bundesliga seperti di Liga Champions. Maklum, Dortmund begitu trengginas di Eropa. Dalam tiga matchday perdana di Liga Champions musim ini, BVB berturut-turut mampu menyikat Arsenal (2-0), Anderlecht (3-0), dan Galatasaray (4-0). Sembilan poin, sembilan gol, clean sheet, dan menjadi penguasa mutlak Grup D.

Sayang, untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Sekalipun mengenakan jersey Liga Champions, anomali Dortmund di kompetisi lokal tetap tersaji. Die Schwarzgelben seperti tidak tahu caranya mencetak gol kendati menciptakan banyak peluang kontra Hannover. Justru tendangan bebas akurat gelandang Hannover asal Jepang, Hiroshi Kiyotake, di menit 61 mampu menjadi gol semata wayang di laga tersebut.
Itulah kekalahan keenam Dortmund di Bundesliga musim ini atau yang keempat secara berturut-turut! Yang lebih mengejutkan, tak ada tim lain di Bundesliga yang mengalami kekalahan sebanyak itu. Ketika musim bahkan belum memasuki sepertiga jalan, Dortmund malah terpuruk di peringkat 15 dengan koleksi tujuh poin atau hanya terpaut tiga angka dari juru kunci klasemen. Alarm bahaya kini sedang meraung keras di Dortmund.
“Kami memiliki empat atau lima peluang bersih di laga ini, tetapi kami gagal memasukkan satu pun gol ke gawang,” sesal Jurgen Klopp selepas laga, mengetahui bahwa ini adalah start terburuk klub dalam 27 tahun terakhir. Mats Hummels, bek yang musim ini berperan sebagai kapten tim juga tak habis pikir dengan semua episode negatif ini. ”Sungguh sulit untuk mencari penjelasan rasional dari semua ini,” katanya.
Lantas, apa penyebab Dortmund yang dalam empat tahun belakangan mampu menggebrak sepakbola dunia lewat ciri khas permainan Gegenpressing (menekan lawan sekuat mungkin) namun kini justru lemas tak berdaya? Sekilas, hampir tidak ada sisa-sisa kejayaan Dortmund sebagai sang juara Bundesliga 2011 dan 2012, serta finalis Liga Champions 2013.

Poin pertama yang patut disorot adalah perubahan permainan Dortmund yang lebih fokus pada penguasaan bola di Bundesliga musim ini. Klopp sendiri mengakui perubahan ini. “Dibandingkan dengan permainan kami biasanya, kali ini kami menghabiskan lebih banyak waktu di area pertahanan,” ujar sang pelatih berusia 47 tahun ini pada September lalu.
Buktinya jelas. Ketika ditaklukkan Koln dan Hamburg, ball possession Dortmund menyentuh lebih dari 60 persen. Hal berbeda justru terlihat di partai-partai Liga Champions, seperti saat melawan Galatasaray dan Arsenal, di mana Dortmund lebih fokus “bermain normal” dengan pressing tinggi yang sudah menjadi ciri khas mereka. Dan penguasaan bola mereka di Eropa hanya berkisar 45 persen.
Tampak bahwa Dortmund masih terbiasa menggunakan sistem lama yang Klopp sendiri mengklaimnya sebagai musik heavy metal itu. Hingga saat ini, Klopp masih konsisten menggunakan formasi 4-2-3-1 yang menjadi kunci utama permainan mereka namun dengan pendekatan berbeda ketika bermain di Bundesliga. Memaksakan filosofi baru hanya akan membuat para pemain kelabakan dan hasilnya sudah terlihat di kompetisi domestik. Benarkah ini murni kesalahan taktik dari Klopp? Belum tentu.
Ketika kalah 2-1 di Rivierderby kontra Schalke pada akhir September lalu, Klopp berujar kecewa, “Kami kebobolan dua gol yang tidak ada hubungannya dengan taktik.” Tak hanya melawan Schalke, ketika melawan Hamburg dan Koln pun, pertahanan Dortmund seperti kurang sigap dalam mengantisipasi serangan lawan. Di situlah penyebab kedua muncul: keroposnya lini belakang Dortmund.

Neven Subotic dan Mats Hummels kerap mengalami cedera sehingga jalinan chemistry di antara keduanya sulit terbentuk lagi seperti sedia kala. Apalagi, Subotic baru saja kembali pascacedera lutut yang membuatnya absen selama setahun terakhir. Imbasnya, meski saat ini kedua bek sentral ini sudah pulih dan rutin bermain, koordinasi di lini belakang terlihat masih lemah.
Bek pelapis seperti Sokratis Papastathopoulos dan Matthias Ginter, yang berturut-turut direkrut pada musim panas 2013 dan 2014 juga belum terlalu konsisten ketika dibutuhkan tim. Adapun bek sayap Lukasz Piszczek dan Marcel Schmelzer juga kerap dibalut cedera sehingga memaksa pemain seperti Kevin Grosskreutz, yang berposisi asli sebagai winger , kini berubah peran menjadi full-back.
Banyaknya cedera tersebut menjadi persoalan ketiga, mengingat di musim ini banyak pemain Dortmund yang secara bergiliran masuk ke ruang perawatan. Saat ini, Jakub Blaszczykowski, Schmelzer, Erik Durm, Oliver Kirch, dan Nuri Sahin masih absen. Hanya Ilkay Gundogan yang kini sudah comeback setelah absen sejak Agustus 2013 akibat masalah pada punggungnya.
Namun, sambil tidak mengesampingkan badai cedera tersebut, masalah keempat menjadi lebih krusial, yakni kebijakan transfer klub. Belakangan, banyak pihak yang menuduh Bayern Munich melucuti kekuatan Dortmund sebagaimana raksasa Bavaria itu mencomot Mario Gotze dan Robert Lewandowski selama dua musim beruntun. Bahkan yang terkini, Marco Reus gencar dikabarkan bakal merapat ke Allianz Arena untuk menyusul dua koleganya itu.
Satu Per Satu Pergi | Lewandowski dan Gotze sudah hengkang. Reus segera menyusul?
Jikalau Dortmund memang tidak berdaya dalam menahan pemain kuncinya pergi, mereka harusnya bisa belajar dari penjualan Nuri Sahin dan Shinji Kagawa yang ditransfer ke Real Madrid dan Manchester United. Ketika itu, kepergian kedua gelandang itu seakan tak terasa karena sanggup ditutup klub dengan mendatangkan pengganti sepadan: Gundogan dan Reus. Kini, Sahin dan Kagawa sendiri sudah kembali ke pelukan BVB.
Akan tetapi, lubang besar masih kentara jika berbicara soal pengganti Gotze dan Lewandowski. Oleh Dortmund, Gotze dan Lewandowski masing-masing dikompensasi dengan merekrut dua pemain baru sekaligus. Pierre-Emerick Aubameyang dan Henrikh Mkhitaryan untuk Gotze, sementara Ciro Immobile dan Adrian Ramos untuk Lewy. Keempat pemain baru ini memang belum pantas disebut pembelian gagal, namun hingga saat ini mereka belum terbukti menjawab seluruh tantangan yang diberikan klub.
Aktivitas di luar lapangan, seperti perang urat syaraf antara CEO Dortmund Hans-Joachim Watzke dengan CEO Bayern Munich Karl-Heinz Rummenigge juga semakin memperburuk kondisi ini. Alangkah lebih baik jika Watzke mengurusi timnya yang tengah terpuruk ketimbang melancarkan serangan verbal kepada sang rival yang tiada juntrungnya.
Solusi cepat perlu ditemukan Klopp. Sebab, hanya Klopp-lah yang paling memahami masalah ini. Awas, jadwal padat nan berat sudah terhampar di depan mata. Setelah bertanding melawan St. Pauli di DFB-Pokal pada Selasa (28/10) besok, Dortmund akan bentrok dengan sang pemuncak Bundesliga Bayern Munich pada Sabtu (1/11) sebelum bertanding lagi tiga hari setelahnya di Liga Champions menjamu Galatasaray.

//
//
//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics