FOKUS: Ajang Pembuktian Roberto Mancini Di FC Internazionale

Roberto Mancini kembali melatih FC Internazionale, namun ia kehilangan dua faktor yang membantu ia mendominasi Italia beberapa tahun silam.

OLEH TEGAR PARAMARTHA Ikuti di twitter

Menyebut siapa pelatih terbaik yang pernah dimiliki FC Internazionale tentu akan menimbulkan perdebatan panjang yang bahkan mungkin tidak akan pernah usai. Mulai dari pelatih legendaris Helenio Herrera yang memimpin La Grande Inter pada tahun 1960-an, Jose Mourinho yang mengantarkan Inter meraih Treble Winners pada 2010 ataupun Roberto Mancini yang membawa La Beneamata mendominasi Italia pada 2004 hingga 2008.

Namun, yang tidak bisa dipungkiri adalah rekor Mancini sebagai pelatih Inter yang paling banyak membawa pulang trofi juara ke dalam lemari klub.

Seperti yang diketahui, Mancini menangani Inter untuk pertama kalinya pada musim 2004 hingga 2008 dengan mengoleksi tiga gelar juara Serie A Italia, dua Coppa Italia dan dua Piala Super Italia. Namun, pengangkatannya kembali ke kursi pelatih di Giuseppe Meazza menggantikan Walter Mazzarri baru-baru ini, menjadi ajang pembuktian bagi Mancio.

Pada periode pertama melatih Inter, Mancini mendapatkan dua keuntungan yang tidak akan didapatkannya lagi, setidaknya pada musim ini.

Pertama tentu saja dana melimpah dari Massimo Moratti yang kala itu masih menjabat sebagai presiden klub. Dengan pergantian manajemen dengan pengusaha asal Indonesia, Erick Thohir, menjadi presiden, Mancini harus siap bekerja dengan dana yang ketat.

Thohir sendiri telah mengungkapkan bahwa ia akan mengelola Inter seperti sebuah bisnis yang tentu saja akan sangat mempertimbangkan untung rugi.

"Sepakbola telah berubah," ujar Thohir. "Saya ingin menggunakan contoh Amerika Serikat, di mana olahraga seperti bisnis media, dengan pendapatkan datang dari iklan dan konten, dipadukan dengan produk industri untuk konsumen, menjual jersey dan produk-produk berlisensi."

Hal tersebut sebenarnya tidak terlalu cocok dengan 'gaya' Mancini dalam beberapa tahun terakhir. Setelah hengkang dari Inter pada 2008, ia berlabuh ke Manchester City, di mana ia mendapatkan runtuhan dana yang jauh lebih besar dari pemilik klub, dan kemudian ia bergabung dengan Galatasaray, namun pelatih asal Italia tersebut hanya bertahan selama sembilan bulan karena kekuatan finansial klub yang tidak sesuai dengan janji di awal.

Mancini kini harus bekerja dengan pemain-pemain era baru di Inter seperti Mateo Kovacic, Juan Jesus, Mauro Icardi atau Nemanja Vidic untuk bisa mengejar prestasi maksimal. Meski ditinggal pemain-pemain berpengalaman seperti Javier Zanetti, Diego Milito, Esteban Cambiasso dan Walter Samuel, Mancini tetap melihat skuat Nerazzurri masih memiliki potensi yang besar.

"Kami harus bekerja tanpa menghabiskan waktu," ujar Mancini kepada Corriere dello Sport. "Saya yakin tim ini kompetitif, tetapi jauh lebih baik dari apa yang terlihat di klasemen hari ini. Kami bisa melakukannya."

Dan yang kedua, Mancini kini tidak bisa lagi menikmati efek Calciopoli yang menerjang Serie A Italia pada 2006 silam. Saat itu, Inter mampu mendominasi Italia memanfaatkan melemahnya kekuatan para rival seperti Juventus dan AC Milan yang terbukti terlibat dalam skandal tersebut.

Praktis, Mancini hanya merasakan tekanan dari AS Roma yang bahkan berhasil menggagalkan tiga kesempatan juara Inter pada Coppa Italia 2007 dan 2008, dan juga pada Piala Super Italia 2007.

Kini, Juventus telah kembali ke performa terbaik, Si Nyonya Tua mampu bangkit sejak musim 2012 dengan terus meraih gelar Scudetto sejak saat itu, Roma juga terus konsisten menyodok di papan atas.

Eks pelatih Inter, Gian Piero Gasperini, pernah menyuarakan nada sumbang terhadap Mancini beberapa bulan silam: "Tanpa Calciopoli, [Mancini] tidak akan pernah memenangkan apapun. Itu pendapat saya, itu fakta."

Mampukah Mancini membuktikan kualitasnya tanpa dua faktor di atas?

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics