FOKUS: Ajax Kontra PSG, Penghasil Kontra Pemburu Pemain Berbakat

Apa jadinya bila dua tim yang memiliki karakteristik yang sangat berbeda dalam hal investasi pemain berhadapan satu sama lain?

ANALISIS AGUNG HARSYA & ANUGERAH PAMUJI

Ajax Amsterdam dan Paris St Germain akan saling berhadapan satu sama lain di matchday pertama fase grup Liga Champions besok.

Melihat karakter kedua tim, bisa dikatakan Ajax dan PSG bak dua kutub magnet. Apalagi bila berbicara mengenai bagaimana mereka memperkuat tim di setiap musimnya.

Ajax lebih percaya pada akademi sepakbola yang mereka miliki. Tak salah jika mereka banyak menelurkan pemain berbakat sejak beberapa dekade lalu.

Sementara PSG sedikit berbeda. Mereka lebih percaya pada akademi sepakbola yang dimiliki tim lain. Menyindir? Bisa jadi. Pasalnya terindikasi PSG memaksimalkan potensi sumber daya keuangan yang mereka miliki untuk mendatangkan pemain berbakat dari segala penjuru dunia.

Analis Goal Indonesia Anugerah Pamuji (PSG) dan chief editor Agung Harsya (Ajax) memberikan pandangan mereka jelang pertemuan kedua tim dinihari tadi.

Predikat sebagai pencetak pesepakbola muda terbaik di dunia adalah berkah dan kutukan bagi Ajax Amsterdam. Tidak hanya menghasilkan pemain bagus dari waktu ke waktu, model pembinaan Ajax banyak ditiru di negara lain guna menghasilkan pemain yang handal. Penjualan pemain juga menjadi salah satu sumber pemasukan utama klub.

Di sisi lain, penjualan pemain potensial menyebabkan Ajax kesulitan membangun tim yang sanggup bersaing di ajang Eropa. Ajax mungkin saja berbicara banyak jika mampu mempertahankan aset berharga mereka mulai dari Zlatan Ibrahimovic hingga Luis Suarez, Jan Vertonghen hingga Christian Eriksen.

Namun, pelatih Frank de Boer selalu dituntut memutar otak menyusun ulang susunan timnya dari musim ke musim. Sejak menangani Ajax akhir 2010 serta kemudian sukses merebut landskampioen empat musim beruntun, masuk akal jika kompetisi antarklub Eropa menjadi jenjang lebih tinggi bagi De Boer untuk mencetak prestasi.

Tantangan juga ditemui De Boer karena Ajax seperti dijauhi keberuntungan di Liga Champions karena selalu tergabung di grup berat. Tiga kali Ajax bertemu Real Madrid di fase grup dan kini untuk dua musim beruntun mereka berhadapan dengan Barcelona. AC Milan (dua kali), Olympique Lyon, Borussia Dortmund, Manchester City, dan Glasgow Celtic menjadi lawan berat lain yang pernah segrup dengan De Godenzonen.

Siem de Jong dan Daley Blind menjadi alumnus Ajax yang meninggalkan klub musim ini untuk hijrah ke level yang lebih tinggi di Liga Primer Inggris. Sebagai gantinya, De Boer mengambil Niki Zimling dari Mainz dan Nick Viergever dari AZ Alkmaar. Langkah perekrutan penting lainnya adalah meminjam striker muda Polandia, Arkadiusz Milik, dari Bayer Leverkusen. Para pemain muda menjadi tulang punggung Ajax dengan rata­rata usia skuat 22,8 tahun.

Menghadapi Paris Saint­ Germain, Rabu (17/9) malam, De Boer kemungkinan tidak bisa menurunkan Davy Klaassen yang mengalami cedera dalam pertandingan melawan Heracles Almelo akhir pekan lalu. Susunan tim yang tampaknya bakal diturunkan nanti memiliki nilai jual €44,5 juta. Jumlah itu masih di bawah biaya transfer David Luiz dari Chelsea.

Ajax seperti pelari maraton di bawah penanganan De Boer. Kunci sukses mereka di Eredivisie selama empat musim terakhir terletak pada konsistensi penampilan di paruh kedua musim. Jika dituntut harus segera menemukan performa terbaik, Ajax akan kesulitan mengatasi ketatnya persaingan Grup E Liga Champions musim ini yang dihuni Barcelona, PSG, dan APOEL Nicosia.

Ikuti AGUNG HARSYA di

Singkatnya, sebelum dibeli Qatar Investment Authority [QSI], Paris Saint-Germain merupakan klub yang kerap disesaki utang yang menggunung, hingga reputasi mereka sebagai klub ibu kota tak lebih dari sekadar tim semenjana.

Namun lanskap sepakbola Prancis seketika berubah ketika raja Qatar datang pada 2011 untuk membeli saham mayoritas klub. Puncaknya, pada 2012, QSI menjadi pemegang saham tunggal PSG setelah membeli keseluruhan klub ini dengan gelontoran €100 juta.

Wajah PSG berubah total! Setelah utang-utang tertutupi, mereka berubah menjadi klub terkaya di Prancis dan salah satu yang paling mewah di dunia. Hal ini dibuktikan dari aktivitas belanja jor-joran yang dilakukan mereka, yang setidaknya menjadi tradisi dalam empat musim terakhir. Bila Anda melihat komposisi pemain PSG saat ini, tak lain adalah hasil instan bentukan QSI selama kurun empat tahun berkuasa. Berbondong-bondong sejumlah bakat berlabel superstar diangkut. Nama seperti Javier Pastore, Zlatan Ibrahimovic, Thiago Silva, Marquinhos, Edinson Cavani hingga yang teranyar David Luiz, dengan mudahnya dirayu untuk merapat ke Parc des Princes.

Bila mengkalkulasi anggaran belanja selama periode 2011-2014 sejak diakuisisi QSI, €100 juta adalah kisaran nominal yang selalu dihabiskan setiap musimnya. Fantastis! Muara tujuannya memang ambisius: menguasai sepakbola Prancis dan Eropa. Dua musim berturut-turut PSG telah membuktikan dengan melaju mulus merajai Ligue 1. Bagaimana dengan pentas Eropa? Fondasi tim yang dibentuk dari kekayaan mulai memperlihatkan efek signifikan. Sudah dua musim terakhir PSG mampu mencapai fase perempat-final dengan tersingkir 'hanya' karena aturan gol tandang.

Di tengah ancaman Financial Fair Play, musim ini pun PSG masih mampu menyiasati perekrutan Luiz dari Chelsea. Dengan kian gemerlapnya skuat mereka, alumnus akademi klub semakin sulit berkembang dan memaksimalkan potensinya. Akibatnya, youngster seperti Hervin Ongenda dan Jean-Christophe Bahebeck 'dipaksa' untuk senantiasa mengelus dada karena kerap dioper ke sana-kemari untuk dipinjamkan. Syukur-syukur mereka masih bertahan. Talenta seperti Kingsley Coman memilih hengkang ke Juventus. Bahkan youngster paling menjanjikan di Prancis, Adrien Rabiot, pun kabarnya bersiap angkat koper pada Januari.

Ada kalanya klub mengambil jalan kesuksesan dengan mengoptimlakan kekuatan finansial mereka. Instan, tapi toh akhirnya ekspektasi juara yang dielu-elukan fans terpenuhi. Suporter mana yang tidak ingin klub kesayangannya meraih juara lokal hingga menembus ranah Eropa? Dan PSG sedang dalam perjalanan menuju pencapaian itu. Yah, mereka memang bukan penghasil, tapi pemburu bakat yang akan menghasilkan gelar demi gelar.

Ikuti ANUGERAH PAMUJI di

addCustomPlayer('8zsoo3iz1ey11dxuuxg1dkcox', '', '', 620, 540, 'perf8zsoo3iz1ey11dxuuxg1dkcox', 'eplayer4', {age:1407083239229});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics