FOKUS: Awal Baru Italia & Belanda Di Bari

Antonio Conte & Guus Hiddink memulai tugas baru, Kamis (4/9) malam ini. Apa yang bisa diharapkan dari mereka?

Italia akan menjamu Belanda pada laga uji coba internasional di Bari, Kamis (4/9) malam ini, dengan nuansa baru di bangku kepelatihan masing-masing.

Antonio Conte untuk kali pertama bakal mencicipi atmosfer internasional sebagai pelatih timnas Italia setelah mengundurkan diri dari jabatan pelatih Juventus bulan lalu. Sementara, di kubu tim tamu, Guus Hiddink kembali bertugas sebagai pelatih timnas Belanda setelah pada akhir 1990-an lalu pernah pula mendapatkan tanggung jawab serupa.

Dilihat dari pengalaman di level internasional, perbandingan Conte dan Hiddink sangat kentara. Conte belum memiliki pengalaman sama sekali, sedangkan Hiddink telah pula mencicipi bangku kepelatihan timnas Korea Selatan, Australia, Turki, dan Rusia. Jika menghitung pengalaman di level klub, kedua pelatih punya catatan mentereng. Conte sukses di Italia bersama Juventus. Hiddink mungkin lebih unggul karena sarat asam garam sepakbola di berbagai negara dengan gelar paling bergengsi meraih trofi Piala Champions 1988.

Lalu, apa yang bisa diharapkan dari kedua pelatih "debutan" ini pada periode kepelatihan mereka di timnas masing-masing? Dua pandit Goal Indonesia, Eric Noveanto dan Agung Harsya, membagikan pandangannya.

Eric Noveanto
"Mister Numero Uno Italia". Tidaklah mengejutkan ketika federasi sepakbola Italia (FIGC) memutuskan untuk mengangkat Antonio Conte sebagai pelatih kepala baru dengan menyisihkan nama-nama populer seperti Roberto Mancini, Alberto Zaccheroni dan Francesco Guidolin.

Masuk menggantikan sosok Cesare Prandelli, pelatih kelahiran Lecce itu langsung dihadapkan dengan tugas yang tidak mudah. Ia dituntut untuk mengembalikan kejayaan sepakbola Italia yang terpuruk belakangan ini, terutama setelah kegagalan besar di Piala Dunia 2014 lalu.

Situasi yang sama pernah membayangi Conte saat ditunjuk pertama kali menangani Juventus tiga tahun silam. Di sana, pria 45 tahun itu sukses menjawab kritik dan mengangkat performa Bianconeri dari periode terpuruk hingga meraih tiga scudetto secara beruntun. Optimisme yang sama kini diapungkan para fans dan publik Italia.

Dari sudut pandang taktikal permainan, Conte bisa dikatakan sebagai salah satu pelatih muda terbaik di dunia saat ini. Kemampuannya untuk memilih formasi dan taktik terbaik yang sesuai dengan komposisi skuat adalah kunci keberhasilannya di La Vecchia Signora. Perlu diingat juga sebelumnya Conte sempat mengantarkan dua klub (Siena dan Bari) promosi ke Serie A.

Kelebihan lainnya, Conte adalah sosok yang berkharismatik dan disiplin, plus memiliki gaya pendekatan luar biasa kepada para pemain. Dari segi pemilihan pemain, ia lebih mengedepankan pemain yang tengah dalam performa terbaik. Hal berbeda dari suksesornya yang hanya terpaku dengan nama-nama tertentu.

Dengan catatan kiprahnya tersebut, tak salah jika FIGC menaruh beban kepadanya. Di bawah komando Conte, Italia berpeluang untuk tampil lebih atraktif dan menemukan kembali kejayaan mereka.

Ikuti Eric Noveanto di

Agung Harsya
Ini merupakan periode kedua Hiddink menukangi timnas Belanda. Sebelumnya, Hiddink diserahi jabatan bondscoach dari tangan Dick Advocaat pada Tahun Baru 1995. Rekor di lima pertandingan awal Hiddink tidak impresif. Oranje mengalami empat kekalahan, dua di antaranya diderita di ajang kualifikasi Euro 1996.

Situasi serupa tapi tak sama terjadi pada periode kedua kepelatihan Hiddink saat ini. Sembilan belas tahun lalu, Hiddink memiliki tugas meregenerasi skuat Oranje. Para pemain juara Euro 1988 seperti Ruud Gullit, Ronald Koeman, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten telah mundur dari panggung internasional. Para penggantinya antara lain Frank de Boer, Dennis Bergkamp, Wim Jonk, dan para anak-anak muda Ajax Amsterdam yang kemudian sukses menggondol gelar Liga Champions 1995.

Saat ini Oranje pun mengalami proses regenerasi. Bedanya, para pemain muka baru Belanda berhasil memesona di Piala Dunia 2014 bersama Louis van Gaal dengan menembus babak empat besar. Padahal, mereka tak diperhitungkan sama sekali sebelum turnamen digelar. Hiddink berhadapan dengan standar yang tidak mudah disamai.

Namun, sisi positifnya Hiddink bakal mendapati para pemain muda yang sudah dibekali rasa percaya diri di level internasional. Sejumlah pemain timnas Belanda berpindah klub pada bursa transfer musim panas, seperti Daley Blind, Stefan de Vrij, Daryl Janmaat, dan Bruno Martins Indi. Ini pun meningkatkan kepercayaan diri serta pengalaman bermain mereka di lingkup yang lebih luas.

Tugas utama Hiddink adalah membangun harmoni dan memastikan mulusnya proses regenerasi hingga selesai Euro 2016 nanti. Danny Blind sudah disiapkan naik jabatan menggantikan Hiddink dua tahun ke depan guna menjamin kesinambungan program timnas Belanda. Dengan demikian, justru Hiddink lah yang menjadi batu loncatan bagi skuat Belanda untuk menyongsong masa depan.

Di bangku taktik, Hiddink adalah pelatih akomodatif yang tidak fanatik pada pola tertentu. Dengan cederanya Ron Vlaar pada pertandingan ini, tampaknya formasi empat bek akan kembali diterapkan. Pengalaman dan reputasi Hiddink juga bakal memudahkan komunikasi dengan anak buahnya.

Hiddink juga kerap mengabaikan penilaian personal dalam mengambil keputusan. Edgar Davids pernah berkonflik dan diusir dari skuat Euro 1996, tetapi menjadi andalan tim pada Piala Dunia dua tahun berselang.

Jadi, periode kepelatihan kedua Hiddink akan disambut dengan rasa respek, baik oleh skuat maupun para fans.

Ikuti Agung Harsya di

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics