FOKUS: Cesc Fabregas Di Barcelona, Top Atau Flop?

Fabregas dianggap outsider di Barcelona, tapi bagaimanakah penampilannya di tim Catalan tiga musim ke belakang ini?

OLEH DEWI AGRENIAWATI Ikuti di twitter

Gonjang-ganjing masa depan Cesc Fabregas di Barcelona kembali meletup. Bukan wacana baru memang, karena sejak awal dipulangkan ke Camp Nou oleh Pep Guardiola dari Arsenal tiga tahun silam, tak sedikit yang pesimistis dengan karier sang kapten meriam london, mengingat skuat Blaugrana sudah gemuk.

Tapi, demi mewujudkan mimpi membela klub masa kecil dan reuni dengan sejumlah teman-temannya, Fabregas akhirnya menerima pinangan Guardiola pulang ke Barcelona. Musim debutnya di The Catalans berjalan mulus. Di bawah komando Guardiola, Fabregas dimainkan 48 kali di semua kompetisi - 23 di antaranya sebagai starter - dan menggelontorkan 14 gol serta 20 assist. Catatan yang cukup mengagumkan untuk membawa Blaugrana merebut Copa del Rey untuk melengkapi gelar Supercopa de Espana, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub di awal kedatangannya.

Guardiola kemudian memutuskan meninggalkan Tim Catalan setelah mempersembahkan 14 trofi dalam kurun empat tahun. Sebagai orang yang paling berjasa membawa pulang Fabregas, kepergiannya dari Camp Nou sedikit banyak memberikan pengaruh kepada masa depannya. Rumor seputar nasibnya pun kembali mencuat meski akhirnya Fabregas memutuskan bertahan.

Di tangan Tito Vilanova, yang ditunjuk sebagai suksesor Guardiola, pemain 27 tahun kembali mendapat kepercayaan mengisi tempat. Jika di musim sebelumnya dia dimainkan di berbagai posisi, termasuk winger dan striker palsu, Fabregas kembali dipercaya mengisi peran lebih dalam, sebagai deep-lying playmaker maupun gelandang tengah. Hasilnya, pemain bernomor punggung empat ini 30 kali menembus pemain inti di La Liga atau diturunkan selama 2321 menit, angka ini mengungguli dua seniornya: Xavi Hernandez (24 kali inti atau 2191 menit) dan Andres Iniesta (24 kali inti atau 2095 menit).

Bahkan di musim keduanya, Fabregas berperan besar membawa Blaugrana mengumpulkan rekor 100 poin untuk mengunci titel juara. Pemain dengan tinggi 179 cm ini menggelontorkan 11 gol, tertinggi kedua di bawah Lionel Messi pun dengan torehan 14 assist-nya, yang hanya selisih dua dari Iniesta sebagai penyuplai terbanyak kala itu.

Tiga musim di Barca, tiga kali pula Fabregas merasakan pelatih yang berbeda setelah Vilanova terpaksa mundur untuk fokus pada kesehatannya. Keputusan entrenador anyar Gerardo Martino melakukan rotasi terutama di lini tengah, membuat Fabregas harus siap dibongkar-pasang. Meski beberapa kali dimainkan sebagai striker palsu, Fabregas tetap lebih sering ditempatkan sebagai gelandang tengah oleh mantan pembesut Newell’s Old Boys.

Blaugrana terpuruk di musim lalu dengan hanya mendapat gelar Supercopa de Espana sebelum kampanye 2013/14 dimulai, tapi jika melihat statistik penampilan Fabregas secara individu, perannya tak bisa dianggap remeh. Fabregas mengantungi total 55 penampilan — 44 inti dan 29 ditarik keluar — menjadi angka tertinggi setelah tiga musim di Barca.

Ditempatkan dengan peran lebih ke dalam, catatan gol Fabregas memang menurun dibandingkan dua musim sebelumnya tapi melihat 19 assist - tertinggi di Barca musim lalu - yang dia berikan di La Liga akan membuat orang berpikir ulang untuk mengatakan mantan skipper Arsenal ini tak punya kontribusi di The Catalans.

Namun, walau memiliki catatan yang tak begitu mengecewakan, Fabregas tetap dianggap sebagai “outsider” di Barcelona, berbeda saat masih berseragam Arsenal ketika dia tidak hanya jadi pemain kunci, tapi juga pemimpin sekaligus ikon klub.

Tampil di klub besar seperti Barcelona yang dihuni para bintang dan harus main di tiga kompetisi di hampir sepanjang musim, sulit bagi pemain untuk merebut posisi inti di setiap pertandingan. Maka rotasi adalah salah satu cara pelatih untuk menjaga timnya untuk tetap kompetitif dan inilah yang terjadi pada Fabregas sehingga dia tampak tidak memiliki peran meski berdasarkan statistiknya tiga musim ke belakang mengatakan sebaliknya.

Gerard Pique bahkan mengatakan rekan setim sekaligus kompatriotnya di tim nasional Spanyol kurang diapresiasi di Barcelona. Situasi ini dimanfaatkan klub peminat untuk membujuk Fabregas melepaskan seragam Blaugrana dengan jaminan tempat utama di tim baru. Chelsea, yang pasti ditinggal Frank Lampard, termasuk paling ngebet mendatangkan sang gelandang untuk menambal kekosongan di lini tengah. Pelatih Jose Mourinho bahkan mengaku terus memonitori situasi ayah satu anak ini.

“Saya pikir dia ingin meninggalkan Barcelona dan sangat termotivasi dengan ide kembali ke Inggris. Saya pikir itu sangat jelas. Setelah itu, apakah dia bergabung dengan kami atau orang lain, bukan pertanyaan untuk sekarang, besok atau sebelum Piala Dunia. Kami tertarik melihat bagaimana situasi ini berkembang,” tutup The Special One.

Memutuskan angkat kaki dari Barca bisa menjadi cara Fabregas kembali mendapat pengakuan seperti ketika di Arsenal. Tapi, bukan berarti dia tak memiliki peluang bangkit di klub masa kecilnya. Kedatangan Luis Enrique sebagai pelatih anyar serta rumor hengkangnya Xavi bisa menjadi pertimbangan bagi Fabregas untuk menentukan masa depan.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics