FOKUS: Duel Seru Amunisi Muda Ajax Amsterdam Versus PSV Eindhoven

Duel seru Ajax Amsterdam dan PSV Eindhoven, Minggu (24/8), bakal diramaikan dengan pertemuan para pemain andalan yang masih berusia di bawah 21 tahun!

OLEH AGUNG HARSYA Ikuti @agungharsya di twitter

Sejak revolusi sepakbola modern dicetuskan Rinus Michels pada 1970-an, sepakbola Belanda mengembangkan program pembinaan sepakbola usia muda yang disokong penuh asosiasi setempat dengan mengangkat kualitas kepelatihan dan pelatihan di seluruh negeri.

Kebijakan itu mendorong produksi pemain muda Belanda seperti mengalir tanpa henti. Satu generasi pemain akan digantikan generasi berikutnya dengan kualitas yang tak kalah jauh. Generasi Marco van Basten muncul dan pensiun, kemudian dilanjutkan generasi Dennis Bergkamp dan selanjutnya muncul pula Patrick Kluivert dan lain-lain. Generasi terkini masih berkisar di antara Robin van Persie dan kawan-kawan, tapi akan segera digantikan generasi berikutnya.

Pertemuan seru Ajax Amsterdam dan PSV Eindhoven pada Speelronde 3 Eredivisie Belanda, Minggu (24/8) esok, menonjolkan pula para pemain muda di klub masing-masing yang mulai disorot publik.

Ajax kembali mempromosikan pemain-pemain muda produk akademi sendiri setelah revolusi velvet Johan Cruyff diterapkan mulai lima tahun silam. Kebijakan ini meluruskan kembali arah kebijakan klub yang sempat merogoh banyak dana guna berbelanja pemain di bursa transfer.

PSV dikenal memiliki kutub yang berseberangan dengan Ajax. Klub milik perusahaan elektronik ternama ini gemar mengumpulkan sederetan pemain terbaik Belanda dalam satu tim. Kebijakan itu pun juga diterapkan plus mengimbanginya dengan memberi kesempatan kepada pemain akademi.

Menariknya, kedua klub memiliki skuat dengan rata-rata usia termuda di Eredivisie musim ini. Ajax memiliki rata-rata usia 22,3 tahun, sedangkan PSV 22,1 tahun. Keduanya hanya kalah dengan Heerenveen, 22 tahun.

Untuk meramaikan pertemuan mereka di liga esok hari, ini dia masing-masing tiga pemain andalan meski masih berusia di bawah 21 tahun.

Tidak terlihat kebingungan sedikit pun pada diri Frank de Boer saat melepas Christian Eriksen ke Tottenham Hotspur, awal musim lalu. Kepindahan Eriksen adalah kerugian besar bagi Ajax, tapi De Boer rupanya sudah siap mempromosikan bakat baru menggantikan posisi gelandang asal Denmark itu.

Klaassen sudah memulai debut senior pada November 2011. Pada musim 2011/12 itu, Klaassen menjadi kapten tim junior Ajax ke final NextGen Series sebelum dikalahkan Internazionale. Langkahnya masuk skuat utama Ajax terhambat ketika mengalami cedera panjang. Kesempatan baru didapat saat Eriksen hijrah awal musim 2013/14.

Meski menunggu lama untuk mengukir reputasi di skuat utama, Klaassen tak butuh waktu buat beradaptasi. Desember tahun lalu dia mencetak hat-trick pertamanya buat Ajax. Penampilannya terus meningkat hingga Louis van Gaal memberinya kesempatan tampil di timnas Belanda, Maret lalu, serta masuk skuat bayangan Piala Dunia.

Dengan tampil debut di timnas Belanda, Klaassen menjadi pemain Ajax ke-100 yang tampil di level internasional sepanjang sejarah.

Klaassen tampil 36 kali musim lalu di segala ajang dengan mencetak 11 gol. Perannya tidak perlu lagi dipertanyakan sehingga nomor punggung 10 milik kapten Siem de Jong pun diwariskan kepadanya. Bukan pula tidak mungkin Klaassen segera menjadi kapten Ajax di masa datang.

Kesempatan tampil di level lebih tinggi didapat Kishna ketika disertakan De Boer dalam kamp latihan musim dingin Ajax di Turki, Januari lalu. Pemain yang bergabung di akademi Ajax sejak usia 15 tahun ini dengan cepat meraih kepercayaan. Buktinya, De Boer memutuskan tidak lagi mengembalikan Kishna berlatih di tim U-19 selepas berlatih di Turki.

Ajax bertindak cepat mengamankan jasa Kishna. Bukan rahasia lagi kalau klub-klub top Liga Primer Inggris antara lain seperti Liverpool dan Manchester City tertarik merekrut sang calon bintang. Kontrak baru pun disodorkan dan disepakati medio Januari.

Debut Kishna di level senior klub ditandai sebulan berselang. Setelah tampil di ajang Liga Europa, Kishna kembali diturunkan De Boer pada pertandingan melawan AZ Alkmaar. Pada debut Eredivisie itu, Kishna mencetak gol setelah tampil sebagai pemain pengganti di babak kedua.

Kishna memiliki tipe permainan sayap flamboyan yang gemar menggiring bola serta mengiris pertahanan lawan. Posisi kegemarannya adalah penyerang sayap kiri. Musim ini bisa menjadi kesempatan bagus bagi Kishna untuk memperkenalkan kemampuannya itu bagi fans sepakbola dunia.

Jika Klaassen dan Kishna sudah lebih dahulu dikenal dan memperkenalkan diri musim lalu, ini dia calon bintang berikutnya dari De Toekomst. Namanya Anwar El Ghazi, pemain keturunan Maroko, dan musim lalu tercatat sebagai pencetak gol terbanyak Ajax di segala level kelompok usia. El Ghazi bahkan sudah memesona di dua laga awal Eredivisie musim ini dengan menyumbangkan satu gol dan satu assist.

El Ghazi memiliki kemampuan yang komplet. Mampu bermain di semua posisi di lini depan sama baiknya, baik di sektor sayap maupun sebagai penyerang tengah. Gol perdana di level senior ke gawang AZ musim lalu memperlihatkan kelebihannya itu. Mendapat bola di luar kotak penalti, El Ghazi melihat celah melepaskan tembakan keras nan akurat ke pojok kanan atas gawang lawan.

Jika mampu mempertahankan konsistensi serta mau menjauhi hingar bingar popularitas yang kerap mendera pesepakbola usia muda, karier El Ghazi bakal melejit setinggi-tingginya.

Pilihan Rekik bergabung ke PSV musim lalu adalah keputusan yang tepat baik bagi kedua belah pihak. Sejak musim 2013/14 dimulai, Rekik menjadi pilihan tak tergantikan di lini belakang PSV. Hanya cedera yang membuatnya tampil hanya dalam 25 pertandingan Eredivisie.

Total 31 penampilan diukir Rekik musim lalu di semua ajang yang diikuti PSV. Jumlah itu jauh melampaui catatan penampilannya sejak meniti karier di Inggris bersama Manchester City. Ketenangan penampilan Rekik juga jauh melampaui usia mudanya.

Namun, Rekik memang membutuhkan banyak jam terbang untuk mematangkan kemampuan sebagai bek berkelas. Keputusan bergabung lagi ke PSV dengan status pinjaman musim ini lagi-lagi dirasa sangat tepat bagi kedua kubu.

Musim lalu, beban ekspektasi menghambat performa Maher untuk PSV. Maher didatangkan dari AZ dengan rekor transfer €6,5 juta setelah melalui proses negosiasi yang berliku. Selain itu, Maher datang dengan status sebagai peraih penghargaan Bakat Terbaik Eredivisie Musim 2012/13.

Sayangnya, konsentrasi Maher seperti terpecah. Sorotan publik rupanya menyulitkan proses adaptasi dengan PSV. Di sisi lain, Philip Cocu dinilai belum bisa melihat posisi terbaik Maher. Posisinya kerap bertabrakan dengan Ola Toivonen sehingga akhirnya gelandang Swedia itu dilepas PSV pada bursa transfer musim dingin.

Maher menunjukkan perkembangan ke arah yang menggembirakan di awal musim ini. Meski masih kerap inkonsisten dan tidak mangkus, Maher tercatat telah menciptakan 16 peluang untuk rekan-rekan setimnya. Tertinggi di antara pemain PSV lain.

Di antara semua pemain dalam artikel ini, Depay yang paling tidak membutuhkan perkenalan lagi. Produk akademi PSV ini meraih pamor setelah tampil cemerlang di Piala Dunia 2014 bersama timnas Belanda. Dua gol dicetaknya plus status nominator pemain muda terbaik turnamen.

Tak ayal lagi, klub-klub top Eropa ingin memiliki jasanya. Manchester United dan Tottenham Hotspur disebut-sebut sebagai pemain yang paling ingin mendapatkan Depay, tapi seperti yang disarankan legenda Ruud Gullit, bertahan lebih lama di PSV tidak akan berdampak negatif bagi sang pemain.

Usia Depay baru 20 tahun dan penampilannya masih terus dapat meningkat. Seperti yang telah disuguhkan awal musim ini. Depay mencetak empat gol dalam dua pertandingan Eredivisie, dengan dua gol terakhir disarangkan melalui eksekusi tendangan bebas.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics